Periskop.id - Dunia paleontologi internasional baru saja dihebohkan dengan penemuan fosil raksasa di Thailand yang mengungkap keberadaan dinosaurus berleher panjang dari masa 120 juta tahun lalu. 

Spesies baru yang diberi nama Nagatitan chaiyaphumensis ini disebut sebagai "titan terakhir" yang hidup di kawasan Asia Tenggara ketika wilayah tersebut masih berupa lingkungan semi kering.

Berdasarkan studi yang diterbitkan pada Kamis (14/5) di jurnal Scientific Reports, spesies ini merupakan kelompok sauropoda, atau dinosaurus berleher panjang, terbesar yang sejauh ini pernah ditemukan di Asia Tenggara. 

Para ilmuwan memperkirakan raksasa purba ini memiliki panjang sekitar 90 kaki atau setara dengan 27 meter, dengan berat mencapai 30 ton atau 27 metrik ton.

Penulis utama studi sekaligus paleontolog dari University College London, Thitiwoot Sethapanichsakul, memberikan gambaran mengenai skala ukuran makhluk tersebut.

“Dinosaurus kami berukuran besar menurut standar kebanyakan orang. Beratnya kemungkinan setidaknya 10 ton lebih besar daripada Dippy the Diplodocus (Diplodocus carnegii),” kata Thitiwoot dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh Live Science pada Minggu (17/5).

Meskipun memiliki ukuran yang sangat masif, Nagatitan bukanlah sauropoda terbesar yang pernah dikenal dunia. Bobot tubuhnya diketahui masih kurang dari separuh berat kerabat jauhnya asal Amerika Selatan, seperti Patagotitan dan Argentinosaurus.

Kronologi Penemuan di Formasi Khok Kruat

Perjalanan penemuan fosil ini bermula pada 2016 di Provinsi Chaiyaphum, timur laut Thailand. Seorang warga lokal secara tidak sengaja melihat sisa-sisa tulang di lapisan tanah pada sisi kolam yang mengering. Lokasi tersebut kemudian diidentifikasi sebagai bagian dari Formasi Khok Kruat.

Tim peneliti yang melakukan penggalian berhasil mengamankan sejumlah fosil penting, antara lain beberapa ruas tulang belakang, tulang panggul, serta tulang kaki. Salah satu temuan yang paling mencolok adalah femur atau tulang paha bagian kanan. 

Walaupun tulang paha tersebut ditemukan dalam kondisi pecah menjadi beberapa bagian, para ilmuwan memperkirakan panjang aslinya mencapai 6,5 kaki atau sekitar 2 meter, yang tingginya hampir setara dengan manusia dewasa yang tinggi.

Identitas Unik Nagatitan chaiyaphumensis

Secara klasifikasi biologis, N. chaiyaphumensis termasuk dalam kelompok sauropoda somphospondylan. Ini merupakan subkelompok dinosaurus berleher panjang yang memiliki persebaran luas di setiap benua pada periode Jura akhir hingga periode Kapur. 

Namun, bentuk unik pada tulang belakang dan struktur tulang kaki membedakan Nagatitan dari sauropoda lain yang pernah tercatat sebelumnya.

Pemberian nama spesies ini memiliki makna filosofis yang mendalam. Kata "Nagatitan" diambil dari kata "Naga", makhluk mitologis menyerupai ular yang dihormati dalam berbagai budaya Asia, khususnya di Thailand timur laut yang sering dikaitkan dengan elemen air dan ajaran Buddhisme. 

Sementara kata "Titan" merujuk pada sosok raksasa dalam mitologi Yunani. Nama spesies "chaiyaphumensis" sendiri merupakan bentuk penghormatan bagi Provinsi Chaiyaphum tempat fosil ini ditemukan.

Kehidupan di Masa Kapur

Pada periode Kapur, sekitar 145 juta hingga 66 juta tahun yang lalu, kondisi geografis Thailand timur laut sangat berbeda dengan saat ini. Kawasan tersebut diperkirakan merupakan lingkungan semi kering yang cukup menantang bagi makhluk berukuran besar.

Struktur tubuh N. chaiyaphumensis yang panjang dengan luas permukaan kulit yang besar diduga berfungsi sebagai mekanisme pelepasan panas untuk menjaga suhu tubuh tetap sejuk. 

Pada masa itu, situs penemuan fosil tersebut kemungkinan merupakan sistem sungai yang subur, di mana Nagatitan hidup berdampingan dengan predator seperti buaya serta berbagai jenis ikan dan pterosaurus pemakan ikan.

Fosil-fosil ini ditemukan tertanam di lapisan batuan termuda di Thailand yang masih menyimpan sisa-sisa dinosaurus. Berdasarkan analisis geologi, Thitiwoot menjelaskan mengapa tidak ditemukan fosil dinosaurus di lapisan batuan yang lebih muda di atasnya.

“Batuan yang lebih muda yang terbentuk menjelang akhir masa dinosaurus kemungkinan tidak mengandung sisa-isa dinosaurus karena kawasan itu pada saat itu telah berubah menjadi laut dangkal,” kata Sethapanichsakul.

Mengingat perubahan drastis pada bentang alam purba tersebut, ia menambahkan kalimat penutup yang menegaskan kelangkaan penemuan ini.

“Jadi, ini mungkin sauropoda besar terakhir atau paling baru yang akan kami temukan di Asia Tenggara,” pungkasnya.