Periskop.id - Fenomena baru dalam dunia komunikasi politik global tengah menjadi sorotan tajam. Melansir laporan dari The Guardian pada Kamis (29/1/2026), pemerintahan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump terindikasi kuat melakukan praktik propaganda sistematis.
Namun, ada yang berbeda kali ini; pesan-pesan politik tersebut tidak lagi disampaikan melalui poster manual atau retorika pidato semata, melainkan melalui kecerdasan buatan (AI).
Para akademisi kini melabeli fenomena ini dengan istilah “slopaganda”. Istilah ini merujuk pada konten propaganda berkualitas rendah secara estetika namun memiliki dampak viral yang masif, yang dihasilkan secara instan oleh mesin AI untuk membombardir ruang publik digital dengan narasi pemerintah.
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai 10 gambar propaganda berbasis AI atau slopaganda paling signifikan yang dirilis oleh Gedung Putih sejauh ini.
Trump sebagai Raja: Simbolisme Kekuasaan Absolut

Dirilis pada Rabu (19/2/2025), gambar AI pertama yang diunggah melalui akun resmi X (dahulu Twitter) Gedung Putih ini langsung menetapkan nada bagi masa jabatan kedua Trump.
Gambar tersebut menampilkan Trump dengan atribut yang menyiratkan kekuasaan monarki, dirilis bersamaan dengan pengumuman pencabutan kebijakan tarif kemacetan di New York City.
Unggahan ini sengaja memanfaatkan kekhawatiran publik bahwa Trump akan memerintah layaknya seorang raja. Gubernur New York, Kathy Hochul, bahkan bereaksi keras dalam konferensi persnya.
“New York tidak berada di bawah kekuasaan seorang raja selama lebih dari 250 tahun. Dan kami jelas tidak akan memulainya sekarang,” ujarnya.
Meski ada penentangan, tarif kemacetan tersebut pada akhirnya tetap berlaku.
Puncak dari narasi ini muncul di Truth Social pada Oktober 2025, di mana presiden mengunggah video AI yang menampilkan dirinya mengenakan mahkota sambil terbang dengan jet tempur di atas para demonstran yang membawa spanduk “No Kings”.
Dalam video satir tersebut, Trump digambarkan menjatuhkan kotoran ke arah mereka. Ketua DPR Mike Johnson membela tindakan tersebut.
“Presiden menggunakan media sosial untuk menyampaikan pesan. Bisa dibilang, dia mungkin orang paling efektif yang pernah menggunakan media sosial untuk itu. Dia memakai satire untuk menyampaikan poinnya,”
Meme Studio Ghibli tentang Perempuan yang Dideportasi

Pada Kamis (27/3/2025), generator meme bergaya Studio Ghibli milik OpenAI menjadi sensasi internet. Namun, Gedung Putih menggunakan estetika anime yang lembut dan emosional ini untuk tujuan yang kontras, yakni kebijakan imigrasi.
Gedung Putih mengunggah gambar bergaya anime seorang perempuan yang menangis saat ditangkap oleh agen Imigrasi dan Bea Cukai (ICE). Unggahan tersebut menyertakan foto asli, nama perempuan itu, serta dugaan tindak pidananya.
Kritik bermunculan karena penggunaan gaya seni tanpa izin dari Studio Ghibli untuk memanusiakan proses deportasi yang keras melalui estetika kartun.
Trump sebagai Paus

Gambar yang diunggah pada Sabtu (3/5/2025) ini menunjukkan kemampuan tim komunikasi Trump untuk menyusup ke dalam percakapan yang sama sekali tidak berkaitan dengan politik dalam negeri.
Dirilis saat dunia sedang berduka atas wafatnya Paus Fransiskus, gambar AI ini menampilkan Trump mengenakan jubah kepausan.
Langkah ini memicu kemarahan besar dari komunitas Katolik. Konferensi Katolik Negara Bagian New York merilis pernyataan tajam.
“Tidak ada yang cerdas atau lucu dari gambar ini, Tuan Presiden. Kami baru saja menguburkan Paus Fransiskus tercinta, dan para kardinal akan memasuki konklaf yang khidmat untuk memilih penerus Santo Petrus. Jangan mengejek kami,” ungkap organisasi tersebut dalam pernyataan resminya.
Trump sebagai Jedi

Memanfaatkan momentum "May the 4th Be With You" pada Minggu (4/5/2025), Gedung Putih merilis gambar AI presiden sebagai seorang Jedi berotot yang memegang lightsaber, dikelilingi oleh bendera Amerika dan burung elang.
Ini merupakan bentuk fan art yang dihasilkan AI untuk menciptakan citra pahlawan super yang tak terkalahkan bagi basis pendukungnya.
Hakeem Jeffries sebagai Orang Meksiko: Trolling dan Rasisme Digital

Pada Rabu (29/10/2025), Gedung Putih merilis gambar pemimpin DPR dari Partai Demokrat, Hakeem Jeffries, dan pemimpin Senat Chuck Schumer yang mengenakan sombrero sambil memegang piring taco. Gambar ini dinilai konyol, provokatif, dan ofensif.
Gambar ini berawal dari video deepfake di mana Trump menempelkan filter kumis kasar pada Jeffries. Meskipun dikecam sebagai rasis oleh Jeffries, Gedung Putih justru menggandakan tindakan tersebut dengan memutar video itu berulang kali di ruang briefing selama berjam-jam.
Fenomena ini menunjukkan betapa sulitnya oposisi merespons konten yang dibungkus sebagai "lelucon" namun mengandung pesan penghinaan yang mendalam.
Selamat Datang di Era Keemasan

Pada Kamis (1/1/2026), di tengah keraguan publik mengenai kondisi ekonomi, Gedung Putih mengunggah video AI yang menampilkan fasad Gedung Putih berlapis emas di bawah hujan koin emas.
Dengan iringan lagu 24K Magic dari Bruno Mars, teks video tersebut berbunyi: “The White House? She’s in her Golden Age”. Praktik wishcasting ini bertujuan menciptakan persepsi kemakmuran meski hanya bersifat visual.
Ke Mana Arahmu, Pria Greenland?

Gambar ini tampak seperti ambisi lama Trump untuk membeli Greenland, namun menyimpan pesan yang jauh lebih gelap.
Gambar yang dirilis pada Rabu (14/1/2026) ini menampilkan slogan “Which way, Greenland man?” yang diduga merujuk pada teks neo-Nazi tahun 1978 berjudul Which Way, Western Man? yang berisi konten antisemitisme dan supremasi kulit putih.
Penggunaan referensi ini dinilai sebagai sinyal bagi kelompok ekstremis kanan.
Poster Propaganda “Stand with ICE”

AI mahir dalam mereplikasi estetika masa lalu untuk menormalkan kebijakan masa kini. Poster AI ini terbit pada Kamis (15/1/2026) diindikasi mendukung Badan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) dibuat dengan gaya grafis tahun 1950-an atau poster film aksi 1980-an yang terasa akrab dan menenangkan.
Daniel de Zeeuw, dosen budaya media digital di Universitas Amsterdam angkat bicara.
“AI sangat mahir mengulang citra masa lalu, sehingga mampu menciptakan visual nostalgia tradisionalisme,” ungkapnya.
Penangkapan Nekima Levy Armstrong

Berbeda dengan gambar lain yang bersifat absurd, unggahan yang terbit pada Kamis (22/1/2026) mengenai pengacara HAM Nekima Levy Armstrong merupakan bentuk deepfake yang berbahaya.
Rekaman asli penangkapan Armstrong menunjukkan dirinya tenang. Namun, akun X Gedung Putih mengunggah versi AI di mana Armstrong tampak menangis histeris dengan warna kulit yang digelapkan.
Keterangan gambar tersebut menuduhnya sebagai "agitator kiri ekstrem". Faktanya, Armstrong dibebaskan tanpa dakwaan. Ini menandai pergeseran dari sekadar trolling menjadi disinformasi visual yang sengaja memalsukan realitas untuk mengkriminalisasi aktivis.
Penguin Nihilis

Gedung Putih merilis gambar Trump berjalan bersama seekor penguin menuju bendera Greenland pada Jumat (23/1/2026). Meski penguin tidak hidup di Greenland (Kutub Utara), Robert Topinka dari University of London menyebut bahwa akurasi bukanlah tujuannya.
“Orang terus menafsirkan gambar-gambar ini seolah-olah itu klaim sah, argumen, atau bukti, padahal mereka adalah pemicu emosi,” ungkapnya.
Gambar ini merujuk pada meme “nihilist penguin” di TikTok. Topinka menambahkan bahwa staf Gedung Putih menggunakan AI karena itu adalah cara tercepat menyebarkan propaganda.
Hal ini selaras dengan konsep “fasisme akhir zaman”, di mana narasi kehancuran dunia dihadapi dengan kegembiraan yang aneh dan provokatif.
Tinggalkan Komentar
Komentar