Periskop.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) buka suara soal pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 178 buruh PT Namnam Fashion Industries di Cimahi, Jawa Barat. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut penurunan permintaan dari pasar ekspor jadi penyebab utama gelombang PHK tersebut.

Agus menuturkan, lesunya penyerapan produk di pasar luar negeri memaksa perusahaan menyesuaikan kapasitas produksinya. Ia memastikan pihaknya terus memantau perkembangan perusahaan garmen tersebut.

"Jadi mungkin ada kaitannya dengan kemampuan pasar, penyerapan produk-produk mereka di pasar ekspor. Jadi mereka harus melakukan penyesuaian dengan menonaktifkan proses produksinya, tetapi belum ditutup seluruhnya," kata Agus di sela acara Official Launching Indo Startup Expo & Forum 2026 di Jakarta, dikutip Jumat (7/8).

Menurut Agus, PT Namnam Fashion Industries belum menghentikan seluruh kegiatan operasionalnya meski telah menonaktifkan sebagian fasilitas produksi. Perusahaan tersebut, ia menerangkan, memiliki tiga fasilitas produksi dan dua di antaranya sudah dinonaktifkan.

Langkah itu diambil karena pendapatan perusahaan terus tergerus, seperti terlihat dari neraca keuangan mereka.

"Mereka punya tiga fasilitas produksi, yang dua dinonaktifkan karena dalam balance sheet-nya (neraca) terlihat pendapatannya terus menurun. Jadi kemungkinan berkaitan dengan penyerapan produk mereka di pasar ekspor sehingga perusahaan harus melakukan penyesuaian," ujarnya.

Meski dua fasilitas dinonaktifkan, Agus memastikan satu fasilitas produksi masih tetap beroperasi. Perusahaan pun belum sepenuhnya menghentikan aktivitas usahanya.

"Yang satu masih up and running (terus beroperasi). Jadi kita pantau terus," katanya.

Di luar kasus PT Namnam, Agus menilai kinerja sektor manufaktur secara umum masih positif. Ia merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat pertumbuhan penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur sebesar 0,09%.

Angka itu terlihat kecil secara persentase, namun jumlah tenaga kerja yang terserap tetap signifikan mengingat skala industri manufaktur yang besar, menurut Agus.

Kendati begitu, ia mengakui masih ada sejumlah sektor di luar manufaktur yang mengalami penurunan penyerapan tenaga kerja. Kondisi itu akan jadi perhatian pemerintah ke depan.

"Ada sektor-sektor di luar kami yang memang mencatat penurunan penyerapan tenaga kerja. Nah, itu yang pasti akan menjadi perhatian khusus dari kami," ujar Agus.