periskop.id - Pasar modal Indonesia sedang mengalami fase pertumbuhan yang luar biasa. Melansir data terbaru dari Bursa Efek Indonesia (IDX), jumlah investor pasar modal telah menembus angka 21,03 juta Single Investor Identification (SID) pada Awal 2026.

Banyak mata tertuju pada strategi di balik layar otoritas bursa. Salah satu tokoh kunci yang memegang mandat krusial dalam transformasi ini adalah Jeffrey Hendrik, Direktur Pengembangan BEI. 

Siapakah sebenarnya Jeffrey Hendrik? Bagaimana perjalanan kariernya dari seorang profesional muda di era krisis 98 hingga menjadi arsitek bursa karbon Indonesia? 

Awal Karier: Ditempa Krisis Moneter 1998

Perjalanan Jeffrey Hendrik di dunia pasar modal tidak dimulai di menara gading, melainkan di tengah gejolak ekonomi. Menurut profil resmi Manajemen IDX, lulusan Sarjana Ekonomi Universitas Trisakti (1995) ini memulai kariernya tepat saat Indonesia menikmati booming ekonomi Asia, namun segera dihadapkan pada realitas pahit Krisis Keuangan 1997-1998.

Kariernya dimulai di PT Zone Pratama (1994–1996) sebelum beralih ke jantung pasar modal di PT Transpacific Securindo (1996–1999).

Bekerja di divisi Corporate Finance saat badai krisis menghantam memberikan Jeffrey pelajaran berharga: pasar modal yang kuat tidak boleh hanya bergantung pada dana asing (capital flight). Pengalaman melihat runtuhnya indeks saham kala itu membentuk filosofinya tentang pentingnya membangun basis investor domestik yang tangguh, sebuah misi yang kelak ia wujudkan puluhan tahun kemudian.

Era Phintraco Sekuritas: Sang Pionir "Ritelisasi" Pasar Modal

Sebelum duduk di kursi direksi BEI, nama Jeffrey Hendrik identik dengan PT Phintraco Sekuritas. Selama 23 tahun (1999–2022) menjabat sebagai Direktur Utama, ia mengubah wajah investasi saham yang tadinya eksklusif menjadi inklusif.

Di bawah kepemimpinannya, Phintraco mencatat sejarah dengan strategi "jemput bola" yang agresif. Berikut adalah beberapa terobosan kuncinya:

  • Rekor MURI Galeri Investasi: Pada Mei 2018, Jeffrey memimpin pemecahan rekor MURI dengan mendirikan 100 Galeri Investasi yang tersebar di 43 kota, dari Aceh hingga Papua.
  • Investasi Masuk Pasar Tradisional: Ia mematahkan stigma saham hanya untuk orang kaya dengan membuka galeri investasi di pasar tradisional dan koperasi.
  • Inovasi Digital Syariah: Bekerja sama dengan mitra perbankan, ia meluncurkan sistem pembukaan rekening efek syariah online yang disimplifikasi, memudahkan investor di daerah terpencil untuk bergabung.

Gebrakan Sebagai Direktur Pengembangan BEI (2022–Sekarang)

Sejak diangkat sebagai Direktur Pengembangan BEI pada RUPS Tahunan Juni 2022, Jeffrey Hendrik langsung tancap gas. Fokus utamanya adalah akselerasi jumlah investor dan pendalaman pasar (market deepening).

1. Ledakan Jumlah Investor (SID)

Strategi edukasi masif yang diterapkan Jeffrey membuahkan hasil fantastis. Sebagaimana dilaporkan dalam rilis pers IDX, terjadi lonjakan signifikan:

Akhir 2024: 14,87 juta investor.

Januari 2026: Tembus 21,03 juta investor.

Duta Pasar Modal: Program andalan yang merekrut mahasiswa sebagai penyuluh literasi keuangan ini sukses mengedukasi jutaan masyarakat.

2. Meluncurkan Bursa Karbon (IDXCarbon)

Salah satu legacy penting Jeffrey adalah peluncuran IDXCarbon pada September 2023. Mengutip informasi dari situs resmi IDXCarbon, inisiatif ini dirancang untuk menyediakan transparansi harga dan infrastruktur perdagangan yang efisien. Di tahun pertamanya, bursa karbon Indonesia mencatat volume perdagangan yang signifikan, membuktikan komitmen BEI dalam mendukung target Net Zero Emission Indonesia.

3. Menghidupkan Produk Derivatif

Untuk investor yang lebih advanced, Jeffrey merevitalisasi produk derivatif agar pasar makin likuid:

  • Single Stock Futures (SSF): Diluncurkan dengan underlying saham blue chip seperti BBCA, BBRI, dan TLKM. Produk ini memungkinkan investor melakukan hedging (lindung nilai) saat pasar turun.
  • Produk Terstruktur: Memperkenalkan Kontrak Berjangka Indeks Asing (KBIA) berbasis MSCI Hong Kong.

Tantangan Short Selling dan Prinsip Syariah

Kepemimpinan Jeffrey juga diuji saat menavigasi isu sensitif terkait rencana intraday short selling. Menghadapi dinamika pasar dan kebutuhan akan likuiditas, Jeffrey mengambil pendekatan pragmatis.

Ia menegaskan segmentasi pasar yang jelas di BEI:

  • Investor Syariah: Dilindungi oleh sistem SOTS yang memblokir transaksi non-syariah (margin, short selling).
  • Investor Konvensional: Tetap diberikan akses ke fitur short selling untuk kebutuhan strategi trading dan likuiditas.

Sikap ini menunjukkan posisinya sebagai regulator yang inklusif, yakni memfasilitasi kebutuhan pasar global tanpa mengorbankan prinsip syariah bagi investor yang mematuhinya.

Jeffrey Hendrik memadukan visi masa depan dengan eksekusi lapangan yang kuat. Dari "blusukan" ke pasar tradisional saat memimpin sekuritas, hingga kini membawa BEI masuk dalam jajaran bursa global yang diperhitungkan, perannya sangat vital. 

Melansir data dari World Federation of Exchanges (WFE), inisiatif hijau dan pengembangan pasar yang dilakukan BEI telah menempatkan Indonesia sebagai pemain kunci dalam transisi ekonomi hijau di Asia Tenggara.

Bagi Anda investor saham, memahami siapa yang menakhodai pengembangan bursa memberikan keyakinan bahwa pasar modal Indonesia sedang bergerak ke arah yang lebih matang, likuid, dan inklusif.