Periskop.id - Ahli kesehatan yang juga Direktur Penyakit Menular WHO Kantor Regional Asia Tenggara 2018-2020 Prof. Tjandra Yoga Aditama meminta kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, agar meningkatkan kegiatan pengamatan sistematis dan berkelanjutan (surveilans) untuk mengantisipasi masuknya virus Nipah.

"Di Jakarta mungkin tidak ada pekerja migran, tetapi peningkatan surveilans secara umum tentu baik dilakukan," kata Tjandra di Jakarta, Kamis (29/1) seperti dilansir Antara. 

Lebih lanjut, menurut Direktur Pascasarjana Universitas YARSI tersebut, Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Kesehatan juga harus memberi penyuluhan kepada masyarakat tentang berbagai aspek penyakit Virus Nipah.

Menurut Tjandra, seperti halnya kebijakan di Singapura dan India, Pemerintah Jakarta juga disarankan agar menyampaikan ke rumah sakit tentang adanya kejadian di India. Juga mengikuti perkembangan kasus virus Nipah untuk memastikan kesiapan layanan jika diperlukan.

"Memberitahu fasilitas pelayanan kesehatan dan laboratorium di Jakarta untuk menginformasikan ke Dinas Kesehatan kalau ada kasus yang mencurigakan," ujar Tjandra.

Penyakit akibat virus Nipah diketahui tengah melanda India. Dari dua orang, virus itu terus menyebar, dan kini 100 orang di sana diketahui dalam kontak erat dan dalam karantina serta pengawasan ketat.

Tjandra mengatakan, virus Nipah menular awalnya dari binatang, seperti kelelawar, babi, dan lainnya ke manusia, walaupun akhirnya dapat menular antarmanusia, seperti di India sekarang ini, selain melalui makanan yang terkontaminasi. 

Sejauh ini, di dunia sudah ada sekitar 750 kasus pada 1998-1999. Bermula dari Malaysia, dan hingga kini letusan kasus sudah pernah dilaporkan di Bangladesh, India, Malaysia, Filipina dan Singapura.

Masa inkubasi virus tersebut berkisar antara 4-21 hari, walaupun ada yang lebih lama. Seseorang yang terinfeksi virus ini biasanya mengalami gejala, seperti flu dengan demam, sakit kepala, nyeri otot dan lemah.

Dua masalah utama yang terjadi kemudian adalah gangguan paru dan gangguan di otak. "Untuk di paru, maka dapat bermula dari keluhan batuk, sesak napas, lalu terjadi pneumonia yang kalau tidak tertangani dapat timbul gagal napas. Untuk gangguan otak, dapat berupa ensefalitis (peradangan serius) yang pada sebagian kasus terjadi meningitis," terang Tjandra.

Pada kasus ensefalitis, pasien dapat menunjukkan berbagai gejala neurologis, seperti kebingungan, gangguan kesadaran, kejang dan bahkan koma. Jika sudah berat, maka angka kematiannya dapat mencapai 40-75%.

"Tidak ada vaksin untuk pencegahan penyakit akibat virus Nipah dan tidak ada juga obat spesifiknya," ungkapnya. 

Sampai dengan saat ini, Kementerian Kesehatan menyatakan belum mendapatkan laporan adanya kasus konfirmasi penyakit akibat virus Nipah di Indonesia. 

Sekadar catatan, berdasarkan laporan yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) pada 2023, World Health Organization (WHO) telah menetapkan virus Nipah, sebagai salah satu dari sembilan penyakit infeksi emerging yang dianggap sebagai potensi epidemi yang menjadi prioritas.

Virus Nipah (NiV) adalah virus RNA yang tergolong dalam genus Henipavirus dan famili Paramyxoviridae. Virus ini merupakan virus penyebab zoonosis, yakni infeksi yang dapat menular dari hewan ke manusia. 

Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi seperti kelelawar atau babi, serta melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi air liur, urin, atau kotoran dari hewan pembawa virus. Selain itu, virus Nipah juga dapat menular antar manusia. Penularan ini terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh pasien yang terinfeksi.

Virus Nipah mampu menginfeksi berbagai jenis sel baik pada manusia maupun hewan, termasuk sel-sel pada sistem saraf, pernapasan, dan kardiovaskular. Pada manusia, infeksi virus ini dapat menyebabkan radang otak yang berpotensi mengancam nyawa.

Dilansir dari laporan Kemenkes RI, wabah virus Nipah pertama kali terjadi di Malaysia pada tahun 1998. Pada peristiwa tersebut, tercatat 265 kasus infeksi pada manusia dengan 105 korban meninggal dunia, serta lebih dari satu juta ekor babi harus dimusnahkan.

Pada 1999, virus ini menyebar ke Singapura melalui impor babi terinfeksi dari Malaysia. Selanjutnya, virus Nipah mulai muncul secara berkala di Bangladesh sejak tahun 2001, dengan laporan telah terjadinya lima kali wabah hingga 2021.

Pelaku Perjalanan 
Sebelumnya, Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) Tangerang, Banten, meningkatkan pengawasan terhadap pelaku perjalanan udara dari luar negeri. Hal ini sebagai upaya mengantisipasi kemunculan kasus penularan virus Nipah.

"Ada atau tidak ada virus, kita sudah punya sistem All Indonesia. Di dalam sistem itu ada deklarasi kesehatan, jadi pelaku perjalanan sebelum tiba di Indonesia diminta untuk isi status kesehatan sebagai upaya mengetahui kondisi tubuhnya," kata Kepala BBKK Bandara Soetta Naning Nugrahini di Tangerang, Selasa.

Ia mengatakan, penguatan pengawasan hingga skrining kesehatan ini akan disesuaikan secara dinamis mengikuti perkembangan situasi terkini. Penerapan protokol kesehatan utama yang saat ini bakal berlaku meliputi, maskapai penerbangan wajib melakukan pemeriksaan kesehatan awal di titik keberangkatan, hingga pengecekan status kesehatan dari setiap pelaku perjalanan udara.

"Kemudian dari situ dalam 21 hari terakhir kita cek ke negara mana saja. Nah berdasarkan isi itu sebelum terbang, maka kami nanti bisa melakukan rangkuman atau bisa mengetahui profil kesehatan daripada setiap pesawat yang akan turun ke Indonesia," jelasnya.

Terhadap pelaku perjalanan udara yang masuk ke Tanah Air, lanjutnya, akan dilakukan pengawasan ketat. Namun bila menunjukkan gejala-gejala yang mengarah ke ciri virus Nipah, maka harus mematuhi pedoman kesehatan.

"Kalau ada dari negara-negara terjangkit, misalnya sekarang lagi ramai di India, maka kita punya profil pesawat yang direct flight dari India ke Jakarta. Dari situ kita lihat apakah ada orang bergejala atau tidak. Kalau ada, nanti petugas akan naik untuk melakukan boarding dan pemeriksaan lanjutan," ungkapnya.

Naning menyebutkan, otoritas bandara saat ini telah menyiagakan sejumlah pos pemeriksaan khusus di area terminal penerbangan dengan dilengkapi thermal scanner. Petugas kesehatan juga melakukan pemeriksaan visual terhadap penumpang penerbangan tersebut.

"Jadi sistemnya sudah ada dan tetap dijalankan. Karena setiap negara itu bisa muncul penyakit-penyakit penular tertutup yang potensial wabah," tuturnya.

Dia mengaku, hingga kini kasus penyebaran Nipah di Indonesia belum ditemukan. Namun pihaknya tetap bersiaga dan memperkuat pengawasan terhadap kemunculan wabah itu. "Sampai hari ini dari pantauan kami belum menemukan orang yang mempunyai tanda dan gejala virus/penyakit itu," serunya.  

Pihaknya pihaknya juga telah berkoordinasi dengan otoritas ke karantinaan hewan dalam upaya pencegahan penyakit Nipah yang berasal dari hewan seperti kelalawar, monyet dan babi.

"Imbauan kamia kepada seluruh pelaku perjalanan untuk tetap meningkatkan pola hidup bersih dan sehat. Kalau makan makanan buah-buahan, tolong dikupas, dicuci yang bersih. Dan untuk tetap jaga kesehatan yang seimbang," pungkasnya.