periskop.id – Bank Indonesia (BI) melaporkan indikator stabilitas nilai tukar Rupiah dan kondisi pasar keuangan domestik tetap terjaga kondusif pada awal tahun 2026 meskipun di tengah dinamika ekonomi global yang ditandai dengan penguatan mata uang dolar Amerika Serikat.
"Berdasarkan kondisi perekonomian global dan domestik terkini, Bank Indonesia menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai Rupiah," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya, Sabtu (3/1).
Ramdan merinci pergerakan mata uang garuda pada penutupan tahun lalu, Rabu (31/12), yang berakhir di level Rp16.670 per dolar AS. Namun, pada pembukaan perdagangan Jumat (2/1), Rupiah mengalami sedikit tekanan dan dibuka pada posisi Rp16.680 per dolar AS.
Kondisi pasar obligasi dalam negeri justru menunjukkan tren positif. Imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat turun ke level 6,05% pada akhir Desember.
Stabilitas ini berlanjut hingga awal Januari 2026. Yield SBN 10 tahun terpantau relatif stabil di kisaran 6,04%, mencerminkan kepercayaan investor terhadap surat utang pemerintah masih tinggi.
Di sisi eksternal, tekanan datang dari penguatan indeks dolar AS (DXY) yang menyentuh level 98,32. Kenaikan ini sejalan dengan melonjaknya imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury Note) tenor 10 tahun ke angka 4,167%.
Meskipun demikian, persepsi risiko investasi terhadap Indonesia justru membaik. Premi risiko investasi atau Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun turun menjadi 67,78 basis poin per 1 Januari 2026, lebih rendah dari posisi akhir tahun lalu.
Arus modal asing pun terpantau masuk deras ke pasar domestik. Berdasarkan data transaksi 29-31 Desember 2025, investor asing (nonresiden) membukukan beli neto sebesar Rp2,43 triliun.
Dana segar tersebut mengalir ke dua instrumen utama. Asing mencatatkan beli neto Rp1,23 triliun di pasar saham dan Rp1,66 triliun di pasar SBN.
Sebaliknya, aksi jual terjadi pada instrumen moneter bank sentral. Investor asing tercatat melakukan jual neto sebesar Rp0,46 triliun pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Secara akumulatif sepanjang tahun 2025, data setelmen menunjukkan investor asing mencatatkan beli neto Rp2,01 triliun di pasar SBN. Namun, arus keluar terjadi cukup deras di pasar saham dan SRBI.
Menghadapi tantangan tahun baru, otoritas moneter menegaskan komitmennya untuk terus menjaga ketahanan ekonomi nasional lewat bauran kebijakan yang terukur.
"Kami terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia," pungkas Ramdan.
Tinggalkan Komentar
Komentar