periskop.id - Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala BKPM Rosan P. Roeslani mengatakan realisasi investasi nasional menunjukkan pembagian yang relatif seimbang antara pulau Jawa dan luar pulau Jawa. Hal itu menandakan upaya pemerintah mendorong pemerataan ekonomi mulai membuahkan hasil.

Pada periode terbaru, investasi di luar Jawa tercatat sedikit lebih tinggi, mencapai Rp249,4 triliun, sementara Jawa sebesar Rp247,5 triliun atau 49,8% dari total investasi.

"Perbedaan nilai investasi antara Jawa dan luar Jawa hanya tipis. Secara keseluruhan, penanaman modal dalam negeri tumbuh 16,2 persen, menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia tetap kuat," ucapnya saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (15/1).

Rosan melaporkan dari sisi sebaran wilayah, Jawa Barat tetap menjadi provinsi dengan realisasi investasi tertinggi, sebesar Rp78,7 triliun. Kemudian,posisi kedua ditempati DKI Jakarta dengan Rp66,8 triliun, diikuti Jawa Timur dan Banten.

Menariknya, Sulawesi Tengah dan Maluku Utara secara konsisten masuk lima besar nasional, membuktikan hilirisasi dan investasi merata ke berbagai daerah. Rosan menjelaskan tingginya investasi di Jawa Barat tidak lepas dari kekuatan sektor manufaktur yang terkonsentrasi di wilayah utara provinsi tersebut.

Kawasan industri di Karawang, Bekasi, Subang, dan Purwakarta menjadi magnet utama masuknya investasi, termasuk sektor kendaraan bermotor yang berkembang pesat di daerah tersebut.

“Manufaktur di Jawa Barat berjalan sangat baik, kawasan industrinya aktif, dan ini jelas menjadi faktor penarik investor,” sambung Rosan.

Dengan demikian Rosan menegaskan pencapaian ini menjadikan Jawa Barat tetap sebagai pusat investasi strategis Indonesia, sekaligus simbol keberhasilan pemerintah dalam mengembangkan industri berbasis hilirisasi.