Periskop.id - Selama ini, kanker sering kali dianggap sebagai momok yang hanya menghantui kelompok usia lanjut. Ada persepsi umum bahwa penyakit ini adalah hasil dari akumulasi faktor genetik dan kebiasaan buruk jangka panjang seperti merokok yang terjadi selama puluhan tahun.
Melansir laporan dari Firstpost, para ahli onkologi kini menemukan bahwa kanker semakin sering didiagnosis pada orang dewasa muda yang berada di rentang usia akhir 20-an hingga awal 40-an. Kelompok ini tidak lain adalah Generasi Z (Gen Z) dan milenial.
Data statistik mendukung kekhawatiran para dokter. Sebuah studi besar mengungkapkan bahwa insiden kanker usia dini secara global mengalami kenaikan drastis sebesar 79% dalam rentang waktu antara tahun 1990 hingga 2019.
Tidak hanya angka kasus yang naik, angka kematian akibat kanker pada kelompok usia ini juga meningkat sebesar 28%.
Penelitian yang diterbitkan oleh jurnal The Lancet pada 2024 memperkuat temuan ini. Studi tersebut menunjukkan bahwa 17 jenis kanker di Amerika Serikat meningkat secara konsisten pada pria dan perempuan muda, terutama mereka yang lahir setelah tahun 1990.
Hyuna Sung, seorang epidemiolog kanker di American Cancer Society, mencatat bahwa kenaikan paling tajam ditemukan pada kasus kanker usus halus dan pankreas.
Bahkan, individu yang lahir setelah tahun 1980-an memiliki risiko empat kali lebih besar untuk didiagnosis kanker rektum dibandingkan dengan generasi yang lahir pada tahun 1950-an.
Prediksinya, insiden kanker usia dini secara global akan terus merangkak naik hingga 31% pada tahun 2030 mendatang.
Faktor Penyebab
Mengapa tren ini terjadi? Para ahli medis menilai peningkatan ini merupakan hasil interaksi kompleks dari berbagai faktor. Salah satu tersangka utamanya adalah pola makan modern.
Ilmuwan menemukan bahwa diet yang tinggi akan makanan ultra-proses (makanan kemasan yang melalui banyak proses industri) berkaitan erat dengan risiko kanker yang lebih tinggi, bahkan pada orang yang memiliki indeks massa tubuh (body mass indeks/BMI) normal.
Meskipun demikian, obesitas tetap menjadi faktor risiko yang signifikan. Analisis terhadap 21 jenis kanker menunjukkan bahwa kenaikan berat badan berlebih dapat menjelaskan peningkatan kasus kanker usus besar, ginjal, dan pankreas secara global.
Individu dengan BMI tinggi sejak masa kanak-kanak memiliki risiko terkena kanker kolorektal 39% lebih tinggi pada pria dan 19% lebih tinggi pada perempuan saat mereka dewasa.
Gen Z dan milenial tercatat sebagai generasi yang memiliki kualitas tidur paling buruk. Paparan perangkat elektronik seperti ponsel pada malam hari mengganggu pelepasan melatonin, yakni hormon antioksidan yang berfungsi mengatur siklus sel.
Gangguan ritme sirkadian kronis ini dikaitkan dengan risiko kanker payudara, paru-paru, hingga hati. Sejak 2007, International Agency for Research on Cancer bahkan telah menetapkan kerja shift yang mengganggu pola tidur sebagai kemungkinan karsinogen bagi manusia.
Selain kurang tidur, tekanan mental juga memegang peranan besar. Hormon kortisol yang muncul akibat stres kronis berkontribusi pada resistensi insulin dan melemahnya sistem imun. Stres memicu peradangan yang menghambat kemampuan tubuh untuk menghancurkan sel abnormal, bahkan diyakini mampu membangunkan sel tumor yang sebelumnya dorman atau tidur.
Meskipun milenial mungkin minum alkohol lebih jarang dibandingkan generasi sebelumnya, kebiasaan binge drinking atau minum berlebihan dalam satu waktu tetap menjadi ancaman serius. Etanol dalam alkohol diubah oleh tubuh menjadi asetaldehida, sebuah senyawa yang dapat merusak DNA.
Selain itu, paparan mikroplastik yang produksinya meningkat pesat sejak tahun 1990-an juga terus diteliti keterkaitannya dengan meningkatnya insiden kanker usia dini. Bahan kimia abadi seperti PFAS yang ditemukan di lingkungan sehari-hari kini hadir dalam udara, makanan, hingga produk konsumen.
Menariknya, risiko kanker pada usia muda juga bisa ditarik mundur hingga ke masa sebelum seseorang dilahirkan. Laporan dari Washington Post menyoroti bahwa obat-obatan tertentu yang dikonsumsi ibu saat hamil dapat memengaruhi kesehatan anak di masa depan.
Sebagai contoh, penggunaan obat anti-mual tertentu atau obat pencegah keguguran di masa lalu ditemukan meningkatkan risiko kanker usus besar pada anak saat mereka beranjak dewasa.
Langkah Preventif
Meskipun data terlihat suram, masih ada ruang bagi generasi muda untuk melakukan perubahan. Para onkolog menyarankan langkah-langkah berikut untuk mengurangi risiko:
- Menjalani gaya hidup aktif dengan olahraga rutin.
- Mengonsumsi makanan seimbang dan meminimalkan makanan ultra-proses.
- Membatasi konsumsi alkohol dan paparan layar elektronik sebelum tidur.
- Melakukan vaksinasi seperti HPV untuk mencegah kanker serviks dan Hepatitis B untuk kanker hati.
- Meningkatkan kesadaran akan sinyal tubuh dan melakukan skrining kesehatan secara berkala.
Kemajuan ilmu pengetahuan saat ini terus mencatatkan keberhasilan dalam menurunkan angka kematian akibat kanker secara keseluruhan, sehingga deteksi dini tetap menjadi kunci utama bagi Gen Z dan milenial untuk tetap sehat di masa depan.
Tinggalkan Komentar
Komentar