periskop.id – Mantan Hakim Konstitusi Arief Hidayat membagikan cerita jenaka namun penuh makna mengenai keluarganya dalam acara pelepasan purnabakti di Mahkamah Konstitusi (MK). 

Ia mengisahkan putranya yang sengaja memilih Kota Solo sebagai tempat kelahiran sang cucu dengan harapan kelak dapat menapaki jejak kepemimpinan nasional.

“Anak saya, Angga, mengatakan 'Ini katanya sudah di USG anak saya laki-laki. Berarti cucu bapak nanti laki-laki. Biar lahir di Solo ya, karena kalau lahir di Solo bisa jadi presiden atau wakil presiden',” kata Arief menirukan ucapan putra bungsunya di Gedung MK, Jakarta, Rabu (4/2).

Gelak tawa hadirin langsung pecah mendengar penuturan polos tersebut. Arief menjelaskan putranya meyakini kota kelahiran Presiden Joko Widodo itu memiliki "berkah" tersendiri bagi siapa saja yang ingin berkiprah di panggung politik nasional.

Keyakinan akan tuah Kota Bengawan itu menjadi alasan kuat di balik keputusan pemilihan lokasi persalinan. Padahal, keluarga mereka sebenarnya memiliki opsi untuk melahirkan di Semarang.

“Katanya begitu. Karena Solo itu berkahnya Indonesia, katanya begitu,” jelas Arief.

Di balik candaan tersebut, terselip harapan tulus seorang kakek. Arief mendoakan agar cucu laki-lakinya itu kelak tumbuh menjadi sosok pemimpin yang amanah jika takdir benar-benar membawanya ke istana.

Doa tersebut menjadi pesan moral penting bagi generasi penerus keluarganya. Ambisi politik, menurut Arief, harus dibarengi dengan integritas yang tinggi.

“Tapi, jadi Presiden atau Wakil Presiden yang baik. Itu doa saya pada cucu saya yang terakhir yang laki-laki ini,” ungkapnya.

Cerita ini menjadi pelengkap kisah personal Arief yang sebelumnya sempat menyayangkan kedua anaknya lebih memilih menjadi dosen ketimbang terjun ke politik. Putra bungsu yang ia ceritakan kini tercatat sebagai pengajar di Universitas Sebelas Maret (UNS).

Selain kisah keluarga, Arief juga memberikan sinyal mengenai masa depannya pasca-pensiun. Sembari menutup pidato, ia melontarkan kelakar filosofis tentang arah turun dari mimbar yang dimaknai sebagai kelanjutan karier.

“Terima kasih. Yang terakhir begini, kalau naik mimbar turunnya dari sini supaya kariernya mengalir. Siapa tahu setelah di sini saya punya jembatan lain lagi,” pungkas Arief.

Sebagai informasi, Arief Hidayat resmi mengakhiri 13 tahun pengabdiannya sebagai pengawal konstitusi. Pemberhentian hormatnya disahkan melalui Keputusan Presiden Nomor 9-P Tahun 2026 yang diteken Presiden Prabowo Subianto, berlaku mulai 3 Februari 2026.