periskop.id - Assalamualaikum, Sobat Halalive!

Senin sampai Jumat sudah dihabiskan untuk memeras keringat di tempat kerja. Saat akhir pekan akhirnya tiba, rasanya punggung ini hanya ingin menempel di kasur seharian untuk membalas dendam jam tidur yang kurang.

Namun di sisi lain, urusan domestik sudah menanti. Mulai dari mengecek pengeluaran dan daftar belanja bulanan, membersihkan rumah, sampai mengurus anabul kesayangan seperti si Miyu Michi yang sudah mengeong minta diajak main. Belum lagi tekanan batin saat melihat lini masa media sosial penuh dengan teman-teman yang menghabiskan akhir pekannya untuk i'tikaf atau maraton kajian.

Rasa bersalah pun muncul perlahan. Seharusnya akhir pekan Ramadan bisa dioptimalkan untuk mengejar target ibadah, tapi mata dan fisik rasanya sulit sekali diajak kompromi. Apakah kita menjadi Muslim yang rugi kalau akhir pekannya lebih banyak dipakai untuk beristirahat?

Tubuhmu Punya Hak yang Harus Dipenuhi

Sobat Halalive, memaksakan diri untuk beribadah terus-menerus tanpa memedulikan alarm kelelahan dari tubuh bukanlah ajaran Islam. Agama ini sangat membumi dan adil.

Ada sebuah kisah menarik antara dua sahabat Nabi, yaitu Salman Al-Farisi dan Abu Darda. Saat itu Abu Darda terlalu memforsir dirinya untuk puasa setiap hari dan salat malam semalaman suntuk tanpa tidur, sampai menelantarkan hak istri dan tubuhnya. Salman kemudian menegurnya dengan kalimat yang sangat bijak, dan kalimat ini dibenarkan oleh Rasulullah SAW:

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ

(Latin: Inna lirabbika 'alaika haqqan, wa linafsika 'alaika haqqan, wa li-ahlika 'alaika haqqan, fa a'thi kulla dzii haqqin haqqahu)

Artinya: "Sesungguhnya Tuhanmu mempunyai hak atasmu, dan jiwamu (tubuhmu) mempunyai hak atasmu, dan keluargamu mempunyai hak atasmu. Maka berikanlah hak kepada setiap yang berhak." (HR. Bukhari)

Tidur untuk memulihkan tenaga, bersantai sejenak, atau sekadar bermain dengan hewan peliharaan di rumah adalah bentuk pemenuhan hak bagi tubuh dan pikiran kita agar tidak stres.

Seni Mengubah Rebahan Menjadi Pahala

Beristirahat di akhir pekan bisa berubah menjadi ladang pahala yang sangat besar, asalkan kita tahu seni meracik niatnya.

Sahabat Nabi yang sangat cerdas, Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu, pernah berkata bahwa beliau sangat mengharapkan pahala dari tidurnya, sama besarnya dengan pahala dari salat malamnya. Mengapa bisa begitu?

Karena beliau tidur dengan niat agar tubuhnya kembali segar dan kuat untuk melanjutkan ibadah di esok hari. Jika kamu merebahkan diri di kasur pada hari Sabtu siang dengan niat, "Ya Allah, aku istirahat agar tubuh ini kembali sehat, agar ibadah puasaku lancar, dan hari Senin nanti kuat mencari rezeki halal lagi," maka detik demi detik lelapmu akan dicatat sebagai ibadah.

Allah SWT sendiri yang menegaskan fungsi tidur sebagai sarana istirahat dalam Surah An-Naba ayat 9:

وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا

(Latin: Wa ja'alnaa naumakum subaataa)

Artinya: "Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat."

Ibadah Santai Sambil Beres-Beres

Keseimbangan adalah kuncinya. Setelah tubuh cukup beristirahat, kamu bisa menyelipkan ibadah ringan tanpa harus memforsir tenaga fisik.

Misalnya, saat sedang menyapu lantai, menyusun daftar belanja, atau memberi makan peliharaan di rumah, putarlah murottal Al-Qur'an dari ponselmu. Mendengarkan lantunan ayat suci dengan tenang sambil menyelesaikan urusan rumah tangga adalah bentuk ibadah santai yang menyejukkan hati.

Kamu juga bisa memperbanyak zikir ringan di dalam hati saat sedang bersandar di sofa. Ibadah di bulan puasa tidak selalu harus berupa aktivitas fisik yang berat di masjid.

Jadikan akhir pekan ini sebagai momen merekatkan kembali ketenangan batinmu, merawat fisikmu, dan menyapa Tuhanmu dengan cara yang paling nyaman tanpa perlu merasa dihakimi oleh pencapaian orang lain.

Sumber Rujukan:

  1. Hadits Bukhari tentang hak tubuh: https://sunnah.com/bukhari:1968
  2. Surah An-Naba Ayat 9: https://quran.com/78/9