periskop.id - Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa kanker bukan lagi penyakit yang harus ditakuti secara berlebihan. Ia menyampaikan, kanker dapat disembuhkan apabila terdeteksi sejak dini, seiring dengan perkembangan teknologi medis yang semakin maju.

“Kanker itu curable (bisa disembuhkan). Jadi tidak usah takut bahwa kalau kena kanker lalu merasa lebih baik tidak diperiksa,” ujar Menkes saat memberikan keterangan dalam rangka peringatan Hari Kanker Sedunia, di South Quarter Dome, Jakarta, Rabu (4/2).

Menurutnya, masih banyak masyarakat yang enggan melakukan pemeriksaan kesehatan karena menganggap kanker identik dengan kematian. Padahal, dengan teknologi yang tersedia saat ini, peluang kesembuhan kanker cukup tinggi apabila ditemukan pada tahap awal.

“Jangan merasa takut bahwa kalau terkena kanker akan meninggal dalam waktu dekat sehingga tidak mau menjalani skrining,” katanya.

Menkes menekankan bahwa deteksi dini menjadi strategi utama pemerintah dalam penanganan kanker. Ia menyebut, apabila kanker diketahui lebih awal, tingkat kesembuhannya dapat disamakan dengan sejumlah penyakit lain.

“Kalau ketahuan dini, kanker itu bisa disembuhkan. Karena itu, fokus utama kita adalah early detection,” ujarnya.

Ia pun mengimbau seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak menunda pemeriksaan kesehatan dan memanfaatkan fasilitas layanan kesehatan yang tersedia. Pemerintah, lanjutnya, berkomitmen melengkapi sarana dan prasarana penunjang diagnosis agar deteksi dini kanker dapat diakses secara luas.

“Segera datang ke seluruh fasilitas kesehatan untuk melakukan skrining dan diagnosis. Pemerintah akan melengkapi alat-alatnya supaya deteksi dini ini benar-benar bisa terjadi dan tersedia untuk semua,” tuturnya.

Berdasarkan data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022, jumlah masyarakat Indonesia yang terdeteksi kanker mencapai sekitar 408 ribu kasus baru dalam satu tahun. 

Dalam laporan yang sama, tercatat sekitar 242 ribu kematian akibat kanker di Indonesia. Tingginya angka tersebut sebagian besar disebabkan oleh keterlambatan diagnosis, karena banyak pasien baru memeriksakan diri saat kanker sudah berada pada stadium lanjut.