periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan di tengah gejolak global yang kian kompleks sepanjang 2025. 

‎Purbaya menyebut dinamika eksternal seperti pembatalan tarif resiprokal Presiden AS Donald Trump oleh Mahkamah Agung AS, hingga isu independensi bank sentral AS pasca nominasi pimpinan baru The Fed, turut menjadi perhatian pasar global.

‎Selain itu, perlambatan pertumbuhan di China akibat lemahnya konsumsi domestik juga membayangi prospek ekonomi dunia. Meski demikian, menurut Purbaya, negara-negara berkembang termasuk Indonesia tetap mampu menjaga resiliensi.

‎“Namun dari latar belakang tersebut, ekonomi dunia menujukkan resiliensi yang di monitori oleh negara berkembang, RI menjadi negara dengan pertumbuhan tertinggi dan defisit yang paling rendah di tahun 2205,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa, Jakarta, Senin (23/2).

‎Sepanjang 2025, Purbaya menyebut ekonomi Indonesia tumbuh 5,11%. Meski angka tersebut berada sedikit di bawah Vietnam dan Malaysia, pemerintah menekankan kualitas pertumbuhan Indonesia dinilai lebih sehat karena ditopang oleh disiplin fiskal yang kuat.

‎Defisit anggaran Indonesia tercatat sebesar 2,9% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini lebih rendah dibandingkan Vietnam yang mencapai 3,6% PDB dan Malaysia sebesar 6,41% PDB. 

Ia bilang berdasarkan standar kehati-hatian fiskal internasional, batas aman defisit umumnya berada di kisaran 3% PDB.

‎“Jadi dia (Vietnam dan Malaysia) bayar pertumbuhan itu dengan ongkos yang besar sekali dibandingkan kita. Kalau Anda bandingkan dengan standar internasional tentang kehati-hatian fiskal kelihatan sekali Vietnam dan Malaysia sudah melanggar di atas 3%,” tegasnya.

‎Ia menambahkan, capaian tersebut semakin bermakna karena Indonesia berhasil mempertahankan rasio defisit dan rasio utang pada level yang relatif lebih aman dibandingkan negara peers di kawasan.

‎"Jadi kita lebih jago dari negara-negara tersebut lah.  Waktu ekonominya turun kita kasih stimulus tapi kehati-hatian fiskal kita tidak hiraukan," tutupnya.