periskop.id - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat capaian gemilang di sektor hilirisasi sepanjang 2025. Dengan realisasi investasi mencapai Rp584,1 triliun, naik 43,3% dibandingkan 2024, menegaskan Indonesia semakin menarik bagi investor dan memperkuat industri dalam negeri.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala BKPM Rosan P Roeslani menyampaikan pertumbuhan investasi hilirisasi menunjukkan nilai tambah ekonomi yang nyata.
"Hilirisasi bukan hanya soal produksi, tapi juga menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan daya saing industri nasional,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (15/1).
Kontribusi terbesar datang dari sektor mineral, yang mencatat investasi senilai Rp373,1 triliun. Sementara substansi terbesar berasal dari nikel sebesar Rp185,2 triliun, tembaga Rp65,9 triliun, dan bauksit Rp53,1 triliun.
Posisi berikutnya ditempati oleh besi baja Rp39,2 triliun,diikuti timah Rp11,3 triliun, dan sektor mineral lainnya sebesar Rp18,4 triliun.
"Sektor mineral yang kuat ini menunjukkan strategi hilirisasi pemerintah berjalan efektif. Sehingga Indonesia tidak hanya mengekspor bahan mentah, tetapi mengolahnya menjadi produk bernilai tambah, mendorong industri pengolahan lokal dan membuka lapangan kerja baru," sambung Rosan.
Selain mineral, Rosan mengatakan sektor perkebunan dan kehutanan juga menyumbang investasi signifikan, mencapai Rp144,5 triliun. Rinciannya, kelapa sawit Rp62,8 triliun, kayu log Rp62,2 triliun, karet Rp12,9 triliun, dan sektor lainnya Rp6,6 triliun, memperkuat basis ekonomi berbasis sumber daya alam yang berkelanjutan.
Sektor minyak dan gas bumi menyumbang total investasi Rp60 triliun, terdiri dari minyak bumi Rp41,7 triliun dan gas bumi Rp18,3 triliun. Angka ini menunjukkan potensi energi nasional tetap menarik bagi investor strategis, seiring peningkatan kapasitas pengolahan domestik.
Sementara, sektor perikanan dan kelautan, meski lebih kecil, tetap mencatat investasi Rp6,4 triliun. Hal ini menegaskan bahwa pemerintah mendorong pengembangan ekonomi laut dan sumber daya perikanan, sejalan dengan visi Indonesia sebagai poros maritim dunia.
Dengan total realisasi Rp584,1 triliun, sektor hilirisasi menegaskan peran strategisnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, dan memperkuat daya saing industri nasional.
"Capaian ini sekaligus menjadi sinyal positif bahwa Indonesia semakin siap menjadi pusat industri pengolahan dan investasi bernilai tambah di kawasan Asia Tenggara," tutur Rosan.
Tinggalkan Komentar
Komentar