ADB Naikkan Proyeksi Ekonomi Asia Jadi 5%, El Niño Jadi Ancaman Baru
ADB memperkirakan ekonomi Asia berkembang dan Pasifik tumbuh 5% pada 2026. AI menopang ekspor, tetapi El Niño dan krisis energi mengancam pangan serta inflasi

Periskop.id - Asian Development Bank (ADB) menaikkan tipis proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang di Asia dan Pasifik menjadi 5% pada 2026, meski masih melambat dibandingkan realisasi 5,5% pada 2025. Ekonomi kawasan diperkirakan kembali tumbuh sedikit lebih cepat menjadi 5,1% pada 2027.
Proyeksi terbaru dalam Asian Development Outlook (ADO) September 2026 itu lebih tinggi 0,1 poin persentase dibandingkan perkiraan ADB pada Juli sebesar 4,9%. Investasi swasta, stimulus pemerintah, serta ekspor teknologi yang mendapat dorongan dari siklus investasi global kecerdasan buatan atau AI menjadi penyangga utama perekonomian, di tengah tekanan harga energi dan ketidakpastian geopolitik.
Namun, ADB mengingatkan prospek tersebut menghadapi risiko yang semakin besar, terutama dari konflik geopolitik dan penguatan fenomena El Niño. “Kawasan ini tetap tangguh, namun risikonya semakin meningkat,” ujar Presiden ADB Masato Kanda.
Ia menyebut, El Niño yang semakin menguat disertai kondisi yang lebih kering membuat hasil panen lebih sedikit dan produksi listrik tenaga air berkurang, sehingga mendorong kenaikan harga pangan dan energi, dengan dampak terberat dirasakan oleh kelompok yang paling rentan.
“Krisis energi yang berkepanjangan serta munculnya kembali risiko di pasar keuangan membuat pemerintah semakin perlu bersiap dan melindungi masyarakat yang paling terdampak. ADB memberikan dukungan kuat bagi upaya-upaya tersebut,” tuturnya.
Inflasi 2026 Turun Tipis, tapi Risiko Pangan Membesar
ADB menurunkan proyeksi inflasi negara berkembang Asia dan Pasifik untuk 2026 menjadi 4,2% dari sebelumnya 4,3%. Penurunan tersebut terjadi karena subsidi dan berbagai kebijakan stabilisasi harga membantu menahan dampak kenaikan harga energi terhadap konsumen.
Sebaliknya, proyeksi inflasi 2027 justru dinaikkan dari 3,4% menjadi 3,5%, antara lain karena risiko gangguan produksi pangan akibat El Niño. Kedua angka tersebut tetap lebih tinggi dibanding inflasi kawasan sebesar 3% pada 2025.
ADB memperkirakan El Niño yang sangat kuat dapat bertahan hingga kuartal I 2027. Kondisi tersebut berpotensi menekan hasil pertanian, ketersediaan air, produksi listrik tenaga air hingga kegiatan pertambangan. Pada saat yang sama, berkurangnya pembangkit hidro dapat meningkatkan ketergantungan terhadap minyak dan gas.
Risiko itu mulai relevan bagi Indonesia. Reuters pada 22 September melaporkan musim hujan Indonesia diperkirakan mundur ke awal November di sekitar 61% wilayah, dengan El Niño terkuat dalam 11 tahun memperpanjang periode kering. Komoditas seperti beras, tebu, kakao dan kelapa sawit termasuk yang berpotensi terdampak.
Asia Tenggara Justru Sedikit Membaik
Di tengah perlambatan kawasan secara keseluruhan, proyeksi Asia Tenggara berkembang justru direvisi naik. ADB memperkirakan pertumbuhan mencapai 4,7% pada 2026 dan 4,9% pada 2027, masing-masing naik dari proyeksi Juli sebesar 4,6% dan 4,8%.
Perbaikan terutama didorong kinerja lebih kuat di Vietnam, Malaysia dan Thailand. Vietnam mendapatkan revisi terbesar menjadi 7,8% pada 2026, sementara Malaysia naik menjadi 4,9%. Siklus teknologi dan investasi AI membantu sektor manufaktur, semikonduktor, pusat data serta ekspor elektronik di sejumlah negara.
Gambaran tersebut terlihat di Singapura. Data menunjukkan, ekspor domestik nonmigas Singapura pada Agustus 2026 melonjak 46,2% secara tahunan, tertinggi dalam data sejak 2005, dengan ekspor elektronik naik 131,8% di tengah ledakan permintaan produk terkait AI.
Namun, perbaikan Asia Tenggara tidak merata. ADB menurunkan proyeksi beberapa negara seperti Filipina, Kamboja, Myanmar dan Brunei Darussalam karena kombinasi harga pangan dan energi, investasi yang tertunda, pemulihan pariwisata yang belum sempurna serta ketidakpastian domestik.
Ekonomi Indonesia Diproyeksi Tumbuh 5,2%
Khusus Indonesia, ADB mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2% pada 2026 dan 2027. Menurut ADB, konsumsi domestik, sektor jasa serta dukungan fiskal dan kredit masih menjadi penopang ekonomi Indonesia. Investasi swasta yang secara bertahap menguat juga diperkirakan mendukung pertumbuhan tahun depan.
Proyeksi tersebut cukup dekat dengan kinerja terkini. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan pada triwulan II 2026, sedangkan sepanjang semester I tumbuh 5,45%. PDB Indonesia atas dasar harga berlaku pada triwulan II mencapai Rp6.552,1 triliun.
Konsumsi pemerintah tumbuh 15,97% secara tahunan pada triwulan II, sementara sektor pengadaan listrik dan gas menjadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 10,81%.
Meski proyeksi pertumbuhannya tidak berubah, ADB menaikkan perkiraan inflasi Indonesia. Inflasi rata-rata diperkirakan mencapai 3,3% pada 2026, lalu melandai menjadi 3% pada 2027. Keduanya masih berada dalam rentang sasaran resmi pemerintah.
ADB menilai tekanan terutama berasal dari tingginya harga energi internasional yang mulai diteruskan ke harga BBM nonsubsidi. El Niño yang lebih kuat, kenaikan kembali harga minyak dan suku bunga global yang tetap tinggi menjadi tiga risiko utama bagi proyeksi Indonesia.
Asia Selatan Tumbuh Paling Cepat
Di antara subkawasan, Asia Selatan masih menjadi yang tumbuh paling cepat. ADB menaikkan proyeksi 2026 dari 6% menjadi 6,4%, terutama karena investasi publik yang kuat dan ekspor India.
India sendiri diperkirakan tumbuh 7% pada tahun fiskal 2026. Namun, proyeksi Asia Selatan untuk 2027 diturunkan dari 6,7% menjadi 6,5% karena prospek yang lebih lemah di Afghanistan, Bangladesh, India dan Nepal akibat tekanan perdagangan, energi serta cuaca.
Sebaliknya, kawasan Pasifik menerima revisi terbesar ke bawah. Pertumbuhan 2026 dipangkas dari 3,3% menjadi 3%, sedangkan proyeksi 2027 turun menjadi 2,9%. El Niño diperkirakan menekan pertanian dan pertambangan, sementara tingginya biaya energi membebani sejumlah negara kepulauan.
Konflik hingga Saham AI Bisa Mengubah Prospek
ADB mengidentifikasi dua ancaman terbesar terhadap perekonomian kawasan, yakni eskalasi konflik geopolitik dan El Niño yang lebih buruk dari perkiraan. Konflik Timur Tengah yang semakin luas maupun peningkatan intensitas perang Rusia-Ukraina berpotensi mempertahankan harga minyak dan gas pada level tinggi serta memicu volatilitas komoditas lain.
Di sisi lain, sektor teknologi yang saat ini menjadi penopang pertumbuhan juga membawa risiko. ADB memperingatkan koreksi tajam terhadap valuasi saham perusahaan terkait AI dapat memperketat kondisi keuangan, melemahkan neraca perusahaan, menekan investasi dan menurunkan kepercayaan pasar.
Tingginya utang pemerintah dan swasta juga menjadi perhatian khusus ADO September. Menurut analisis ADB, tingkat utang yang tinggi dapat membatasi ruang kebijakan moneter ketika bank sentral harus merespons inflasi, terutama karena kenaikan suku bunga turut meningkatkan biaya pembayaran utang.
Dengan kondisi tersebut, pertumbuhan 5% pada 2026 menunjukkan ekonomi Asia berkembang dan Pasifik masih relatif tangguh, tetapi sumber pertumbuhannya makin tidak merata. Ledakan investasi AI dan konsumsi domestik menjadi penopang di satu sisi, sementara krisis energi, El Niño dan risiko geopolitik menjadi ancaman yang dapat dengan cepat mengubah arah pertumbuhan dan inflasi kawasan.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai ADB, asia pasifik, dan Pertumbuhan Ekonomi dengan mengeklik tautan.





Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.