Kemnaker: Hampir 50% Alumni Magang Nasional 2025 Sudah Bekerja dalam Tiga Bulan
Kemnaker mencatat hampir 50% alumni Magang Nasional 2025 yang magang di industri telah bekerja tiga bulan setelah program selesai. Tracer study akan dilanjutkan berkala

Periskop.id - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat hampir separuh alumni Program Magang Nasional 2025 yang ditempatkan di perusahaan dan industri telah bekerja dalam waktu sekitar tiga bulan setelah menyelesaikan program. Angka tersebut meningkat dibanding saat kelulusan, ketika sekitar 30% peserta sudah memperoleh penawaran kerja.
Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Kemnaker Darmawansyah mengatakan, sekitar 30 ribu dari 60 ribu alumni yang menjadi basis penelusuran di sektor industri telah masuk dunia kerja.
"Setiap tiga bulan kami lakukan tracer. Kami baru lakukan tracer pekan lalu, dan angkanya sudah bergerak. Yang awalnya itu 30 persen saat mereka lulus, dan ini sudah mendekati 50 persen sesudah tiga bulan," katanya dalam Kick Off Program Pemagangan Nasional Batch 2 Angkatan 2 di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Data tersebut menunjukkan perkembangan dari evaluasi sebelumnya. Pada Juli, Kemnaker melaporkan sekitar 30% alumni Magang Nasional 2025 telah memperoleh penawaran pekerjaan, sementara 34% belum mendapat tawaran tetapi memiliki indikasi akan direkrut. Sisanya, 36%, belum mendapatkan penawaran kerja ketika evaluasi dilakukan.
Namun, angka hampir 50% terbaru tidak mencakup seluruh peserta Magang Nasional 2025. Darmawansyah menjelaskan Kemnaker memisahkan peserta yang ditempatkan di kementerian dan lembaga karena proses rekrutmen aparatur pemerintah dilakukan secara terpusat dan tidak dapat langsung diukur dengan pola yang sama seperti perusahaan swasta.
"Kalau yang bekerja di kementerian dan lembaga, kami tidak bisa mengukur serapannya karena rekrutmen kementerian dan lembaga terpusat oleh Kementerian PAN-RB. Jadi kami pisah datanya," kata dia.
Serapan Naik dari 30% Menjadi Hampir 50%
Program Magang Nasional 2025 secara keseluruhan menerima sekitar 102.697 peserta melalui beberapa batch. Peserta berasal dari lulusan baru perguruan tinggi dan ditempatkan baik di perusahaan maupun kementerian/lembaga.
Pada saat program berakhir, Kemnaker belum menjanjikan bahwa seluruh peserta otomatis direkrut. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli sejak awal menegaskan bahwa tujuan utama program adalah memberikan pengalaman kerja dan meningkatkan kesiapan lulusan memasuki pasar tenaga kerja.
"Mereka mendapatkan exposure terkait dunia kerja. Kalau klausul jaminan diterima sebagai pegawai tidak ada dan tidak ada kewajiban perusahaan menerima, tapi kami yakin kalau kinerja mereka baik saat magang maka kans diserap oleh perusahaan tentu ada," ujar Yassierli.
Ketika evaluasi dilakukan pada Juli, Yassierli menyebut sekitar 30% peserta telah ditawari bekerja di perusahaan tempat mereka magang.
"Kami sudah melakukan evaluasi di hari terakhir magang dan hasilnya 30 persen dari semua peserta itu ditawari bekerja," kata Yassierli.
Dengan tracer study terbaru, proporsinya kini mendekati 50% untuk kelompok alumni di industri yang berhasil ditelusuri. Kemnaker akan kembali melakukan penelusuran tiga bulan mendatang guna mengetahui apakah angka serapan masih meningkat.
Data Dicocokkan dengan BPJS Ketenagakerjaan
Untuk mengukur serapan secara lebih akurat, Kemnaker menggunakan dua pendekatan.
Pertama, alumni diminta mengisi kuesioner mengenai kondisi mereka setelah menyelesaikan magang. Kedua, data tersebut dicocokkan dengan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan, terutama status peserta sebagai penerima upah.
Metode tersebut digunakan untuk mengurangi ketergantungan pada jawaban survei semata dan memperoleh indikasi apakah alumni benar-benar sudah bekerja secara formal.
BPJS Ketenagakerjaan sendiri mengatur peserta magang wajib memperoleh perlindungan Jaminan Kecelakaan Kerja. Peserta juga dapat mengikuti program perlindungan lain seperti Jaminan Kematian dan Jaminan Hari Tua sesuai skema kepesertaannya.
Sektor Keuangan Paling Banyak Merekrut
Kemnaker sebelumnya juga memetakan sektor yang paling banyak menyerap alumni Magang Nasional 2025. Data Juli menunjukkan sektor keuangan menyumbang 23,4% dari peserta yang memperoleh penawaran kerja, disusul perdagangan besar 17,9%, manufaktur 16,5%, kesehatan 10,3%, serta akomodasi 5,2%.
Secara jumlah, Kemnaker mencatat sektor keuangan merekrut sekitar 2.559 alumni, perdagangan besar 1.759 orang, dan manufaktur 1.501 orang. “Ini menunjukkan demand yang ada saat ini dan menggambarkan bahwa sektor-sektor tersebut merupakan yang paling tinggi dalam merekrut peserta magang,” kata Yassierli.
Kemnaker juga mendorong alumni mengikuti sertifikasi kompetensi BNSP setelah menyelesaikan program. Menurut Darmawansyah, sertifikasi diperlukan agar pengalaman praktik selama magang memiliki pengakuan kompetensi yang dapat digunakan saat melamar pekerjaan berikutnya.
“Program magang tidak hanya memberikan pengalaman praktik di dunia kerja, tetapi juga harus menghasilkan pengakuan kompetensi yang dapat menjadi bekal peserta saat memasuki pasar kerja,” kata Darmawansyah.
Magang Nasional 2026 Ditargetkan 150 Ribu Peserta
Hasil penelusuran angkatan pertama menjadi salah satu dasar pemerintah memperbesar Program Pemagangan Nasional pada 2026. Pemerintah menaikkan target peserta dari semula sekitar 100 ribu menjadi 150 ribu orang yang dibagi dalam tiga batch. Menaker Yassierli mengatakan perluasan tersebut dilakukan setelah evaluasi program sebelumnya menunjukkan hasil positif dalam membantu transisi lulusan perguruan tinggi ke dunia kerja.
Pada Batch 1 tahun ini, sebanyak 46.160 peserta mulai menjalani pemagangan selama enam bulan sejak 10 Agustus.
Kemudian, untuk Batch 2 Angkatan 2, pemerintah menetapkan 40.962 peserta setelah melakukan seleksi dari sekitar 350 ribu lulusan perguruan tinggi satu tahun terakhir yang memenuhi kriteria dan mendaftar.
"Setelah melalui proses seleksi, akhirnya yang kami tetapkan sebagai peserta magang batch 2 tahun angkatan yang kedua ini 40 ribu orang," kata Yassierli.
Peserta memperoleh uang saku bulanan selama maksimal enam bulan, pendampingan mentor, perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan serta kesempatan memperoleh sertifikasi kompetensi. Ketentuan tersebut diperkuat melalui Permenaker Nomor 9 Tahun 2026 dan kembali disesuaikan dalam Permenaker Nomor 12 Tahun 2026.
Masih Jadi Tantangan di Tengah Pengangguran 4,68%
Program tersebut berjalan di tengah pasar kerja yang masih menghadapi persoalan pengangguran. Badan Pusat Statistik mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka Indonesia pada Februari 2026 sebesar 4,68%, turun 0,08 poin persentase dibanding Februari 2025. Jumlah penduduk bekerja mencapai 147,67 juta orang dari angkatan kerja sebanyak 154,91 juta.
Kemnaker menempatkan program magang sebagai salah satu instrumen untuk mempersempit kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan perusahaan.
“Kemnaker memandang program Magang Nasional sebagai salah satu instrumen penting untuk menjembatani transisi lulusan perguruan tinggi dari dunia pendidikan ke dunia kerja,” kata Kepala Biro Humas Kemnaker Faried Abdurrahman Nur Yuliono.
Meski hampir 50% alumni industri telah bekerja, hasil tersebut belum dapat dibaca sebagai tingkat keberhasilan seluruh peserta Magang Nasional 2025 karena basis tracer saat ini dipisahkan dari peserta yang ditempatkan di kementerian dan lembaga. Kemnaker masih akan memperbarui data setiap tiga bulan untuk melihat perkembangan karier alumni setelah program berakhir.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Darmawansyah, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), Magang Nasional, dan Tenaga Kerja dengan mengeklik tautan.


Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.