Periskop.id - Puskesmas Cilandak, Jakarta Selatan menggelar kegiatan observasi magang kerja bagi anak-anak yang mengidap kelainan genetik atau down syndrome (ADS) yang merupakan binaan Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (POTADS). Kegiatan itu digelar dalam rangka memperingati Hari Down Syndrome, Selasa (7/4).
“Awalnya mereka mengajukan permohonan untuk magang, tetapi karena keterbatasan kapasitas serta belum adanya mekanisme baku, kegiatan ini kami konversi menjadi observasi pelayanan,” kata Kepala Puskesmas Cilandak Sunersi Handayani saat ditemui di Puskesmas Cilandak, Jakarta, Selasa (7/4).
Kegiatan tersebut diikuti oleh tiga anak berusia sekitar 18 hingga 20 tahun yang sebelumnya mengajukan permohonan, untuk mengikuti program magang. Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak untuk mengamati berbagai layanan di puskesmas dengan pendampingan staf, guna mengenalkan dunia kerja sekaligus menggali potensi yang dimiliki.
“Mereka akan mengobservasi berbagai layanan, seperti administrasi dan pendaftaran, dengan pendampingan dari staf. Tujuannya agar mereka mampu menampilkan potensi terbaik dalam melaksanakan tugas pelayanan,” ujarnya.
Kegiatan berlangsung selama satu hari dengan durasi sekitar empat jam, menyesuaikan kondisi fisik dan kemampuan peserta. “Mereka dijadwalkan hadir pukul 08.00 WIB, meskipun tadi sudah datang lebih awal karena antusias. Kegiatannya dibagi ke beberapa unit, tetapi sifatnya hanya observasi dan tidak melakukan pekerjaan teknis,” katanya.
Kemampuan Komunikasi
Puskesmas juga melakukan asesmen awal untuk mengetahui tingkat kemandirian dan kemampuan komunikasi peserta, sehingga metode pendampingan dapat disesuaikan. “Tantangan utamanya ada pada komunikasi, sehingga perlu empati dan kesabaran. Selain itu, daya tahan fisik dan daya serap informasi juga perlu diperhatikan,” ujarnya.
Meski demikian, pihak puskesmas menilai kegiatan berjalan lancar dan peserta menunjukkan sikap kooperatif selama mengikuti observasi. Kegiatan ini merupakan yang pertama kali dilakukan di wilayah Cilandak, sehingga diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk membuka ruang bagi anak-anak dengan down syndrome dalam mengenal dunia kerja.
“Kami akan evaluasi terlebih dahulu. Ke depan, tidak menutup kemungkinan kegiatan ini dilakukan secara berkala dengan rotasi peserta,” serunya.
Sementara itu, salah satu peserta bernama Desvita Annisa (20) mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut. Ia mengatakan kegiatan tersebut memberinya kesempatan untuk berkeliling dan mengenal lingkungan puskesmas. Ia juga mengaku tertarik untuk menjadi tenaga kesehatan di masa depan.
“Saya ingin menjadi suster supaya bisa membantu anak-anak kecil dan ibu hamil,” kata Evy yang didampingi orang tuanya.
Berdasarkan data dari Puskesmas Cilandak, pada tahun 2025 terdapat 578 penyandang disabilitas dan hanya 108 orang yang terdaftar di DTKS.
Tinggalkan Komentar
Komentar