Periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Kamis 2 Juli 2026 dibuka di zona hijau. IHSG naik 0,71% ke level 5.735,652. Sebanyak 272 sahammenguat, 177 saham terkoreksi, dan sisanya 196 saham stagnan.
IHSG hari ini berpeluang berkonsolidasi pada kisaran 5.600-5.800. IHSG secara teknikal menunjukkan bahwa Stochastic RSI mendekati area oversold namun MACD berpotensi mengalami Death Cross
“Sehingga diperkirakan IHSG berpeluang berkonsolidasi pada kisaran 5.600-5.800,” ulas tim riset Phintraco Sekuritas, Kamis (2/7).
Beberapa saham yang menarik dicermati pada perdagangan hari ini, antara lain BRPT, ESSA, JPFA, ERAA dan RAJA.
Sebelumnya, IHSG ditutup menguat di level 5,695.12 atau naik 0,92% pada perdagangan Rabu (1/7). Saham sektor energi membukukan kenaikan terbesar yakni 2,61%, sedangkan sektor transportasi mengalami pelemahan terdalam sebesar 0,91%.
Sementara rupiah ditutup melemah 0,25% pada level Rp17,952 per dolar AS, seiring dengan pelemahan mayoritas mata uang Asia lainnya.
Indeks S&P Global Manufacturing PMI Indonesia turun di level 46.9 di Juni 2026 dari 50 di Mei 2026 (1/7). Level ini merupakan yang terendah sejak Juni 2025 dan menandakan kontraksi kedua pada tahun ini. Penurunan antara lain disebabkan oleh koreksi pada pesanan baru dan penjualan ekspor yang turun.
Dari neraca perdagangan, secara tak terduga mencatatkan defisit sebesar US$1.61 miliar di Mei 2026 (1/7), yang merupakan defisit pertama sejak April 2020.
Ekspor mengalami penurunan 5.73% YoY di Mei 2026, di luar ekspektasi yang diperkirakan tumbuh 6.4% YoY. Impor tumbuh 22.16% YoY, lebih tinggi dari estimasi yang sebesar 19.5%, yang terutama didorong oleh kenaikan impor migas.
Di sisi lain, laju inflasi berakselerasi di level 3.34% di Juni 2026 dari 3.08% YoY pada Mei 2026, serta di atas perkiraan yang sebesar 3.2% YoY (1/7). Ini merupakan level inflasi tertinggi sejak Maret 2026, namun masih dalam kisaran target Bank Indonesia.
Kenaikan inflasi ini seiring dengan kenaikan harga Pertamax sejak 10 Juni 2026 lalu. Untuk inflasi inti tercatat menjadi 2.76% YoY di Juni 2026 dari 2.59% YoY di Mei 2026, serta berada pada level tertinggi dalam 38 bulan terakhir.
Sementara itu Fitch Ratings menilai bahwa cadangan devisa Indonesia tetap tertekan meskipun BI telah menaikkan BI rate sebanyak 100 bps.
“Sentimen investor masih lemah akibat kekhawatiran akan kredibilitas kebijakan, disiplin fiskal dan rencana ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI),” tulis riset yang sama.
Tinggalkan Komentar
Komentar