Periskop.id - Pasar Jatinegara atau Pasar Meester, Jakarta Timur, mulai dipadati orang tua dan siswa yang berburu perlengkapan sekolah menjelang tahun ajaran baru 2026/2027. Seragam, buku tulis, alat tulis, tempat pensil, krayon, hingga aksesori sekolah menjadi barang yang paling banyak dicari.

Keramaian tampak di sejumlah toko perlengkapan sekolah. Para orang tua mendampingi anak-anak mereka memilih kebutuhan yang akan digunakan selama satu tahun ajaran ke depan. Sebagian memilih berbelanja lebih awal agar tidak terburu-buru saat masa libur sekolah makin padat dan hari pertama masuk sekolah semakin dekat.

Advertisement

Salah satu pedagang perlengkapan sekolah di Pasar Jatinegara, Arel, mengatakan jumlah pembeli sudah mulai meningkat. Menurut dia, puncak keramaian biasanya terjadi ketika libur sekolah berlangsung penuh dan mendekati awal masuk sekolah pada Juli.

"Sekarang sudah mulai ramai, biasanya nanti saat libur sekolah penuh dan mendekati masuk sekolah pembeli akan lebih banyak lagi," kata salah satu pedagang perlengkapan sekolah di Pasar Jatinegara, Arel di Jakarta Timur, Rabu (17/6). 

Bagi pedagang, momentum tahun ajaran baru menjadi salah satu periode penting untuk mendongkrak penjualan. Setelah hari-hari biasa cenderung stabil, permintaan perlengkapan sekolah biasanya naik karena hampir semua keluarga dengan anak usia sekolah perlu membeli kebutuhan baru.

Arel mengatakan, barang yang paling banyak diburu saat ini masih didominasi alat tulis dan aksesori sekolah. Namun, penjualan seragam juga mulai meningkat seiring banyaknya siswa yang naik jenjang atau membutuhkan ukuran baru.

"Kebutuhan sekolah seperti alat tulis dan aksesori masih menjadi produk yang paling banyak dicari pembeli. Kami optimistis penjualan akan terus meningkat mendekati hari pertama masuk sekolah," ucapnya.

Pasar Jatinegara menjadi pilihan karena menawarkan banyak variasi barang dalam satu kawasan. Orang tua dapat membandingkan harga, kualitas, ukuran, dan model dari berbagai toko. Pilihan ini membuat pasar tradisional tetap menjadi tujuan belanja, meski pembelian perlengkapan sekolah kini juga banyak dilakukan secara daring.

Salah satu pembeli, Salsa, mengatakan, datang ke Pasar Jatinegara untuk membeli pensil, tempat pensil, buku tulis, dan krayon. Ia memilih berbelanja langsung karena harga dinilai masih terjangkau dan pilihan barang lebih lengkap.

"Harganya masih lebih miring dibanding tempat lain dan pilihannya juga banyak, jadi saya lebih memilih belanja di sini," kata Salsa.

Hal serupa disampaikan Aminah yang membeli seragam untuk anaknya yang akan masuk jenjang Sekolah Menengah Atas. Ia sengaja memanfaatkan masa liburan untuk menyiapkan kebutuhan sekolah lebih awal.

"Saya membeli seragam untuk anak yang akan masuk SMA. Mumpung masa liburan jadi sekalian mempersiapkan kebutuhan sekolah," ujar Aminah.

Kenaikan Harga Tak Menekan Antusiasme Pembeli
Bagi banyak keluarga, belanja perlengkapan sekolah bukan sekadar rutinitas tahunan. Kebutuhan ini masuk dalam pengeluaran penting karena menunjang kenyamanan anak saat belajar. Semakin tinggi jenjang pendidikan, kebutuhan yang disiapkan juga bisa bertambah, mulai dari seragam, sepatu, tas, buku, alat tulis, hingga perlengkapan praktik tertentu.

Meski ada penyesuaian harga pada sejumlah barang, antusiasme pembeli tetap tinggi. Orang tua cenderung menyiapkan kebutuhan sekolah lebih awal agar biaya bisa diatur dan tidak menumpuk sekaligus menjelang hari pertama masuk sekolah.

Fenomena berburu perlengkapan sekolah tidak hanya terjadi di Pasar Jatinegara. Pada musim tahun ajaran baru sebelumnya, masyarakat di berbagai daerah berbelanja kebutuhan sekolah di pasar-pasar besar karena harga dianggap lebih ramah dan pilihan barang lebih banyak.

Di Pusat Pasar Medan, misalnya, warga mulai membeli seragam, buku, dan alat tulis menjelang tahun ajaran baru. Salah satu warga, Santi, mengaku sengaja mencicil pembelian perlengkapan sekolah agar pengeluaran tidak terasa terlalu berat.

"Harus dicicil karena kalau enggak nanti uangnya terpakai untuk keperluan lain, soalnya bisa habis 1 jutaan untuk peralatan sekolah ini dan disini kan murah jadi bisa ambil sekali banyak," katanya.

Cerita itu memperlihatkan, belanja kebutuhan sekolah kerap menjadi beban yang harus diatur dengan cermat oleh keluarga. Banyak orang tua memilih membeli bertahap, mencari toko dengan harga lebih terjangkau, atau membandingkan harga di pasar, toko modern, dan platform daring.

Di sisi pedagang, momentum tahun ajaran baru juga menjadi kesempatan memperbaiki omzet. Namun, persaingan tidak lagi hanya terjadi antarpenjual di pasar. Pedagang kini juga harus menghadapi persaingan dari toko daring yang menawarkan harga murah, promo, dan kemudahan pengiriman.

Seorang pedagang di Pusat Pasar Medan, Patri, pernah menyebut penjualan perlengkapan sekolah mulai membaik meski masih menghadapi tekanan dari penjualan daring.

"Lumayan ramai, tapi untung tidak banyak, karena udah kalah sama pedagang online shop , tapi ini sudah lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya atau saat Covid itu anjlok modal juga tidak kembali," kata Patri.

Kondisi serupa juga pernah terlihat di Palembang. Sejumlah warga memilih membeli buku tulis secara daring karena dianggap lebih praktis dan bisa menghemat waktu. Namun, toko fisik tetap ramai di beberapa titik karena pembeli masih ingin melihat langsung kualitas barang, terutama seragam, tas, dan sepatu.

"Ya sekarang kan memang jaman serba online ini, kami lebih memilih membeli buku di online selain hemat waktu, bisa juga menghemat harga," kata Ridho seorang warga.

Pasar Tradisional Tetap Diminati
Meski belanja daring semakin populer, pasar tradisional seperti Jatinegara tetap memiliki keunggulan. Untuk seragam, pembeli bisa langsung mencoba ukuran, meraba bahan, menawar harga, serta membeli kebutuhan lain dalam satu perjalanan. Faktor ini membuat pasar tetap relevan, terutama menjelang tahun ajaran baru.

Selain itu, belanja langsung juga memberi ruang interaksi antara pedagang dan pembeli. Orang tua dapat bertanya soal ukuran, jenis bahan, ketebalan buku, atau perlengkapan yang paling sesuai untuk kebutuhan anak. Hal-hal seperti ini tidak selalu mudah didapat ketika berbelanja secara daring.

Konteks tahun ajaran baru 2026/2027 di Jakarta juga membuat aktivitas belanja kebutuhan sekolah bergerak lebih cepat. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Pendidikan menyiapkan Sistem Penerimaan Murid Baru dengan total daya tampung 245.980 murid baru. Proses ini mencakup satuan pendidikan negeri, SPMB Bersama, dan Sekolah Swasta Gratis.

Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nahdiana mengatakan SPMB tahun ajaran 2026/2027 disiapkan agar penerimaan murid berjalan objektif, transparan, dan inklusif.

“SPMB Tahun Ajaran 2026/2027 kami laksanakan untuk memastikan penerimaan murid baru berjalan lebih objektif, transparan, dan inklusif. Prinsipnya, setiap anak di Jakarta harus memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas,” ujar Nahdiana di Jakarta, pada Senin (15/6).

Dengan dimulainya rangkaian penerimaan murid baru dan semakin dekatnya tahun ajaran 2026/2027, kebutuhan perlengkapan sekolah diperkirakan akan terus meningkat. Pasar-pasar yang dikenal sebagai pusat belanja perlengkapan sekolah berpeluang semakin ramai dalam beberapa pekan ke depan.

Bagi pedagang, peningkatan kunjungan menjadi sinyal positif. Periode ini bisa membantu memutar modal, menghabiskan stok lama, sekaligus menambah stok baru sesuai permintaan pembeli. Barang-barang kecil seperti buku, pensil, pulpen, penghapus, tempat pensil, botol minum, hingga aksesori rambut biasanya ikut terdongkrak karena dibeli bersamaan dengan kebutuhan utama.

Bagi orang tua, strategi belanja lebih awal dapat membantu menghindari kepadatan pasar dan potensi kehabisan ukuran seragam. Selain itu, belanja lebih dini memberi waktu untuk menyesuaikan barang, mengecek kelengkapan, dan membagi pengeluaran rumah tangga.

Kenaikan permintaan perlengkapan sekolah juga menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi pasar masih hidup pada momentum musiman. Meskipun penjualan daring terus tumbuh, pasar tradisional tetap menjadi pilihan karena menawarkan pengalaman belanja langsung dan harga yang bisa dibandingkan di tempat.

Pasar Jatinegara, yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas perdagangan di Jakarta Timur, kembali menjadi titik ramai menjelang masa masuk sekolah. Dari seragam hingga alat tulis, kebutuhan anak sekolah menggerakkan orang tua, siswa, dan pedagang dalam siklus tahunan yang selalu dinantikan.

Pada akhirnya, keramaian di Pasar Jatinegara bukan hanya cerita soal belanja perlengkapan sekolah. Di baliknya ada strategi keluarga mengatur pengeluaran, harapan pedagang menyambut peningkatan omzet, dan persiapan anak-anak memasuki tahun ajaran baru dengan perlengkapan yang lebih siap.