Periskop.id - Fenomena remaja putri di Jepang yang menjadikan kecerdasan buatan (AI) sebagai tempat curhat semakin menonjol. Survei terbaru Kantor Kabinet Jepang menunjukkan, 52,4% remaja putri yang menggunakan AI generatif berkonsultasi terkait masalah pribadi, menjadikan kelompok ini pengguna tertinggi dibandingkan usia dan gender lain.
Survei daring yang dilakukan Februari 2026 terhadap 1.442 pengguna AI generatif dari remaja hingga usia 70 tahun ke atas menemukan, tujuan utama penggunaan AI sehari-hari adalah pencarian informasi (76,4%), penulisan dan penyuntingan teks (33,9%), serta konsultasi masalah pribadi (23,3%).
Menariknya, 38,6% responden menyatakan cukup atau sangat mempercayai saran AI dalam hal hubungan personal dan interaksi sosial. Angka kepercayaan ini melonjak hingga 63,1% di kalangan remaja putri. Sekitar 10% responden juga mengaku AI membantu mengurangi rasa kesepian.
Selain remaja putri, lebih dari 30% perempuan usia 20–40 tahun juga menggunakan AI untuk curhat, sementara laki-laki di semua kelompok usia tercatat kurang dari 30%. Pengguna tertinggi di kalangan laki-laki adalah mereka yang berusia 30-an, dengan angka 29,1%.
Data tambahan dari riset pendidikan di Jepang menunjukkan hampir 80% pelajar SMP–SMA menggunakan ChatGPT atau Gemini, dengan hampir setengah siswi perempuan memanfaatkan AI untuk berbagi cerita atau meminta saran.
Fenomena Global
Fenomena ini bukan hanya terjadi di Jepang. Riset internasional menemukan, Gen Z dan Milenial di berbagai negara juga menjadikan AI sebagai ‘teman emosional’ yang dianggap aman untuk berbagi cerita. Di Indonesia, survei 2025 mencatat 81,1% Gen Z pernah curhat ke AI, dibandingkan 63,6% Milenial.
Secara positif, AI membantu remaja mengurangi rasa kesepian, mempercepat pencarian informasi, dan menyediakan ruang aman untuk berbagi. Di balik itu, ada risiko ketergantungan berlebihan dapat mengurangi kemampuan berpikir mandiri dan interaksi sosial nyata.
Singkatnya, keseimbangan antara pemanfaatan AI dan interaksi manusia tetap menjadi tantangan penting agar generasi mendatang tidak kehilangan ruang sosial nyata. Di sisi lain, pemerintah dan sekolah dapat memanfaatkan tren ini untuk program edukasi digital, sekaligus memperkuat literasi emosional dan sosial.
Tinggalkan Komentar
Komentar