periskop.id - Praktisi pasar modal Hans Kwee menilai pergerakan rupiah saat ini masih sangat dipengaruhi oleh kondisi eksternal, khususnya meningkatnya tensi geopolitik global. Situasi tersebut mendorong investor global untuk bersikap lebih berhati-hati dengan mengalihkan dananya ke aset yang dianggap lebih aman, terutama dolar AS.
“Karena emerging market dianggap lebih berisiko, dana investor cenderung kembali ke dolar AS. Akibatnya, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, masih cukup terasa,” ujar Hans dalam kegiatan Edukasi Wartawan Pasar Modal, dikutip Sabtu (24/1).
Meski demikian, Hans menilai penguatan rupiah pada akhir pekan ini menunjukkan adanya sentimen positif dari pasar, baik dari sisi domestik maupun respons investor terhadap stabilitas ekonomi nasional. Namun, ia mengingatkan volatilitas masih berpotensi berlanjut seiring perkembangan isu geopolitik dan arah kebijakan moneter global.
Dalam kondisi tersebut, Hans mengimbau investor untuk lebih memahami dinamika ekonomi makro agar dapat menyesuaikan strategi investasinya secara tepat.
Menurutnya, di tengah ketidakpastian global investor dapat mempertimbangkan pergeseran portofolio ke instrumen yang lebih defensif, seperti obligasi atau pasar uang, guna menjaga stabilitas nilai investasi.
“Instrumen defensif bisa menjadi pilihan untuk meredam risiko, terutama bagi investor yang memiliki profil konservatif atau mengutamakan perlindungan modal,” jelas Hans.
Di sisi lain, volatilitas pasar juga membuka peluang bagi investor yang memiliki horizon investasi jangka menengah hingga panjang. Menurut Hans, koreksi pasar yang terjadi secara berkala dapat dimanfaatkan untuk melakukan akumulasi saham, dengan catatan tetap selektif dan berfokus pada fundamental perusahaan.
“Kita harus membeli perusahaan yang potensi pertumbuhannya tinggi, tetapi pada harga yang wajar atau fair price. Dalam kondisi pasar yang cenderung bullish seperti sekarang, mencari saham yang benar-benar undervalue dengan diskon besar itu relatif sulit. Karena itu, strategi yang lebih realistis adalah membeli saham di harga yang fair dengan prospek pertumbuhan yang kuat,” ungkap Hans.
Ia menambahkan, investor perlu mengombinasikan analisis fundamental dengan pemahaman terhadap siklus ekonomi dan kondisi pasar. Dengan pendekatan tersebut, investor tidak hanya mengejar keuntungan jangka pendek, tetapi juga membangun portofolio yang lebih berkelanjutan.
Menurut Hans, kunci utama dalam menghadapi pasar yang dinamis adalah disiplin dan konsistensi terhadap strategi investasi.
“Volatilitas seharusnya tidak selalu dipandang sebagai ancaman. Jika dipahami dengan baik, kondisi ini justru bisa menjadi peluang untuk membangun portofolio yang lebih kuat,” pungkasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar