Periskop.id - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan empat rudal Ghadr ke kapal induk USS Abraham Lincoln. Kabar tersebut disiarkan Press TV dengan mengutip keterangan pers IRGC.

IRGC, dalam laporannya yang dikutip Jumat (3/4), juga melancarkan serangan rudal balistik terhadap pertemuan rahasia para teknisi penerbangan dan pilot pesawat tempur Amerika Serikat (AS) di dekat sebuah pangkalan di Uni Emirat Arab (UEA), menurut laporan tersebut

Selain itu, sistem pertahanan udara IRGC juga dilaporkan menembak jatuh sebuah "jet tempur utama musuh" yang jatuh di antara Pulau Qeshm dan Hengam di Teluk Persia.

IRGC juga, kata Ebrahim Zolfaghari, juru bicara markas besar pusat komando militer Iran, Khatam Al-Anbiya, menyatakan, telah menyerang fasilitas baja AS di Uni Emirat Arab (UEA) dan pabrik peleburan aluminium di Bahrain.

"Sasaran dari gelombang serangan ini adalah fasilitas baja AS yang terletak di Abu Dhabi, fasilitas produksi aluminium AS di Bahrain, dan fasilitas industri militer dari produsen senjata Israel, Rafael," kata Zolfaghari seperti dikutip oleh stasiun televisi IRIB.

Menurut dia, Iran juga menyerang pangkalan militer AS di dekat Manama di Bahrain. Selain itu, IRGC juga melakukan serangkaian serangan terhadap tiga pangkalan angkatan udara Israel: yaitu Tel Nof, Palmahim, dan Ben Gurion.

Iran menyerang wilayah Israel dan sejumlah sasaran militer AS di Timur Tengah, sebagai balasan terhadap operasi militer gabungan yang diluncurkan oleh AS dan Israel pada 28 Februari.

Hari pertama aksi militer gabungan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, sementara sebuah sekolah perempuan di Iran selatan juga dibom. Iran memperkirakan jumlah korban tewas akibat serangan itu mencapai lebih dari 1.200 orang.

Serangan Darat

Sementara itu, merespon ancaman Presieen Donald Trump untuk mengerahkan pasukan darat, Panglima Angkatan Darat Iran Amir Hatami memperingatkan tidak ada pasukan musuh yang boleh selamat, jika AS mencoba melancarkan invasi darat ke Teheran.

“Jika musuh mencoba operasi darat, tidak seorang pun boleh selamat,” kata Hatami dalam komentar yang disiarkan stasiun televisi pemerintah, IRIB Kamis.

Hatami mengatakan, pimpinan militer telah menginstruksikan komando operasional untuk memantau pergerakan pasukan AS secara cermat dan merespons tepat waktu.

“Penting untuk memantau pergerakan dan tindakan musuh dengan sangat teliti dan sangat hati-hati, dari waktu ke waktu, dan untuk menerapkan rencana untuk melawan metode serangannya pada waktu yang tepat,” tuturnya.

“Bayang-bayang perang harus dihilangkan dari negara kita, dan keamanan harus ditegakkan untuk semua,” tambahnya.

Pada Sabtu (28/3), The Washington Post melaporkan, Pentagon sedang mempersiapkan kemungkinan operasi darat di Iran seiring ribuan pasukan AS dikerahkan ke Timur Tengah. Pelaksanaan operasi ini disebut masih menunggu keputusan Presiden AS Donald Trump.

Para pejabat AS mengatakan, rencana tersebut dapat menandai “fase baru perang” yang mungkin “jauh lebih berbahaya” bagi pasukan AS daripada empat minggu pertama pertempuran, menurut surat kabar tersebut.

Diskusi Pentagon mencakup potensi operasi yang menargetkan Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran, dan serangan pesisir di dekat Selat Hormuz untuk menetralisir ancaman terhadap pelayaran.

Para pejabat mengatakan misi yang mungkin terjadi dapat berlangsung hingga “beberapa pekan”. Tiga belas tentara AS tewas dan lebih dari 300 orang terluka dalam serangan di seluruh wilayah tersebut sejak perang dimulai pada akhir Februari.

Eskalasi regional terus berlanjut sejak Israel dan AS melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan itu menewaskan lebih dari 1.340 korban hingga saat ini, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Serangan balasan ini menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, serta mengganggu pasar global dan penerbangan.