Periskop.id — Gerakan pemilahan sampah mulai menekan jumlah perjalanan truk dari Jakarta menuju TPST Bantargebang, Bekasi. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut ritase harian turun dari sekitar 1.200 menjadi kisaran 900 truk, atau berkurang sekitar 300 perjalanan per hari.
Penurunan tersebut akan dijadikan dasar untuk memperluas pemilahan dari sumber sekaligus mengaktifkan kembali Tempat Pengolahan Sampah dengan prinsip reduce, reuse, recycle atau TPS3R. Pemerintah ingin lebih banyak sampah selesai diolah di Jakarta sehingga hanya residu yang dikirim ke Bantargebang.
“Dulu setiap hari itu di Bantargebang transportasi truknya yang masuk itu kurang lebih 1200 (truk). Sekarang ini sudah mengalami penurunan, bahkan beberapa waktu yang lalu di sekitar 900-an,” jelas Pramono di Jakarta Selatan, Selasa, 21 Juli 2026.
Pemilahan Sampah Akan Diperluas
Pramono mengaitkan penurunan ritase dengan semakin masifnya pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, sekolah, perkantoran, pasar, dan kawasan komersial. Sampah organik dapat diarahkan untuk pengomposan, sedangkan material anorganik yang masih bernilai dipisahkan agar dapat digunakan kembali atau didaur ulang.
“Jadi, ada penurunan yang cukup signifikan. Akan kami lanjutkan dengan program pilah sampah. Sebagai Gubernur Jakarta, saya mengharapkan betul bahwa program pilah sampah ini dijalankan dengan sebaik-baiknya,” papar Pramono.
Meski menjadi sinyal positif, berkurangnya jumlah truk belum otomatis menggambarkan penurunan tonase dengan besaran yang sama. Pemerintah belum memerinci berat sampah terbaru yang masuk setelah ritase turun menjadi sekitar 900 perjalanan, termasuk apakah terdapat perubahan kapasitas muatan atau efisiensi rute pengangkutan.
Dokumen Rencana Strategis Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta 2025–2029 mencatat Bantargebang menerima rata-rata sekitar 7.735 ton sampah per hari pada 2024. Dalam operasional sebelumnya, sekitar 1.300 truk dan 108 alat berat bekerja setiap hari.
TPS3R Ditargetkan Menahan Sampah Sebelum Keluar Jakarta
Pemprov DKI kini menyiapkan revitalisasi TPS3R agar pengurangan sampah tidak hanya bergantung pada perilaku memilah. Sampah yang telah dipisahkan perlu memiliki tempat pengolahan, pembeli material daur ulang, fasilitas kompos, serta pengangkutan khusus agar tidak kembali tercampur.
“Untuk Bantargebang kemarin kami sudah rapat dan kami sudah mempersiapkan untuk itu. Memang sekarang ini Pemerintah DKI Jakarta akan betul-betul hidupkan kembali untuk TPS 3R-nya,” tutur Pramono.
Ia berencana meninjau empat hingga lima TPS3R dalam waktu dekat. Pemprov juga menyiapkan investasi peralatan dan membuka kerja sama dengan perusahaan swasta untuk mengoperasikan kembali fasilitas yang tidak berjalan optimal.
“Kami investasi beberapa peralatan dan kerja sama juga dengan swasta, supaya sebelum ke Bantargebang itu sudah selesai di TPS 3R-nya. Mudah-mudahan dengan ini, residu yang akan tetap dikirim ke Bantargebang itu akan berkurang," lanjutnya.
TPS3R idealnya menangani sampah sejak dekat dengan sumber. Sampah makanan dan dedaunan dapat diolah menjadi kompos, sementara plastik, kertas, logam, dan kaca yang memenuhi syarat diteruskan ke jaringan daur ulang. Hanya bahan yang tidak dapat dimanfaatkan lagi yang dibawa sebagai residu ke tempat pemrosesan akhir.
Namun, keberhasilan TPS3R tetap bergantung pada kepastian pasokan sampah terpilah, pengelola yang kompeten, biaya operasional, pasar hasil daur ulang, dan sistem pencatatan yang transparan. Tanpa rantai pengelolaan tersebut, fasilitas berisiko kembali tidak aktif atau sekadar menjadi tempat penampungan sementara.
Bantargebang Mulai Tinggalkan Open Dumping
Pengurangan sampah dari Jakarta berjalan bersamaan dengan pembenahan sistem pemrosesan akhir di Bantargebang. Pemprov DKI mulai menutup dua zona aktif menggunakan media pelindung dan menyiapkan pemasangan geomembran sebagai bagian dari peralihan bertahap dari open dumping menjadi controlled landfill.
Dalam sistem open dumping, sampah ditumpuk di ruang terbuka tanpa penutupan dan pengendalian yang memadai. Adapun controlled landfill menerapkan pemadatan serta penutupan timbunan secara berkala untuk mengurangi bau, paparan sampah, risiko kebakaran, emisi gas, dan masuknya air hujan ke dalam timbunan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi mengatakan, penutupan area timbunan merupakan bagian penting dalam mengendalikan dampak lingkungan.
“Pemasangan media penutup merupakan langkah nyata untuk mengurangi bau, membantu mengendalikan emisi gas, serta meminimalkan terbentuknya air lindi akibat masuknya air hujan ke area timbunan sampah,” kata Dudi.
Bantargebang merupakan satu-satunya fasilitas pemrosesan akhir milik Pemprov DKI Jakarta. Kawasan seluas 132,5 hektare tersebut telah beroperasi sejak 1989, dengan sekitar 60% area digunakan sebagai zona penimbunan dan sisanya sebagai fasilitas pendukung seperti pengolahan air lindi, kompos, pembangkit listrik, laboratorium, dsb.
Pengurangan dari Hulu Menjadi Kunci
Mengubah metode penimbunan di Bantargebang dapat mengurangi dampak pencemaran, tetapi tidak menyelesaikan masalah apabila sampah yang dikirim tetap tinggi. Karena itu, pemilahan dari sumber dan pengolahan melalui TPS3R menjadi bagian yang menentukan.
Pemprov perlu memastikan penurunan ritase juga diikuti penurunan tonase dan volume residu, bukan hanya pengurangan jumlah kendaraan. Data tersebut penting untuk menilai efektivitas gerakan pilah sampah dan menentukan fasilitas mana yang benar-benar mampu menahan sampah sebelum menuju Bantargebang.
Target akhirnya bukan sekadar membuat truk lebih jarang melintas. Jakarta perlu mengurangi sampah yang dihasilkan, memulihkan material yang masih bernilai, mengolah sampah organik, dan memastikan hanya residu yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan dikirim ke tempat pemrosesan akhir.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar