Periskop.id - Marc Marquez mulai mengalihkan fokus ke MotoGP Jerman setelah menjalani akhir pekan yang tidak mudah di Sirkuit Assen, Belanda. Pembalap Ducati Lenovo itu menargetkan bisa datang ke Sirkuit Sachsenring dengan kondisi fisik yang lebih prima agar mampu kembali bersaing di papan atas.

MotoGP Jerman akan menjadi seri penting bagi Marquez sebelum jeda paruh musim. Setelah gagal memperpanjang tren kemenangan di Assen, rider asal Spanyol itu ingin memaksimalkan waktu pemulihan untuk kembali menemukan performa terbaik.

"Target saya adalah tiba di Sachsenring dalam kondisi fisik yang lebih baik lagi untuk bisa menampilkan penampilan terbaik dan menatap jeda paruh musim dengan hasil terbaik," ujar Marc Marquez dikutip dari laman MotoGP, Senin (29/6). 

Pernyataan itu menunjukkan bahwa fokus utama Marquez saat ini bukan hanya soal setelan motor atau strategi balapan, tetapi juga kondisi tubuh. Situasi tersebut cukup masuk akal karena sepanjang musim 2026, Marquez beberapa kali harus mengelola kondisi fisiknya setelah menjalani periode pemulihan dari cedera.

Assen Jadi Akhir Pekan yang Berat

Marquez datang ke MotoGP Belanda dengan modal positif. Sebelum seri Assen, ia baru saja meraih dua kemenangan beruntun di MotoGP Hungaria dan MotoGP Ceko. Tren itu membuatnya kembali masuk dalam pembicaraan perebutan gelar, meski jarak poin dari pemimpin klasemen masih cukup jauh.

Namun, Assen tidak berjalan sesuai harapan. Dalam balapan utama pada Minggu, 28 Juni, Marquez gagal terlibat dalam perebutan podium. Ia sempat berada dalam pertarungan posisi depan pada fase awal lomba, tetapi perlahan kehilangan ritme ketika balapan memasuki fase tengah.

Secara hasil, Marquez sebenarnya finis keenam di lintasan. Namun, ia mendapat penalti karena melewati batas lintasan pada lap terakhir. Hukuman itu membuat posisinya turun satu tingkat ke urutan ketujuh.

Hasil tersebut membuat Marquez harus puas membawa pulang poin terbatas dari Belanda. Ia juga gagal menempel para rival utama yang mendapat keuntungan besar dari hasil Assen.

"Hasil terbaik yang bisa diperoleh sebenarnya di posisi kelima, tapi saya rasa saya tetap menyelesaikan balapan dengan catatan positif dengan berada di posisi ketujuh," kata Marc.

Ogura Cetak Sejarah, Aprilia Kuasai Podium

MotoGP Belanda 2026 justru menjadi panggung besar bagi Ai Ogura dan Trackhouse. Pembalap Jepang itu meraih kemenangan perdananya di kelas MotoGP setelah mengalahkan rekan setimnya, Raul Fernandez, dalam balapan penuh drama.

Ogura juga mencatat sejarah sebagai pembalap Jepang pertama yang menang di kelas utama MotoGP sejak Makoto Tamada pada 2004. Kemenangan itu menjadi salah satu cerita terbesar musim ini karena Trackhouse tidak hanya menang, tetapi juga finis satu-dua lewat Ogura dan Fernandez.

Jorge Martin melengkapi podium di posisi ketiga. Hasil itu membawa Martin naik ke puncak klasemen sementara MotoGP 2026, terutama setelah Marco Bezzecchi gagal finis akibat kecelakaan pada lap awal.

Bagi Marquez, situasi ini membuat persaingan gelar semakin berat. Ketika rival-rivalnya mencetak poin besar, ia hanya mampu mengamankan posisi ketujuh. Dalam kondisi seperti itu, seri berikutnya di Sachsenring menjadi sangat penting untuk menjaga peluang.

Sachsenring Jadi Harapan Baru

Sachsenring punya hubungan khusus dengan Marquez. Sirkuit di Jerman itu selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu lintasan favoritnya. Karakter lintasan yang banyak memiliki tikungan kiri kerap sesuai dengan gaya balap agresif Marquez.

Karena itu, MotoGP Jerman menjadi peluang penting bagi Marquez untuk memulihkan momentum. Selain berada di trek yang secara historis cocok dengannya, seri ini juga menjadi balapan terakhir sebelum jeda paruh musim.

Jika mampu tampil kuat di Sachsenring, Marquez bisa masuk ke masa jeda dengan kepercayaan diri lebih baik. Sebaliknya, jika kembali kesulitan, jarak dengan para rival utama bisa semakin melebar.

MotoGP sendiri menyebut Sachsenring sebagai “territory” Marc Marquez setelah GP Belanda. Ini mempertegas ekspektasi bahwa seri Jerman akan menjadi tempat yang ideal bagi Marquez untuk mencoba menyerang kembali.

Namun, Marquez tampaknya tidak ingin sekadar mengandalkan sejarah. Ia menekankan bahwa kondisi fisik menjadi kunci agar bisa benar-benar tampil maksimal.

Kondisi Fisik Jadi Faktor Penentu

Sejak kembali tampil kompetitif setelah berbagai cedera, Marquez sering menekankan pentingnya kebugaran fisik. Musim 2026 pun tidak sepenuhnya mudah baginya. Ia sempat memulai musim dengan kondisi yang belum benar-benar ideal, lalu perlahan kembali menemukan kecepatan.

Pada April lalu, Marquez mengungkapkan bahwa kondisi fisiknya mulai mendekati level musim sebelumnya setelah melalui proses pemulihan panjang.

"Namun, saya secara bertahap pulih dan akhirnya merasa mendekati kondisi tahun lalu. Rasanya sudah lama sekali sejak cedera di Indonesia, tetapi mengingat cedera bahu, terutama berbagai masalah yang saya alami saat itu, dibutuhkan sekitar enam bulan bagi sistem saraf untuk pulih," ucapnya.

Ia juga menyebut dirinya mulai merasakan perkembangan dalam latihan fisik, tetapi tetap harus beradaptasi dengan situasi baru.

"Saya ingin merasakan perbedaan itu di lintasan juga, tetapi seperti yang telah saya katakan berkali-kali sebelumnya, dalam karier seorang atlet, Anda harus mengevaluasi semuanya. Sejak 2020, saya telah mengatasi banyak kesulitan. Mulai sekarang, saya harus beradaptasi dan mengatasi situasi dan lingkungan baru yang akan saya hadapi," imbuhnya.

Pernyataan tersebut menjelaskan mengapa target menuju Sachsenring bukan hanya soal menang, tetapi juga soal bagaimana ia tiba dalam kondisi tubuh yang memungkinkan untuk menyerang sejak awal akhir pekan.

Tren Positif Terputus di Belanda

Sebelum Assen, Marquez sedang berada dalam fase terbaiknya musim ini. Ia menang di MotoGP Hungaria, lalu melanjutkan performa positif dengan kemenangan di MotoGP Ceko.

Kemenangan di Brno menjadi penegasan bahwa Marquez belum menyerah dalam perebutan gelar. Saat itu, ia naik ke peringkat empat klasemen sementara dengan 140 poin dan memangkas jarak dari Marco Bezzecchi yang masih memimpin.

Namun, GP Belanda menghentikan laju tersebut. Di Assen, bukan Ducati yang tampil dominan, melainkan Aprilia dan Trackhouse. Ogura menang, Fernandez finis kedua, Martin naik podium, sementara Bezzecchi gagal finis.

Marquez sebenarnya masih mampu menyelesaikan balapan dan meraih poin. Tetapi, hasil ketujuh jelas bukan target ideal bagi seorang juara bertahan yang sedang mengejar kembali posisi puncak.

Kontrak Baru, Target Besar

Di tengah persaingan musim 2026, Ducati sudah memberi kepercayaan jangka panjang kepada Marquez. Beberapa hari sebelum GP Belanda, Marquez resmi memperpanjang kontraknya dengan Ducati Lenovo hingga akhir 2028.

Keputusan itu menunjukkan, Ducati masih melihat Marquez sebagai proyek besar, termasuk untuk memasuki era regulasi baru MotoGP bermesin 850cc mulai 2027.

"Saya berwarna merah. Saya benar-benar bahagia dengan kesepakatan baru dengan Tim Ducati Lenovo ini dan untuk terus menjadi bagian dari keluarga ini," kata Marc Marquez dikutip dari laman resmi MotoGP.

Perpanjangan kontrak itu juga mempertegas, Marquez masih memiliki ambisi besar. Ia belum melihat dirinya hanya sebagai pembalap senior yang bertahan di grid, melainkan masih sebagai kandidat juara.

Namun, target besar tersebut menuntut konsistensi. Dalam format musim yang panjang, satu balapan buruk memang tidak langsung menghancurkan peluang. Tetapi jika terlalu sering kehilangan poin besar, jarak di klasemen akan semakin sulit dikejar.

Persaingan Gelar Makin Ketat

Hasil GP Belanda membuat peta persaingan MotoGP 2026 semakin berubah. Jorge Martin naik ke puncak klasemen setelah finis ketiga. Marco Bezzecchi kehilangan posisi teratas setelah gagal finis untuk ketiga kalinya secara beruntun pada balapan Minggu.

Ogura juga mulai masuk sebagai penantang serius setelah kemenangan di Assen. Dengan performa kuat Trackhouse sepanjang akhir pekan, pembalap Jepang itu memangkas jarak dari pemimpin klasemen.

Marquez, di sisi lain, harus menjaga agar jaraknya tidak semakin melebar. Ia masih punya kecepatan, pengalaman, dan rekam jejak kuat di Sachsenring. Namun, performa fisik akan menentukan apakah ia bisa benar-benar memaksimalkan peluang tersebut.

Sachsenring kini menjadi lebih dari sekadar seri berikutnya. Bagi Marquez, itu adalah kesempatan untuk memperbaiki arah musim.

Ducati Perlu Respons Cepat

Ducati juga memiliki pekerjaan rumah setelah GP Belanda. Di Assen, mereka tidak mampu menghentikan dominasi Aprilia dan Trackhouse. Francesco Bagnaia bahkan mengalami masalah teknis, sementara Marquez tidak cukup kuat untuk bertahan di kelompok podium.

Bagi tim sebesar Ducati Lenovo, hasil tersebut tentu bukan akhir pekan ideal. Mereka perlu memahami mengapa paket motor tidak cukup kompetitif di Belanda dan bagaimana memperbaikinya sebelum Jerman.

Sachsenring punya karakter berbeda dari Assen. Lintasan Jerman lebih sempit, lebih teknikal, dan menuntut stabilitas tinggi di tikungan panjang. Jika Ducati bisa memberi motor yang lebih nyaman, Marquez punya peluang lebih besar untuk menyerang.

Namun, jika kondisi fisik Marquez belum ideal, keunggulan historis di Sachsenring pun tidak otomatis menjamin hasil maksimal.

Seri Jerman Jadi Ujian Mental

MotoGP Jerman akan menguji dua hal sekaligus bagi Marquez: kebugaran dan mentalitas. Setelah gagal naik podium di Assen, ia harus segera menghapus kekecewaan dan kembali fokus.

Sebagai juara dunia tujuh kali di kelas utama, Marquez sudah terbiasa menghadapi tekanan. Namun, situasi musim 2026 berbeda. Ia tidak lagi berada dalam posisi dominan seperti masa-masa terbaiknya bersama Honda. Ia harus mengejar, menata fisik, dan bersaing melawan rival yang semakin banyak.

Itulah mengapa hasil di Sachsenring bisa menjadi penentu suasana menuju paruh kedua musim. Jika Marquez mampu menang atau minimal kembali ke podium, ia bisa masuk jeda musim panas dengan narasi kebangkitan. Jika tidak, tekanan akan semakin besar.

Tidak Ada Waktu untuk Terlalu Lama Menyesal

Marc Marquez boleh kecewa dengan hasil di Assen, tetapi ia juga tahu bahwa musim masih panjang. MotoGP Belanda memberi pelajaran penting: kecepatan saja tidak cukup jika fisik belum memungkinkan untuk menekan sepanjang balapan.

Kini, fokusnya bergeser ke Sachsenring. Sirkuit itu memberi harapan karena secara historis sangat cocok dengan karakter Marquez. Tetapi harapan tersebut hanya bisa menjadi hasil jika ia datang dalam kondisi tubuh yang lebih siap.

Bagi Marquez, MotoGP Jerman bukan hanya kesempatan memperbaiki posisi di klasemen. Ini juga momen untuk membuktikan, akhir pekan sulit di Assen hanyalah gangguan sementara, bukan tanda bahwa tren kebangkitannya sudah berhenti.

Dengan jeda paruh musim menunggu setelah Sachsenring, Marquez punya satu target jelas: menutup fase pertama musim dengan hasil yang kembali mengangkat namanya ke persaingan utama.