periskop.id - Assalamualaikum, Sobat Halalive!

Pernahkah kamu menyadari sebuah keajaiban kecil setiap kali malam pertama Tarawih tiba? Saat melangkah ke masjid, mencium aroma karpet yang khas, atau sekadar melihat lampu-lampu jalanan yang menyala lebih terang dari biasanya, ada perasaan hangat yang tiba-tiba menyusup ke dalam dada.

Perasaan itu aneh namun sangat familier. Seolah-olah Ramadan adalah sebuah mesin waktu raksasa yang tidak hanya mengubah jadwal makan kita, tapi juga memutar kembali ingatan tentang banyak hal yang pelan-pelan terkikis oleh usia.

Menepi dari Bisingnya Dunia Orang Dewasa

Menjadi orang dewasa itu melelahkan. Setiap hari mata kita dipaksa menatap layar, memantau pergerakan grafik ekonomi yang naik turun, membaca berita politik nasional yang memanas, hingga mengejar tenggat waktu pekerjaan yang rasanya tidak pernah habis. Pikiran kita penuh dengan kecemasan tentang hari esok, tagihan bulan depan, dan ambisi duniawi.

Di tengah semua kebisingan itu, kita kehilangan sesuatu yang sangat berharga, yaitu ketenangan batin. Kita lupa rasanya duduk diam tanpa melakukan apa-apa. Kita lupa rasanya berbicara dengan Sang Pencipta tanpa terburu-buru.

Ramadan lalu datang seperti sebuah tombol pause. Bulan ini seolah menepuk pundak kita dengan lembut dan berbisik, "Istirahatlah sebentar. Dunia tidak akan runtuh kalau kamu meletakkan bebanmu sejenak."

Dalam kesunyian waktu sahur atau di sela-sela menunggu adzan Maghrib, kita kembali menemukan ketenangan yang hilang itu. Allah SWT mengingatkan kita letak kedamaian yang sejati melalui firman-Nya:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(Latin: Alladziina aamanuu wa tathma'innu quluubuhum bidzikrillaah, alaa bidzikrillaahi tathma'innul quluub)

Artinya: "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd [13]: 28)

Menemukan Kembali Versi Diri yang Paling Murni

Selain memulihkan ketenangan, Ramadan juga mengingatkan kita pada versi diri kita yang paling bersih. Sering kali kita merasa tubuh dan jiwa ini sudah terlalu kotor oleh dosa, kelalaian, dan ego yang tinggi.

Puasa menarik kita kembali ke fitrah (kondisi suci). Saat kita menahan lapar dan haus, kita sedang belajar merendahkan diri. Kita sadar bahwa tanpa seteguk air dari Allah, kita bukanlah siapa-siapa. Kesombongan yang selama ini kita bangun runtuh seketika.

Itulah mengapa Rasulullah SAW memberikan kabar gembira yang luar biasa bagi mereka yang meresapi bulan ini dengan penuh keimanan. Kita diberi kesempatan untuk mereset ulang lembaran hidup yang sudah buram:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

(Latin: Man shaama Ramadhaana iimaanan wahtisaaban ghufira lahu maa taqaddama min dzanbih)

Artinya: "Barangsiapa berpuasa Ramadan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni." (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760)

Peluk Erat Kerinduan Itu

Sobat Halalive, jika di hari-hari puasa ini kamu sering merasa melankolis atau tiba-tiba rindu dengan masa kecil yang sederhana, peluklah perasaan itu. Itu adalah sinyal bahwa hatimu masih hidup dan merindukan kebaikan.

Jadikan kerinduan itu sebagai bahan bakar untuk memperbaiki salat yang sering terlewat, memperbanyak doa yang sempat terlupa, dan mempererat kembali pelukan hangat dengan keluarga tercinta di rumah. Ramadan adalah waktu yang tepat untuk menjemput kembali semua kepingan diri kita yang pernah hilang.

Apa yang Paling Kamu Rindukan?

Setiap orang pasti punya satu memori khusus yang selalu teringat setiap kali bulan puasa datang. Entah itu suara almarhum kakek yang membangunkan sahur, jajanan takjil zaman SD yang kini sudah langka, atau sekadar rasa tenang tanpa beban pikiran. Kalau kamu sendiri, apa hal manis dari masa lalu yang paling kamu rindukan di Ramadan kali ini? Mari bagikan kenangan indahmu di kolom komentar, yuk! 👇

Sumber Rujukan:

  1. Surah Ar-Ra'd Ayat 28: https://quran.com/13/28
  2. Hadits Bukhari tentang keutamaan puasa: https://sunnah.com/bukhari:38