Periskop.id - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa prevalensi penduduk penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 2,17% dari total penduduk usia 5 tahun ke atas. 

Data ini diperoleh dari hasil Survei Penduduk Antar Sensus atau SUPAS 2025, yang menjadi salah satu rujukan utama dalam memotret kondisi sosial masyarakat Indonesia.

Angka tersebut mencerminkan proporsi masyarakat yang mengalami berbagai bentuk kesulitan atau keterbatasan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. 

Dengan kata lain, lebih dari dua persen penduduk Indonesia menghadapi tantangan fungsional dalam kehidupan mereka, baik dalam aspek fisik, kognitif, maupun sosial.

Dalam penjelasannya, BPS menggunakan pendekatan berbasis kesulitan fungsional untuk mendefinisikan penyandang disabilitas. 

Penduduk yang masuk dalam kategori ini adalah individu yang banyak mengalami kesulitan, gangguan, atau keterbatasan dalam melakukan aktivitas, hingga kondisi di mana seseorang sama sekali tidak dapat beraktivitas.

Pendekatan ini dinilai lebih komprehensif karena mampu menangkap spektrum kondisi disabilitas yang beragam. Tidak hanya mencakup kondisi berat, tetapi juga tingkat kesulitan yang lebih ringan namun tetap berdampak pada kehidupan sehari-hari.

Jenis Kesulitan yang Dialami Penduduk

Data BPS juga merinci jenis kesulitan fungsional yang dialami penduduk Indonesia. Hasilnya menunjukkan adanya variasi yang cukup signifikan antarjenis disabilitas.

Kesulitan berjalan atau naik tangga menjadi jenis kesulitan yang paling banyak dialami, dengan persentase sebesar 0,95%. Hal ini menunjukkan bahwa mobilitas fisik masih menjadi tantangan utama bagi sebagian masyarakat.

Di posisi berikutnya, kesulitan berkomunikasi tercatat sebesar 0,59%. Disusul oleh kesulitan dalam mengurus diri sendiri, seperti makan, mandi, atau berpakaian, yang mencapai 0,55%.

Selain itu, kesulitan dalam mengingat atau berkonsentrasi juga cukup signifikan, yakni sebesar 0,46%. Kondisi ini berkaitan dengan kemampuan kognitif yang memengaruhi aktivitas sehari-hari, termasuk belajar dan bekerja.

Kesulitan melihat tercatat sebesar 0,45%, diikuti kesulitan mendengar sebesar 0,41%. Kedua jenis kesulitan ini termasuk dalam kategori disabilitas sensorik yang berdampak langsung pada interaksi individu dengan lingkungan sekitarnya.

Sementara itu, kesulitan dalam menggunakan atau menggerakkan tangan dan jari mencapai 0,35%. Jenis kesulitan ini umumnya berkaitan dengan kemampuan motorik halus yang penting dalam berbagai aktivitas, seperti menulis atau memegang benda.

Adapun gangguan perilaku atau emosional menjadi jenis kesulitan dengan persentase terendah, yakni sebesar 0,30%. Meski demikian, aspek ini tetap penting karena berkaitan dengan kesehatan mental dan interaksi sosial individu.