Periskop.id - Moody’s Ratings (Moody’s) menjelaskan bahwa keputusan merevisi outlook PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menjadi negatif adalah konsekuensi tak terelakkan dari perubahan profil kredit pemerintah. Lembaga pemeringkat tersebut menilai eksposur emiten berkode PGAS ini terhadap kondisi ekonomi domestik membuatnya rentan terhadap gejolak kebijakan makro.
"Tindakan pemeringkatan hari ini terutama mencerminkan prospek negatif pada peringkat negara Baa2 Indonesia," tulis Moody's dalam keterangan resminya di Singapura, Jumat (6/2).
Moody's menyoroti adanya peningkatan risiko terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia saat ini. Indikator utamanya terlihat dari berkurangnya prediktabilitas serta koherensi dalam proses pengambilan keputusan strategis oleh pemerintah.
Komunikasi kebijakan yang dinilai kurang efektif sepanjang tahun lalu turut menjadi sorotan. Situasi ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas makroekonomi yang selama ini menjadi landasan pertumbuhan.
"Jika terus berlanjut, tren ini dapat mengikis kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah lama terbentuk, yang selama ini mendukung pertumbuhan ekonomi yang solid," tambah laporan tersebut.
Meskipun outlook turun, Moody's tetap mempertahankan peringkat penerbit PGN di level Baa2 serta Penilaian Kredit Dasar (BCA) di posisi baa2. Afirmasi ini didasari oleh metrik keuangan perusahaan yang diproyeksikan tetap kuat dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Posisi PGN sebagai pemain dominan dalam transmisi dan distribusi gas di Indonesia menjadi nilai tambah. Namun, statusnya sebagai entitas yang mayoritas dimiliki pemerintah membuat nasib peringkatnya terikat erat dengan profil kredit negara.
"Peringkat tersebut terpapar pada pelemahan peringkat negara, sebagaimana tercermin dalam prospek negatif," jelas Moody's.
Secara fundamental, kinerja keuangan PGN menunjukkan tren positif. Rasio arus kas ditahan (retained cash flow) terhadap utang tercatat tumbuh menjadi 43% pada 2024, naik dari posisi 39% pada tahun sebelumnya.
Bisnis inti transmisi dan distribusi gas akan terus menjadi penopang operasional utama. Meski demikian, tantangan tetap ada berupa penurunan alamiah pasokan dari blok gas utama serta kebijakan pembatasan harga gas.
PGN telah merencanakan belanja modal yang substansial untuk tiga hingga empat tahun mendatang. Fokus utamanya adalah pengembangan bisnis LNG untuk mengatasi isu pasokan dan ekspansi jaringan distribusi.
Moody's memandang risiko eksekusi proyek-proyek tersebut masih dalam batas wajar. Pengalaman panjang dan rekam jejak operasional PGN menjadi mitigasi risiko yang cukup ampuh.
Ke depan, peluang kenaikan peringkat dinilai sangat minim mengingat situasi saat ini. Pengembalian outlook ke posisi stabil hanya mungkin terjadi jika outlook negara membaik dan kualitas kredit mandiri PGN tidak memburuk.
Sebaliknya, penurunan peringkat bisa terjadi jika peringkat negara benar-benar turun. Pelemahan rasio keuangan secara berkelanjutan juga bisa menjadi pemicu koreksi peringkat di masa depan.
"Kami dapat menurunkan peringkat dan BCA PGN jika peringkat negara diturunkan," tutup Moody's.
Tinggalkan Komentar
Komentar