periskop.id - Pernahkah Anda mendengar istilah red flag dalam hubungan? Biasanya label ini diberikan pada pria yang manipulatif atau tidak setia. Namun, definisi red flag kini bertambah satu lagi, dan kali ini datang langsung dari Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Budi Gunadi Sadikin. 

Menkes: Jangan Mau Sama Pria Perokok, Itu Red Flag!

Belakangan ini, media sosial ramai membicarakan pesan Menkes Budi yang dinilai sangat relevan dengan realitas hubungan masa kini. Ia secara tegas menyebut pria perokok sebagai red flag. 

“Buat para perempuan, termasuk anak saya sendiri, jangan pernah mau sama cowok perokok. Ini red flag besar. Dia yang merokok, tapi tubuhmu yang menanggung akibatnya,” ujar Budi dikutip dari tayangan video pada akun resmi Instagram miliknya, Selasa (13/1).

Pernyataan ini menjadi penting jika melihat Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dari Kemenkes. Jumlah perokok aktif di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 70 juta orang, dengan 7,4% di antaranya perokok berusia 10—18 tahun. Mayoritas perokok adalah pria dengan persentase mencapai 73,2%.

Selama ini, kampanye antirokok kerap hanya menyoroti dampak bagi perokok. Padahal, kenyataannya wanita sebagai pasangan atau istri sering kali ikut menanggung risiko penyakit kronis akibat paparan asap rokok.

Oleh karena itu, Menkes Budi menegaskan bahwa memilih pasangan bukan semata soal perasaan, melainkan juga investasi kesehatan jangka panjang. Menjadikan kebiasaan merokok sebagai deal breaker adalah langkah rasional untuk melindungi diri, sebuah bentuk self love yang nyata. Lalu, seberapa besar sebenarnya risiko menjadi pasangan perokok? Apakah dampaknya benar-benar mengancam nyawa? 

Pasangan Merokok Bawa Risiko Kanker Payudara dan Kanker Serviks

Menkes Budi menyebut pria perokok sebagai red flag besar yang wajib dijauhi wanita. Bukan sekadar masalah bau asap, tapi karena ada harga mahal yang harus dibayar oleh tubuh Anda demi kebiasaan buruk pasangan.

Banyak orang mengira menjadi perokok pasif hanya akan berujung batuk atau sesak napas ringan. Padahal, dampaknya jauh lebih berbahaya. Menkes Budi menyatakan bahwa wanita yang hidup serumah atau berpasangan dengan perokok berisiko menjadi perokok pasif. Hal itu dapat memicu risiko kanker lebih tinggi dibandingkan mereka yang bersama pasangan nonperokok.

Menkes Budi juga menyoroti dua ancaman serius bagi wanita, yakni kanker payudara dan kanker serviks. Paparan zat karsinogen dari asap rokok pasangan disebut dapat meningkatkan risiko kanker payudara hingga 40%. Zat kimia beracun dalam rokok bisa mengganggu keseimbangan hormon dan memicu perubahan sel berbahaya pada jaringan payudara.

Risiko itu tidak berhenti di situ. Data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan bahwa perokok pasif berpeluang mengalami penyakit jantung koroner 25–30% lebih tinggi dan stroke hingga 20–30%. Artinya, setiap kali pasangan menyalakan rokok di dekat Anda, ancaman penyakit serius ikut masuk ke tubuh tanpa disadari.

Hal yang lebih mengkhawatirkan, bahaya rokok tidak selalu terlihat. Meski asapnya sudah hilang, zat beracun bisa tetap tertinggal dan terus membahayakan kesehatan.

Apa Itu Thirdhand Smoke? Racun yang Tertinggal Setelah Asap Padam

Asap rokok boleh menghilang, tetapi residu yang tertinggal di baju, rambut, sofa, atau jok mobil menandakan adanya thirdhand smoke, yaitu residu zat kimia rokok yang tetap menempel lama setelah rokok dipadamkan. American Cancer Society menjelaskan bahwa sisa zat beracun dari rokok dapat melekat pada permukaan benda dan tubuh manusia.

Residu ini mengandung nikotin dan senyawa karsinogenik yang menempel pada pakaian, furnitur, dinding, hingga kulit dan rambut perokok. Dilansir dari Mayo Clinic, paparan dapat terjadi melalui sentuhan kulit, kontak jarak dekat, atau saat zat tersebut kembali terlepas ke udara dan terhirup.

Kelompok paling rentan adalah bayi dan anak-anak karena mereka lebih sering menyentuh permukaan benda dan memasukkan tangan ke mulut. Meski riset tentang dampak jangka panjangnya masih berkembang, para ahli sepakat bahwa tidak ada paparan residu rokok yang aman.

Oleh karena itu, alasan merokok di luar rumah tidak sepenuhnya menghilangkan risiko. Racun tetap terbawa di tubuh dan pakaian, lalu masuk ke ruang keluarga, mengancam kesehatan orang-orang terdekat.