periskop.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate pada Januari 2026 di level 4,75%, yang merupakan posisi terendah sejak 2022. Sejak September 2024, BI telah memangkas suku bunga total 150 basis poin (bps), terdiri dari 25 bps pada September 2024 dan 125 bps sepanjang 2025.
Menurut Perry, kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus memastikan stabilitas tetap terjaga.
"Kebijakan moneter Bank Indonesia terus diperkuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dengan tetap menjaga stabilitas perekonomian," jelas Perry dalam konferensi pers RDG Kamis (19/2).
Di sisi nilai tukar, ia menegaskan BI terus memperkuat stabilisasi rupiah melalui intervensi di pasar offshore lewat instrumen Non-Deliverable Forward (NDF), serta di pasar domestik melalui transaksi spot, Domestic NDF (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Ekspansi likuiditas rupiah juga terus ditempuh. Hal ini tercermin dari penurunan posisi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dari Rp916,97 triliun pada awal 2025 menjadi Rp819,50 triliun per 18 Februari 2026.
Selain itu, sebagai bentuk sinergi erat antara kebijakan moneter dan fiskal, BI telah membeli SBN sebesar Rp39,92 triliun sepanjang 2026 hingga 18 Februari, termasuk Rp20,23 triliun di pasar sekunder.
Perry menegaskan pembelian tersebut dilakukan sesuai mekanisme pasar, secara terukur dan transparan, serta tetap konsisten dengan upaya menjaga stabilitas dan kredibilitas kebijakan moneter.
"Pembelian SBN di pasar sekunder dilakukan sesuai mekanisme pasar, terukur, transparan, dan konsisten dengan program moneter dalam menjaga stabilitas perekonomian sehingga dapat terus menjaga kredibilitas kebijakan moneter," tutup Perry.
Tinggalkan Komentar
Komentar