Periskop.id - Presiden AS Donald Trump menyatakan, Amerika Serikat tidak membutuhkan bantuan negara lain untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional dari blokade Iran.
"Saya tak mendesak mereka, karena sikap saya adalah, kami tidak membutuhkan siapa pun. Kami adalah negara terkuat di dunia. Kami memiliki militer terkuat di dunia. Kami tidak butuh mereka," kata Trump dikutip Selasa (16/3).
Ia menambahkan, dalam beberapa kasus ia meminta bantuan bukan karena kebutuhan, melainkan untuk mengetahui bagaimana reaksi negara-negara tersebut. Trump juga mengeklaim, sejumlah negara telah menyampaikan kesiapan untuk membantu AS membuka Selat Hormuz. "Beberapa sangat antusias, tetapi beberapa lainnya tidak," ujarnya.
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan menewaskan warga sipil. Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan terhadap wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Eskalasi tersebut memicu penghentian de facto lalu lintas di Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global. Gangguan itu juga berdampak pada ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut.
Jepang Berkepentingan
Terpisah, Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi mengatakan Jepang akan bekerja sama dengan AS dan negara lain untuk memastikan navigasi yang aman di Selat Hormuz. Hal itu disampaikan Motegi dalam pembicaraan melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Senin (16/3) di tengah perang yang berlangsung di Timur Tengah, menurut Kementerian Luar Negeri Jepang.
Pembicaraan tersebut dilakukan setelah Presiden AS Donald Trump mendesak negara-negara lewat media sosial untuk mengirim kapal perang guna menjaga keamanan Selat Hormuz. Hanya saja, permintaan itu tidak disampaikan dalam pembicaraan kedua Menteri.
Rubio menjelaskan kepada Motegi, mengenai sikap dan upaya AS terkait konflik tersebut, dan keduanya sepakat menjaga komunikasi erat mengenai situasi di Timur Tengah, menurut kementerian. Keduanya juga menegaskan akan bekerja sama menjelang pertemuan Trump dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di Washington yang diperkirakan berlangsung pada Kamis.
Perang yang memasuki pekan ketiga membuat Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur sempit yang dilalui sekitar 20% minyak dan gas alam cair dunia, sebagai respons atas serangan AS dan Israel sejak akhir bulan lalu.
Lebih dari 90% impor minyak mentah Jepang berasal dari Timur Tengah, yang sebagian besar melewati selat tersebut. Bagi Jepang, pengiriman aset dan personel Pasukan Bela Diri (SDF) ke wilayah luar negeri yang berpotensi terlibat dalam pertempuran menjadi isu sensitif karena konstitusinya melarang perang.
Tokyo bisa memerintahkan kapal SDF mengawal kapal yang terkait dengan Jepang, dalam operasi keamanan maritim yang mengizinkan penggunaan senjata secara terbatas.
Motegi juga berbicara melalui telepon secara terpisah dengan para mitranya — Pangeran Faisal bin Farhan Al-Saud dari Arab Saudi dan Sheikh Abdullah bin Zayed Al Nahyan dari Uni Emirat Arab — dan menegaskan kerja sama untuk meredakan situasi. Mereka juga membahas upaya memastikan pasokan minyak mentah yang stabil dan keselamatan warga Jepang di kawasan tersebut.
Tak di Bawah Naungan NATO
Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan, operasi untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz tidak akan dilakukan di bawah naungan NATO.
"Kami bekerja sama dengan pihak lain untuk menyusun rencana yang kredibel untuk Selat Hormuz guna memastikan bahwa kami dapat membuka kembali jalur pelayaran," ucapnya.
"Izinkan saya tegaskan: itu tidak akan dan tidak pernah direncanakan sebagai misi NATO. Itu harus menjadi aliansi mitra, itulah sebabnya kami bekerja sama dengan mitra di Eropa, di Teluk, dan dengan AS," kata Starmer.
Sebelumnya pada Sabtu, Presiden AS Donald Trump meminta China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara lain mengirim kapal perang ke Selat Hormuz, untuk mengamankan salah satu jalur perdagangan minyak global yang paling penting. Ia memperingatkan sekutu NATO, aliansi tersebut menghadapi "masa depan yang sangat buruk" jika gagal mengamankan selat tersebut.
Namun, Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski menolak usulan Trump, dengan mengatakan pemerintahnya "tidak memiliki rencana untuk berpartisipasi dalam misi semacam itu." Harian Financial Times melaporkan bahwa Prancis juga telah menolak inisiatif Trump.
Prancis dilaporkan tengah bernegosiasi dengan negara lain di Eropa, Teluk Persia, dan sekitarnya untuk bersama-sama berpatroli di selat tersebut setelah konflik di Timur Tengah berakhir.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Kaja Kallas mengatakan menjelang pertemuan menteri luar negeri Uni Eropa di Brussels, ia akan membahas perluasan misi angkatan laut Aspides ke Selat Hormuz.
Misi tersebut melibatkan kapal Yunani dan Italia yang melindungi kapal di Laut Merah. Juru bicara pemerintah Yunani Pavlos Marinakis mengatakan Yunani akan menolak berpartisipasi jika misi tersebut diperluas ke Selat Hormuz.
Tinggalkan Komentar
Komentar