periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Rabu 20 Mei 2026 berpotensi lanjutkan pelemahan. Proyeksi itu melanjutkan tren pelemahan IHSG yang telah berlangsung beberapa waktu terakhir, seiring pelemahan rupiah dan perkembangan kebijakan pemerintah di dalam negeri.

Sebelumnya, IHSG ditutup melemah di level 6,370.68 atau turun 3,46% pada perdagangan Selasa (19/5). Pelemahan IHSG akibat tekanan jual setelah beredarnya rumor bahwa pemerintah berencana untuk mengatur ekspor komoditas melalui satu badan khusus bentukan negara.

Sejumlah komoditas yang dirumorkan akan diatur diantaranya batu bara, CPO hingga mineral logam. Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran investor bahwa akan ada potensi pengendalian harga jual yang dapat berdampak pada penurunan marjin laba perusahaan. 

“Secara teknikal, IHSG ditutup di bawah level 6.400 dengan volume jual yang meningkat. Sehingga IHSG diperkirakan berpotensi  uji level support di 6.250-6.300,” ulas Tim Riset Phintraaco Sekuritas, Rabu (20/5).

Beberapa saham pilihan Phintraco Sekuritas yang menarik dicermati pada perdagangan hari ini, antara lain ASII, JPFA, AMRT, ULTJ dan BRIS.

Hari ini, Rabu (20/5) Presiden Prabowo berencana hadir di Rapat Paripurna DPR dan akan menyampaikan pidato tentang Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN Tahun Anggaran 2027. Ini merupakan pertama kalinya Kepala Negara langsung menyampaikan dokumen KEM-PPKF di hadapan DPR, yang biasanya disampaikan oleh Menteri Keuangan.

Selain itu investor mengantisipasi hasil RDG Bank Indonesia yang akan diumumkan hari ini. 

“Menurut konsensus, Bank Indonesia akan menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5%, dalam rangka untuk meredam pelemahan Rupiah. Sedangkan pertumbuhan kredit bulan April diperkirakan tumbuh 9.7% YoY dari 9.49% YoY di Maret 2026,” tulis riset yang sama.

Defisit APBN mencapai Rp164.4 triliun atau setara 0.64%  PDB per 30 April 2026, lebih rendah dibandingkan defisit pada Maret 2026 yang mencapai Rp240.1 triliun atau 0.93% PDB. Hal ini di antaranya ditopang oleh keseimbangan primer yang kembali mencatat surplus sebesar Rp28 triliun pada akhir April 2026 dari defisit Rp95.8 triliun di Maret 2026.

Pendapatan negara meningkat menjadi Rp918.4 triliun dari Rp574.9 triliun, namun belanja negara juga meningkat menjadi Rp1.082.8 triliun dari sebelumnya Rp815 triliun.