Periskop.id - Dalam beberapa tahun terakhir, kecemasan melanda berbagai pihak di seluruh dunia. Mahasiswa kini mulai mempertanyakan apakah investasi besar pada jurusan yang mereka pilih masih akan memberikan keuntungan kompetitif di masa depan.
Menanggapi fenomena ini, para dosen dari Harvard University bersama para ekonom yang berafiliasi dengannya telah menerbitkan serangkaian riset berpengaruh.
Studi tersebut membedah bagaimana nilai kredensial, penyortiran pekerjaan, hingga inflasi gelar sedang mengubah imbal hasil dari berbagai jenis latar belakang pendidikan.
Berdasarkan laporan yang dilansir dari Times of India, ekonom Harvard, David J. Deming dan Kadeem Noray, mengungkapkan fakta mengejutkan dalam studi mereka pada tahun 2020.
Mereka menemukan bahwa imbal hasil dari sejumlah gelar terapan tradisional, seperti ilmu komputer, teknik, dan bisnis, justru menurun dengan cepat sepanjang karier seseorang. Penyebab utamanya adalah cepatnya usangnya keterampilan kerja di sektor-sektor tersebut.
Hal ini menegaskan sebuah realitas baru di mana gelar prestisius tidak lagi memberikan jaminan nilai jangka panjang jika tidak dibarengi dengan pembaruan keterampilan atau upskilling secara berkelanjutan.
Bahkan, laporan dari Harvard Business School pada awal 2025 mencatat bahwa lulusan magister administrasi bisnis (master of business administration/MBA) sekalipun kini menghadapi kesulitan untuk mendapatkan posisi kelas atas dengan cepat, yang menandakan terjadinya penurunan nilai gelar bisnis klasik secara lebih luas di mata pemberi kerja.
Sektor humaniora dan ilmu sosial juga tidak luput dari tantangan. Data yang didokumentasikan oleh The Harvard Crimson menunjukkan penurunan tajam jumlah peminat pada jurusan-jurusan tersebut sejak tahun 2013.
Tren ini merefleksikan perubahan fokus mahasiswa dan industri yang kini lebih mengarah pada bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM) yang dinilai memiliki jalur karier lebih transparan.
Banyak gelar tradisional kini menghadapi tren yang disebut sebagai "reset gelar". Menurut laporan Harvard Business School tahun 2022, pemberi kerja mulai meninggalkan persyaratan gelar umum yang bersifat administratif. Sebagai gantinya, mereka menuntut penguasaan keterampilan yang jelas, spesifik, dan siap pakai.
Berdasarkan temuan Harvard, berikut adalah 10 bidang studi yang dinilai usang atau mengalami penurunan imbal hasil dan menghadapi tantangan besar dalam relevansi karier jangka panjang:
- Administrasi Bisnis Umum (termasuk MBA): Mengalami kejenuhan pasar serta perubahan preferensi perekrutan perusahaan.
- Ilmu Komputer: Sangat menguntungkan di awal karier, namun menuntut peningkatan kemampuan terus-menerus karena teknologinya sangat cepat usang.
- Teknik Mesin: Mulai terdampak oleh masifnya otomatisasi dan pergeseran manufaktur ke luar negeri.
- Akuntansi: Tekanan besar dari teknologi AI dan otomatisasi yang menekan pertumbuhan pekerjaan jangka panjang.
- Biokimia: Memiliki fokus akademik yang terlalu sempit dengan penerapan langsung yang terbatas.
- Psikologi (S1): Memiliki jalur karier langsung yang sangat terbatas tanpa melanjutkan ke studi spesialis atau jenjang lanjutan.
- Bahasa Inggris dan Humaniora: Ketidakpastian jalur karier menyebabkan penurunan minat pendaftar secara global.
- Sosiologi dan Ilmu Sosial: Menghadapi masalah keterkaitan pekerjaan yang kurang langsung, serupa dengan bidang humaniora.
- Sejarah: Memiliki catatan premi upah menengah karier yang relatif rendah dibanding bidang lainnya.
- Filsafat: Meskipun kemampuan berpikir kritis tetap dihargai, bidang ini dinilai kurang mudah dipasarkan secara langsung di industri.
Lantas, bidang apa yang sebaiknya dipelajari di masa kini? Riset Harvard merekomendasikan pengembangan keterampilan hibrida yang adaptif. Mahasiswa disarankan untuk menggabungkan kemampuan teknis yang tajam dengan kreativitas serta kecerdasan sosial yang tinggi.
Beberapa bidang yang diproyeksikan memiliki masa depan cerah antara lain:
- STEM Interdisipliner: Fokus pada sains, teknologi, teknik, dan matematika dengan kerangka pembelajaran berkelanjutan.
- Ilmu Data dan Analitik: Memiliki permintaan tinggi dan fleksibilitas lintas industri.
- Ilmu Kesehatan: Profesi kesehatan terapan tetap memiliki permintaan tenaga kerja yang sangat kuat.
- Studi Keberlanjutan: Bidang ilmu lingkungan menjadi semakin mendesak di tengah krisis iklim global.
- AI dan Machine Learning: Menjadi garda terdepan dalam teknologi mutakhir saat ini.
- Pemasaran Digital: Membutuhkan talenta yang mampu menggabungkan sisi kreatif dengan kecakapan teknologi.
Sebagaimana dicatat dalam laporan Student Choice 2025, jurusan dengan ROI (Return on Investment) terkuat saat ini mencakup teknik, ilmu komputer (dengan spesialisasi), dan keperawatan.
Kesimpulannya, gelar pendidikan tinggi tetaplah relevan, namun definisi sukses kini menuntut kemampuan untuk terus berevolusi dan mengintegrasikan keterampilan teknis dengan aspek-aspek yang berpusat pada manusia.
Tinggalkan Komentar
Komentar