periskop.id - Generasi Z sering kali digambarkan sebagai generasi yang penuh kreativitas dan inovatif. Namun, berdasarkan temuan dan ahli saraf di Amerika Serikat, Generasi Z dinilai memiliki tingkat kecerdasan yang menurun dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
Melansir dari Times of India, terdapat temuan yang menunjukkan bahwa Generasi Z yang lahir di akhir tahun 1990-an hingga 2010-an, menjadi generasi pertama yang memiliki tingkat kognitif yang lebih rendah dibandingkan generasi sebelumnya. Penurunan tersebut dilihat dari perhatian, daya ingat, pemecahan masalah, dan IQ.
Fenomena ini pun menempatkan Generasi Milenial sebagai generasi terakhir yang memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan generasi penerusnya.
Ketergantungan Teknologi Digital dalam Pembelajaran
Menurut ahli saraf asal Amerika Serikat, Dr. Jared Cooney Horvath, individu yang lahir antara tahun 1997 hingga 2010 cenderung memiliki tingkat kecerdasan yang lebih rendah akibat tingginya ketergantungan pada teknologi digital dalam proses pembelajaran di sekolah. Ia menjelaskan bahwa pola belajar yang bertumpu pada layar gadget, penyajian informasi yang disederhanakan, dan penggunaan format video berdurasi pendek dapat berdampak pada perkembangan kognitif.
Lebih lanjut, Dr. Horvath menegaskan bahwa otak manusia pada dasarnya tidak dirancang untuk terus-menerus menerima informasi melalui video singkat atau memahami gagasan kompleks hanya dari rangkuman. Kondisi tersebut menyebabkan proses pemahaman materi menjadi kurang optimal dan berpotensi menurunkan skor IQ. Kebiasaan belajar melalui video pendek, informasi instan, dan jawaban cepat dari gadget juga dinilai dapat menghambat kemampuan berpikir analitis dan kritis.
Paparan Layar yang Cukup Mendominasi
Saat ini, generasi muda cenderung menghabiskan banyak waktu dengan gawai sehingga terbiasa menerima informasi dalam bentuk singkat dan cepat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dominasi penggunaan gawai dapat berdampak pada menurunnya rentang perhatian, melemahnya daya ingat, dan ketidakmampuan menghadapi tugas-tugas yang menuntut kemampuan kognitif tingkat tinggi.
Kebiasaan menerima informasi yang terus berganti dalam waktu singkat membuat otak terlatih untuk merespons secara instan. Akibatnya, kemampuan otak untuk mempertahankan fokus dalam jangka waktu yang panjang menjadi kurang terasah.
Turunnya Minat Membaca
Paparan gadget yang terlalu tinggi membuat minat membaca di kalangan generasi muda menunjukkan penurunan. Berdasarkan laporan National Literacy Trust tahun 2024 yang dikutip oleh Times of India, di Amerika Serikat dan Inggris hanya satu dari tiga anak berusia 8–18 tahun yang gemar membaca pada waktu luang, sementara hanya satu dari lima anak yang secara rutin membaca setiap hari.
Selain itu, studi dari Universitas Harvard mengungkapkan bahwa kemampuan menguraikan bahasa tulis mulai berkembang sejak usia sekitar 18 bulan. Apabila anak tidak memperoleh akses membaca yang memadai sejak dini, tingkat literasi mereka berpotensi menurun yang pada akhirnya akan berdampak pada lemahnya pemahaman dan kemampuan berpikir kritis.
Adanya Perdebatan di Antara Para Ahli
Sejumlah ahli masih meragukan klaim bahwa kecerdasan manusia benar-benar mengalami penurunan. Beberapa peneliti menilai bahwa tes IQ konvensional belum sepenuhnya mampu mengukur bentuk-bentuk kemampuan kognitif baru, seperti kecepatan menangkap informasi, kecakapan dalam navigasi digital, dan kemampuan melakukan multitasking.
Di sisi lain, terdapat bukti yang menunjukkan adanya perubahan kognitif yang dipengaruhi oleh faktor eksternal, antara lain tekanan ekonomi, terganggunya proses pembelajaran akibat pandemi, kurangnya waktu tidur, dan meningkatnya masalah kesehatan mental di kalangan generasi muda.
Meskipun demikian, belum dapat dipastikan apakah perubahan tersebut benar-benar berdampak pada tingkat kecerdasan secara keseluruhan atau hanya mencerminkan bentuk adaptasi kognitif. Oleh karena itu, isu ini masih menjadi perdebatan di kalangan para ahli.
Tinggalkan Komentar
Komentar