Periskop.id - Generasi Z sering kali menjadi sasaran kritik pedas karena dianggap terlalu sering mengeluh mengenai beban kerja kantoran atau kesulitan mereka dalam menembus pasar tenaga kerja. 

Namun, berbagai penelitian terbaru mulai mengonfirmasi bahwa kekhawatiran dan keluhan mereka bukanlah tanpa alasan. Fakta menunjukkan bahwa para pengkritik dari generasi Milenial maupun Gen X dahulu memiliki jalur yang jauh lebih mulus saat mencari pekerjaan pertama mereka.

Berdasarkan studi Kickresume yang dikutip oleh Fortune pada Minggu (17/5), sekitar 58% mahasiswa yang lulus antara tahun 2024 dan 2025 masih terus berjuang mencari pekerjaan pertama mereka. 

Angka ini menunjukkan kesenjangan yang lebar jika dibandingkan dengan lulusan tahun-tahun sebelumnya, di mana hanya 25% dari generasi pendahulu yang merasakan kesulitan serupa setelah menyelesaikan bangku kuliah.

Kesenjangan Peluang

Anggapan bahwa Gen Z kurang memiliki ambisi dalam mencari kerja mulai terpatahkan oleh data statistik. Studi tersebut memaparkan bukti nyata bahwa generasi terdahulu memang bisa langsung terjun ke dunia profesional dengan kemudahan yang tidak lagi ditemukan saat ini.

Data menunjukkan hampir 40% lulusan dari generasi sebelumnya sudah berhasil mengamankan pekerjaan penuh waktu bahkan sebelum upacara kelulusan mereka dilaksanakan. Sebaliknya, hanya 12% dari lulusan Gen Z angkatan 2024/2025 yang bisa mendapatkan posisi serupa. 

Hal ini secara otomatis membuat para pencari kerja muda saat ini tiga kali lebih kecil kemungkinannya untuk memiliki kepastian karier sesaat setelah mereka meraih gelar sarjana.

“Perjalanan dari ruang kelas menuju karier tidak pernah benar-benar sederhana. Namun, jelas bahwa lulusan hari ini memasuki pasar kerja yang lebih tidak pasti, lebih digital, dan bisa dibilang lebih menuntut daripada sebelumnya,” ungkap para peneliti sebagai catatan penting mengenai situasi ini.

Fenomena NEET dan "Job Hunting" Sebagai Pekerjaan Penuh Waktu

Kondisi pasar kerja saat ini, terutama bagi sektor pekerja kerah putih, memang berada dalam situasi yang sangat berat. 

Sekitar 20% pencari kerja tercatat telah menghabiskan waktu setidaknya 10 hingga 12 bulan hanya untuk melamar pekerjaan. Lebih memprihatinkan lagi, sekitar 40% pengangguran melaporkan bahwa mereka tidak mendapatkan satu pun panggilan wawancara sepanjang tahun 2024.

Bagi banyak anak muda, proses mencari pekerjaan kini telah berubah menjadi "pekerjaan penuh waktu" karena intensitas dan tingkat kesulitan yang tinggi. Tekanan semakin bertambah seiring dengan melonjaknya biaya pendidikan tinggi yang tidak dibarengi dengan ketersediaan lapangan kerja yang memadai.

Dampaknya, saat ini terdapat sekitar 4,3 juta anak muda yang menyandang status NEET (Not in Employment, Education, or Training). Istilah ini merujuk pada individu yang tidak sedang menempuh pendidikan, tidak bekerja, dan tidak sedang mengikuti pelatihan keterampilan apa pun.

Mulailah dari Mana Saja

Melihat situasi yang kurang menguntungkan ini, para peneliti dari Kickresume memberikan saran pragmatis bagi para lulusan baru. 

Mereka mendorong anak muda untuk segera masuk ke jenjang karier sesegera mungkin, meskipun posisi yang tersedia tidak sesuai dengan bidang studi atau pekerjaan impian mereka. Menunggu pekerjaan ideal di tengah pasar yang sedang lesu dianggap sebagai risiko yang terlalu besar.

Para peneliti menekankan pentingnya mengubah pola pikir mengenai langkah awal dalam dunia profesional.

“Kami sering mengatakan kepada lulusan agar tidak terlalu stres soal pekerjaan pertama mereka. Itu hanyalah titik awal, bukan hukuman seumur hidup,” kata mereka.

Dengan demikian, meskipun tantangan yang dihadapi jauh lebih berat dan menuntut kemampuan digital yang lebih tinggi, mengambil langkah pertama di dunia kerja tetap menjadi prioritas utama untuk membangun rekam jejak profesional di masa depan.