Periskop.id - Generasi Z (Gen Z) ternyata menjadi generasi yang paling romantis sekaligus yang paling ragu-ragu dalam urusan asmara. 

Sebuah studi terbaru bertajuk The Human Connection Study mengungkapkan adanya fenomena unik: mayoritas Gen Z sangat percaya pada cinta sejati, namun di sisi lain, mereka merasa takut dan belum siap untuk menjalin hubungan berkomitmen.

Survei yang melibatkan 2.500 lajang di Amerika Serikat ini digagas oleh The Harris Poll bersama Match Group dan The Kinsey Institute. 

Hasilnya mengejutkan, sebanyak 80% Gen Z percaya bahwa mereka akan menemukan cinta sejati. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata kelompok lajang lainnya yang hanya 57%. 

Kendati demikian, hanya 55% dari Gen Z yang merasa benar-benar siap untuk menjalani hubungan romantis saat ini. Kondisi inilah yang disebut para peneliti sebagai "kesenjangan kesiapan" (readiness gap).

Mengapa Gen Z Begitu Ragu?

Riset ini menemukan bahwa keraguan Gen Z bukan karena mereka tidak percaya pada cinta, melainkan karena besarnya standar dan tekanan yang mereka buat sendiri. 

Berbeda dengan generasi terdahulu, Gen Z menetapkan "syarat mental" yang cukup berat sebelum mereka mengizinkan diri mereka sendiri untuk jatuh cinta.

Bagi Gen Z, seseorang baru dianggap siap pacaran jika sudah memenuhi kriteria berikut:

  • Bisa menetapkan batasan diri yang sehat (42%)
  • Sudah merasa nyaman dan bahagia hidup sendirian (41%)
  • Merasa hidupnya sudah terpenuhi secara pribadi (41%)
  • Sedang aktif berinvestasi dalam pertumbuhan karakter (37%)
  • Memiliki lingkaran pertemanan yang kuat dan stabil (36%)

Selain standar internal yang tinggi, faktor trauma masa lalu dan media sosial juga memegang peran besar. Hanya 37% Gen Z yang melihat hubungan orang tua mereka bahagia (berbanding terbalik dengan generasi Boomers yang mencapai 52%).

Ketakutan akan perceraian membuat Gen Z merasa mereka harus "sempurna dan matang secara emosional serta finansial" sebelum berani berkomitmen. Ditambah lagi, paparan media sosial membuat sebuah hubungan terasa terlalu diumbar ke publik, yang akhirnya meningkatkan kecemasan mereka akan kegagalan.

Menariknya, pandangan ini mengubah cara pandang Gen Z dalam menggunakan teknologi. Aplikasi kencan kini tidak lagi sekadar menjadi alat instan untuk mencari pacar, melainkan wadah untuk belajar memahami diri sendiri.

Sebanyak 80% responden mengaku bahwa aplikasi kencan membantu mereka mengenali kepribadian diri sendiri, dan 87% merasa terbantu untuk memperjelas kriteria pasangan yang sebenarnya mereka inginkan. 

Selain itu, teknologi ini juga dipakai oleh 81% pengguna untuk belajar bagaimana cara menolak atau membuat batasan (boundaries) yang sehat dengan orang lain.

Catatan Penting

Melihat fenomena ini, para ahli mengingatkan Gen Z agar tidak terjebak dalam standar kesiapan yang terlalu kaku. 

Justin Garcia, Direktur Eksekutif The Kinsey Institute, menjelaskan bahwa kemandirian yang berlebihan terkadang bisa menjadi bumerang. 

Ketika seseorang sudah bisa menghidupi diri sendiri, membayar tagihan sendiri, dan memenuhi kebutuhannya sendiri, mereka cenderung berpikir tidak butuh pasangan selain untuk teman nonton bioskop agar tidak kesepian.

"Ketika kita memisahkan secara kaku antara 'kebutuhan' dan 'keinginan', kita sebenarnya sedang menutup peluang bagi diri sendiri dan calon pasangan untuk saling membantu, belajar, dan berkembang bersama," ujar Dr. Garcia.

Senada dengan hal tersebut, Amelia Miller, peneliti dari Match Group’s Human Connections Lab, menyoroti dampak media sosial dan kecerdasan buatan (AI) yang membuat Gen Z terbiasa dengan hal-hal yang instan dan bisa dikontrol. 

Menurutnya, Gen Z menganggap kerumitan hubungan manusia adalah sesuatu yang harus dihindari. Padalah, sifat cepat terluka (vulnerability) dan konflik-konflik kecil justru merupakan bumbu utama untuk membangun keintiman yang mendalam.

Pada akhirnya, para ahli menyarankan generasi muda untuk tidak menunggu sampai diri mereka "100% siap dan sempurna" baru memulai hubungan. Sebab, proses pendewasaan dan pengenalan jati diri yang sesungguhnya justru akan lebih terbuka ketika kita berani berproses dan bertumbuh bersama orang lain.