Periskop.id - Sidang pemakzulan Wakil Presiden Filipina Sara Duterte resmi dimulai pada Senin (6/7). Persidangan ini tercatat sebagai yang pertama dalam sejarah Filipina yang menyasar seorang wakil presiden.
Sara menghadapi tiga tuduhan berat. Ia dituduh menyalahgunakan dana publik, memiliki kekayaan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan asal-usulnya, serta mengancam keselamatan Presiden Ferdinand Marcos Jr., Ibu Negara, dan mantan Ketua DPR Filipina.
"Jika proses itu dipandang bermotif politik atau tidak memiliki kredibilitas, pertanyaan akan tetap muncul apa pun hasil akhirnya," kata profesor administrasi publik University of Makati, Ederson Tapia, merespons bergulirnya sidang pada Senin (6/7).
Tapia menilai, legitimasi proses persidangan menjadi faktor paling krusial yang menentukan sejauh mana publik menerima putusan Senat.
Sara sendiri membantah seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Putri mantan Presiden Rodrigo Duterte itu menyebut proses pemakzulan ini sarat motif politik.
Di sisi jaksa, Juru Bicara Tim Pemakzulan Robert 'Ace' Barbers menegaskan pihaknya akan membuktikan setiap tuduhan lewat fakta dan alat bukti yang disiapkan di persidangan.
"Kami akan membiarkan bukti yang berbicara," ujar Barbers.
Pengacara Sara, Michael Poa, menyatakan tim pembela juga telah bersiap. Menurutnya, seluruh tuduhan terhadap kliennya tidak berdasar dan akan terbukti demikian di hadapan Senat.
Secara konstitusional, pemakzulan baru bisa terjadi jika sedikitnya 16 dari 24 anggota Senat menyatakan Sara bersalah. Sejumlah survei opini menempatkan Sara sebagai salah satu kandidat terkuat untuk Pilpres 2028, namun vonis bersalah diperkirakan akan menutup peluang tersebut sepenuhnya.
Sebaliknya, jika ia dibebaskan melalui proses yang dinilai adil, posisinya menjelang pemilu itu diprediksi justru semakin solid. Para analis mencatat bahwa hasil sidang, apa pun arahnya, akan turut membentuk peta persaingan Pilpres 2028, terlebih karena Marcos Jr. tidak dapat mencalonkan diri kembali akibat pembatasan satu periode dalam konstitusi Filipina.
Persidangan ini juga menjadi babak terbaru dari retaknya aliansi antara dua dinasti politik terbesar Filipina. Marcos dan Sara Duterte sempat maju bersama sebagai pasangan dalam Pemilu 2022, namun hubungan keduanya memburuk setelah Rodrigo Duterte ditangkap dan dipindahkan ke tahanan International Criminal Court di Den Haag pada Maret tahun lalu untuk menghadapi dakwaan pembunuhan terkait perang narkoba.
Perpecahan itu merembet ke Senat Filipina. Pada Mei lalu, Senator Ronald 'Bato' dela Rosa, sekutu keluarga Duterte, memberikan suara penentu dalam pemilihan Alan Peter Cayetano sebagai Ketua Senat. Sekitar sebulan berselang, kubu rival berhasil menggalang dukungan untuk menempatkan Sherwin Gatchalian di kursi yang sama.
Soal durasi sidang, belum ada kepastian. Sengketa prosedural, jumlah saksi, dan proses pembuktian diperkirakan memengaruhi panjang persidangan. Sebagai perbandingan, sidang pemakzulan mantan Ketua Mahkamah Agung Filipina pada 2012 berlangsung sekitar empat bulan.
"Tim pembela siap menunjukkan bahwa seluruh tuduhan terhadap kliennya tidak berdasar," pungkas Michael Poa.
Tinggalkan Komentar
Komentar