Periskop.id - PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia pada Kamis (9/7). Nilai emisi IPO perseroan mencapai maksimal Rp62,748 miliar, dengan seluruh dananya diarahkan ke tiga pos penggunaan yang sudah dirinci dalam prospektus.

Direktur Utama PT Prodia Diagnostic Line Tbk Cristina Sandjaja memaparkan, pos terbesar dari dana IPO tersebut dialokasikan untuk melunasi kewajiban perbankan, tepatnya fasilitas kredit yang dimiliki perseroan di Bank BCA dan Bank Panin, senilai Rp35 miliar.

"Perusahaan berkomitmen untuk terus mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia melalui berbagai produk diagnostik berkualitas unggul," ujar Cristina Sandjaja dalam acara pencatatan saham perdana PRDL di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (9/7).

Setelah kewajiban utang diselesaikan, porsi berikutnya sebesar sekitar 28,92% dari total dana IPO diarahkan ke belanja modal. Cristina merinci, pos ini mencakup pembelian mesin dan peralatan kalibrasi, kendaraan operasional, software sistem, penataan ulang area produksi, serta penambahan unit Air Handling Unit (AHU) untuk Laboratorium Biomolekuler.

Sisa dana senilai sekitar 8,51% dialokasikan sebagai modal kerja. Perseroan menyebutkan pos ini akan digunakan untuk pengadaan bahan baku, biaya riset dan pengembangan produk, serta kebutuhan penjualan dan pemasaran.

Struktur penggunaan dana tersebut mencerminkan dua prioritas sekaligus, yakni memperkuat fondasi keuangan lewat pelunasan utang, sekaligus memacu kapasitas produksi untuk mengejar pertumbuhan pasar.

Dari sisi aksi korporasi, PRDL menawarkan 522,9 juta saham baru atau setara 30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO, dengan harga final Rp120 per saham. Perseroan juga mengalokasikan program Employee Stock Allocation (ESA) maksimal 36,603 juta saham atau 7% dari saham yang ditawarkan kepada karyawan yang memenuhi syarat.

Kinerja keuangan perseroan menjelang IPO terbilang solid. Sepanjang 2025, PRDL membukukan pendapatan Rp74,4 miliar, naik 27% dibanding tahun sebelumnya. Laba bersih tumbuh 70,7% menjadi Rp16,9 miliar, sementara EBITDA terkerek 66,9% ke Rp29,2 miliar.

PRDL merupakan bagian dari Prodia Group yang bergerak di bidang produksi dan perakitan alat kesehatan diagnostik in vitro. Perseroan yang berdiri sejak 2010 ini mengklaim sebagai pionir produsen reagen kimia dengan pengalaman produksi 14 tahun, dengan lebih dari 1.083 SKU produk aktif yang menjangkau 38 provinsi dan lebih dari 7.600 pelanggan di seluruh Indonesia.

Lini produk utama PRDL juga memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 70%. Cristina menilai hal itu memperkuat daya saing perseroan di tengah kebutuhan alat kesehatan nasional yang terus bertumbuh.

"Kami melihat peluang pertumbuhan yang masih sangat besar, terutama pada fasilitas kesehatan primer yang belum seluruhnya terjangkau. Dengan kualitas produk kami yang unggul, kapasitas produksi yang besar, jaringan distribusi yang luas serta nilai TKDN produk kami yang tinggi, kami optimistis dapat memperluas penetrasi pasar sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam penguatan pelayanan kesehatan nasional," papar Cristina Sandjaja.