Periskop.id - Harga minyak dunia merosot ke titik terendah dalam empat bulan pada perdagangan Kamis (2/7). Penurunan ini dipicu meredanya kekhawatiran pasar atas gangguan pasokan, setelah AS dan Iran mencatatkan kemajuan dalam pembicaraan soal keamanan Selat Hormuz.

Minyak jenis Brent terkoreksi 1,3% ke posisi US$70,66 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,5% ke US$67,54 per barel. Keduanya menyentuh level terendah sejak akhir Februari 2026.

Qatar mengonfirmasi pembicaraan antara AS dan Iran di Doha menghasilkan kemajuan dalam pelaksanaan nota kesepahaman yang mengakhiri konflik pada Juni lalu. Namun, kedua pihak belum mencapai kesepakatan untuk perdamaian jangka panjang, dan pertemuan lanjutan baru dijadwalkan berlangsung setelah 9 Juli.

Kabar tersebut memperkuat keyakinan pasar bahwa aliran minyak melalui Selat Hormuz akan tetap berjalan normal. Sedikitnya lima kapal tanker bermuatan sekitar 10 juta barel minyak Arab Saudi telah berhasil melintas jalur tersebut, sementara Saudi Aramco mempercepat penjualan ke Asia lewat skema harga spot.

Analis Komoditas SEB Bjarne Schieldrop menilai tekanan pada harga minyak berasal dari tiga faktor sekaligus. Pasokan melalui Selat Hormuz tetap lancar, pelepasan cadangan strategis masih berlangsung, dan permintaan dari China belum sepenuhnya pulih.

Meski begitu, ia melihat peluang harga untuk bangkit kembali ketika kondisi pasar mulai menyeimbang.

Dari sisi Amerika Serikat, Energy Information Administration (EIA) mencatat stok minyak mentah pekan lalu turun ke level terendah sejak 2018, didorong meningkatnya aktivitas kilang. Persediaan bensin juga turut menyusut dalam periode yang sama.

UBS memangkas proyeksi harga Brent menjadi US$80 per barel untuk kuartal III dan IV 2026, serta US$75 per barel pada 2027. HSBC, di sisi lain, memperkirakan harga Brent berpotensi kembali ke kisaran US$80 per barel setelah tekanan kelebihan pasokan jangka pendek mereda.

Di luar dinamika harga, Nigeria resmi bergabung sebagai anggota International Energy Agency (IEA). Keanggotaan ini menjadikan Nigeria sebagai negara anggota OPEC pertama yang masuk dalam asosiasi tersebut.

Militer Ukraina turut mengklaim telah menyerang kilang minyak milik Lukoil di wilayah Nizhny Novgorod, Rusia. Insiden ini menambah deretan faktor geopolitik yang terus dipantau pelaku pasar energi global.