Periskop.id — Pendidikan kesehatan reproduksi tidak seharusnya baru diberikan ketika anak memasuki masa pubertas atau menghadapi masalah. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengingatkan orang tua agar mulai mengenalkan pemahaman tentang tubuh, batasan pribadi, kebersihan, dan perlindungan diri sejak usia dini dengan materi yang disesuaikan pada tahap perkembangan anak.
Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk DKI Jakarta Dwi Oktavia mengatakan kesehatan reproduksi merupakan bagian dari kualitas hidup seseorang sepanjang usia. Keluarga menjadi lingkungan pertama yang membentuk kebiasaan dan kemampuan anak dalam menjaga tubuhnya.
“Sesuai tahapan siklus hidup agar setiap individu mampu menjaga kesehatannya dan mengambil keputusan yang tepat bagi tubuhnya, serta berkontribusi dalam mewujudkan keluarga yang sehat dan harmonis,” kata Dwi dalam seminar daring “Satu Atap, Satu Visi: Mengenal Kesehatan Reproduksi Keluarga Berdasarkan Siklus Hidup” di Jakarta, Selasa (21/7).
Menurutnya, edukasi tidak perlu menunggu anak mendapat pelajaran dari sekolah atau bertemu tenaga kesehatan. Percakapan pertama justru perlu dimulai dari rumah dengan bahasa sederhana, jujur, dan tidak menakut-nakuti.
Bukan Mengajarkan Aktivitas Seksual
Pembahasan kesehatan reproduksi pada anak kerap dianggap tabu karena disalahartikan sebagai pengajaran mengenai aktivitas seksual. Padahal, materi untuk usia dini berfokus pada pengenalan tubuh, emosi, hubungan yang sehat, rasa hormat, keselamatan, dan prinsip dasar persetujuan.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menjelaskan pendidikan tersebut bersifat bertahap. Materi awal menjadi dasar yang dikembangkan ketika anak memasuki masa pubertas dan remaja. WHO menyebut pembelajaran formal dapat dimulai sekitar usia lima tahun, bahkan lebih awal di rumah bersama pengasuh yang dipercaya.
Pada usia dini, anak dapat diajarkan nama bagian tubuh dengan benar, bagian pribadi yang tidak boleh disentuh sembarang orang, perbedaan sentuhan aman dan tidak aman, hak untuk menolak, serta kepada siapa ia harus mencari pertolongan.
Ketika bertambah besar, pembahasan dapat berkembang menuju perubahan fisik dan emosional saat pubertas, menstruasi, mimpi basah, kebersihan diri, pergaulan sehat, keamanan digital, hingga risiko kekerasan dan eksploitasi.
WHO menegaskan tidak terdapat bukti bahwa pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif meningkatkan aktivitas seksual atau perilaku berisiko. Sebaliknya, pembelajaran yang tepat mendukung keputusan yang lebih bertanggung jawab dan dapat mengurangi perilaku berisiko.
Anak Perlu Memahami Batas Tubuh
Dwi menilai pengenalan mengenai batas tubuh merupakan materi mendasar yang dapat membantu anak melindungi dirinya. Anak juga perlu mengetahui bahwa ia berhak merasa tidak nyaman, menolak sentuhan, meninggalkan situasi yang mengancam, dan menceritakan kejadian kepada orang dewasa yang dipercaya.
“Itu juga menumbuhkan rasa percaya diri pada anak. Dan, anak juga bisa menjaga dirinya,” ucapnya.
Kemampuan tersebut semakin penting karena kekerasan terhadap anak masih menjadi persoalan serius. Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja 2024 menunjukkan satu dari dua anak di Indonesia pernah mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan. Kemen PPPA mengingatkan hanya sebagian kecil kejadian yang tercatat dalam sistem pelayanan karena banyak korban belum merasa aman untuk berbicara atau melapor.
Data SIMFONI PPA juga mencatat, 35.025 perempuan dan anak menjadi korban kekerasan sepanjang 2025. Angka itu merupakan data yang masuk melalui layanan dan bukan gambaran keseluruhan kejadian di masyarakat.
Pendidikan mengenai perlindungan tubuh memang tidak dapat mencegah seluruh kekerasan karena tanggung jawab utama tetap berada pada pelaku dan orang dewasa. Namun, pengetahuan dapat membantu anak mengenali perilaku yang tidak pantas, menyampaikan ketidaknyamanan, serta mencari bantuan lebih cepat.
Orang Tua Harus Menjadi Sumber Informasi Pertama
Keluarga memiliki posisi penting karena anak kini dapat memperoleh informasi dari media sosial, mesin pencari, teman sebaya, dan berbagai konten digital yang belum tentu akurat atau sesuai usia.
Apabila orang tua selalu menghindari pertanyaan, anak berpotensi mencari jawaban dari sumber yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sebaliknya, percakapan yang terbuka dapat membangun kepercayaan sehingga anak merasa aman untuk bercerita ketika mengalami perubahan tubuh, kebingungan, atau perlakuan yang membuatnya tidak nyaman.
Orang tua tidak harus menjelaskan seluruh hal dalam satu percakapan. Materi dapat diberikan sedikit demi sedikit sesuai usia, situasi, dan pertanyaan anak. Jawaban juga tidak perlu terlalu rumit, tetapi sebaiknya menggunakan istilah tubuh yang benar dan tidak memberikan kesan bahwa reproduksi merupakan sesuatu yang memalukan.
Kemen PPPA sebelumnya juga mendorong orang tua dan sekolah memberikan edukasi kesehatan reproduksi karena kurangnya pengetahuan dapat meningkatkan kerentanan terhadap kehamilan tidak direncanakan, perkawinan anak, infeksi menular seksual, HIV, serta persoalan kebersihan menstruasi.
Rumah dan Sekolah Harus Menyampaikan Pesan yang Sama
Meski dimulai dari rumah, pendidikan kesehatan reproduksi tidak boleh sepenuhnya dibebankan kepada keluarga. Sekolah, tenaga kesehatan, pemerintah, dan lingkungan masyarakat perlu menyampaikan informasi yang konsisten.
Pedoman UNESCO menempatkan pendidikan kesehatan reproduksi sebagai pembelajaran terstruktur yang berpusat pada kepentingan terbaik anak, menghormati hak asasi manusia, serta disesuaikan dengan usia dan perkembangan peserta didik. Program yang efektif juga memerlukan tujuan pembelajaran yang jelas dan tenaga pendidik yang terlatih.
WHO menilai pesan yang sejalan antara rumah, sekolah, dan masyarakat dapat memperkuat efektivitas pembelajaran. Tantangan yang masih muncul antara lain anggapan bahwa topik tersebut tabu, informasi keliru, serta ketidaknyamanan orang tua dan guru saat membahasnya.
Sekolah dapat melengkapi pembelajaran melalui materi mengenai pubertas, kesehatan menstruasi, kebersihan organ reproduksi, hubungan yang saling menghormati, risiko kekerasan, dan cara memperoleh bantuan. Sementara itu, tenaga kesehatan dibutuhkan untuk menjawab persoalan yang memerlukan penjelasan medis dan menjaga kerahasiaan anak maupun remaja.
Edukasi Bukan Sekadar Pencegahan Masalah
Pemahaman kesehatan reproduksi juga bertujuan membangun hubungan sehat antara seseorang dengan tubuhnya. Anak diharapkan tidak merasa malu terhadap perubahan alami, mampu menghargai tubuh orang lain, dan memahami bahwa setiap orang memiliki batas pribadi.
Pengetahuan yang diberikan secara tepat dapat membantu anak tumbuh lebih percaya diri dan bertanggung jawab. Ketika memasuki usia remaja, ia memiliki dasar untuk mengambil keputusan, memahami konsekuensi, dan membedakan informasi kesehatan yang benar dari mitos.
Karena itu, pembahasan kesehatan reproduksi tidak seharusnya hanya muncul setelah terjadi kekerasan, kehamilan tidak direncanakan, atau gangguan kesehatan. Pendidikan perlu hadir sebelum risiko datang.
Bagi orang tua, langkah awalnya dapat sesederhana mendengarkan pertanyaan anak tanpa menghakimi, mengenalkan batas tubuh, dan memastikan anak mengetahui orang dewasa yang dapat dipercaya. Percakapan kecil di rumah dapat menjadi fondasi perlindungan yang dibawa anak hingga dewasa.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar