periskop.id – Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai percepatan industrialisasi sangat sejalan dengan agenda Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN).
Langkah tersebut bertujuan memperkuat struktur manufaktur, meningkatkan nilai tambah, dan menciptakan lapangan kerja berkualitas.
“Pidato Bapak Presiden menjadi penegasan bahwa industrialisasi adalah jalan utama untuk menuju kemandirian ekonomi nasional. Indonesia tidak boleh hanya menjadi konsumen, tetapi harus menjadi negara produsen yang memiliki kemampuan manufaktur kuat dan berdaya saing global,” kata Menperin di Jakarta, Rabu (20/5).
Agus menerangkan, pengembangan sektor ini wajib diarahkan pada industri berbasis sumber daya alam (SDA). Hilirisasi kekayaan alam tersebut bernilai penting guna menghasilkan produk turunan bernilai tambah tinggi.
“Bagus sekali arahan dari Bapak Presiden, karena memang itu yang menjadi harapan kita. Jadi, sekarang industrialisasinya harus kita kembangkan yang berbasis sumber daya alam karena kekuatan sumber daya alam kita itu bisa menghasilkan produk-produk turunan yang nanti pada gilirannya akan memperkuat mata rantai dari industri nasional itu sendiri,” ujar Agus.
Relevansi agenda pemerintah terlihat saat kepala negara menargetkan Indonesia mampu memproduksi mobil nasional sendiri. Sektor otomotif menjadi salah satu fokus utama yang sedang diperkuat.
“Kalau kita bicara soal baterai misalnya, itu juga harusnya bisa menjadi keunggulan bagi Indonesia, karena kita menjadi produsen nikel terbesar di dunia dan juga komponen-komponen otomotif lainnya yang merupakan hasil dari downstreaming dari produk-produk di hulunya,” tuturnya.
Menurut Agus, pernyataan Prabowo dipercaya dapat mendongkrak optimisme para pelaku usaha domestik. Sinergi ini diperlukan untuk menghadapi tantangan global sekaligus memperkuat daya saing pasar dalam negeri.
“Jadi saya kira bagus sekali apa yang disampaikan oleh Bapak Presiden, dan itu akan menambah kekuatan dari semangat dari para industri-industri yang ada di Indonesia untuk bergerak cepat, untuk bisa menjawab challenge yang telah disampaikan kepada pemerintah maupun para pelaku industri,” imbuhnya.
Kementerian Perindustrian mencatat sektor manufaktur konsisten menjadi tulang punggung perekonomian domestik. Industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,04 persen (year-on-year) pada triwulan I.
Sektor ini menyumbang kontribusi terbesar terhadap PDB nasional mencapai 19,07 persen. Capaian pertumbuhan ekonomi dari manufaktur menyentuh 1,03 persen, posisi tertinggi dibanding sektor lain.
Penguatan daya saing terus dipacu lewat kebijakan pro-industri, seperti P3DN dan penguatan TKDN. Langkah pendukung lain mencakup pengembangan SDM serta kemudahan investasi fisik.
“Kami mengapresiasi komitmen Presiden Prabowo yang menempatkan industrialisasi sebagai prioritas pembangunan nasional. Dukungan terhadap industri manufaktur akan memperkuat daya tahan ekonomi Indonesia sekaligus membuka peluang penciptaan lapangan kerja yang lebih besar,” ujarnya.
Momemtum ini dinilai tepat mengakselerasi penguasaan teknologi serta ekosistem inovasi riset. Target utama mencakup kemandirian produksi kendaraan bermotor hingga alat elektronika canggih.
Kapasitas otomotif tanah air saat ini sudah kokoh sebagai basis produksi utama ASEAN. Berbagai produk lokal bahkan telah berhasil menembus pasar ekspor global secara berkala.
“Kita memiliki pasar domestik besar, sumber daya manusia yang kompetitif, dan potensi investasi yang kuat. Ini harus dimanfaatkan untuk mempercepat transformasi Indonesia menjadi negara industri maju,” tegas Menperin.
Kolaborasi antarpemangku kepentingan menjadi kunci utama mewujudkan target besar ini. Kemenperin melibatkan lembaga pembiayaan, akademisi, dan masyarakat demi keberlanjutan industri terintegrasi.
Presiden Prabowo sebelumnya menekankan pentingnya pembuatan mandiri untuk motor, mobil, hingga televisi. Pendanaan agenda strategis ini nantinya didukung pembiayaan pembangunan melalui Danantara.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar