periskop.id - Gubernur Perry Warjiyo mengungkap alasan di balik posisi rupiah yang dinilai masih berada di bawah nilai wajarnya (undervalued). Ia menjelaskan, pergerakan nilai tukar tidak semata-mata ditentukan oleh kondisi ekonomi domestik, melainkan dipengaruhi dua faktor utama yakni fundamental ekonomi nasional dan tekanan teknikal dari dinamika global.

‎"Tentu saja ini yang kalau kita lihat pergerakan nilai tukar ada dua faktor yang utama yang berpengaruh yaitulah faktor fundamental," ucap Perry dalam konferensi pers RDG, Kamis (19/2). 

‎Dari sisi fundamental, Perry menilai indikator domestik seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta imbal hasil menunjukkan kondisi yang solid. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah seharusnya berada dalam tren yang lebih stabil bahkan cenderung menguat.

‎Namun demikian, ia mengakui adanya tekanan jangka pendek yang bersumber dari faktor teknikal dan peningkatan premi risiko global. Sentimen eksternal tersebut dinilai menjadi penyebab utama volatilitas nilai tukar belakangan ini.

‎"Pertanyaannya tentu saja faktor-faktor teknikal, faktor-faktor premie risiko yang khususnya terjadi di global memang kelihatan faktor-faktor ini yang memang menimbulkan tekanan-tekanan jangka pendek terhadap nilai tukar," jelasnya.

‎Sebagai respons, pihaknya meningkatkan intensitas intervensi di pasar valas, baik di pasar luar negeri melalui instrumen Non-Deliverable Forward (NDF) maupun di pasar domestik (spot). Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah agar tetap sejalan dengan fundamental ekonomi.

‎"Dan tentu saja ini terus kita lakukan bahwa dengan keyakinan ke depan nilai tukarnya akan stabil dan cenderung menguat mengarah kepada fundamental," tambah Perry. 

‎Selain intervensi, BI juga memperkuat strategi menarik aliran modal asing melalui penerbitan instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN). Upaya ini bertujuan meningkatkan arus masuk investasi portofolio guna menopang stabilitas nilai tukar.

‎"Dengan tentu saja bagaimana kita BI juga melakukan transaksi melalui SRBI dan juga SBN yang utamanya adalah bagaimana untuk menarik investasi portfolio asing," lanjutnya. 

‎Lebih lanjut, Perry mengungkapkan, dalam dua bulan terakhir tercatat aliran modal asing bersih (net inflow) yang masuk ke pasar domestik. Kondisi ini dinilai mendukung stabilitas rupiah, di tengah tetap terjaganya likuiditas dalam negeri yang tercermin dari pertumbuhan uang primer (M0) yang konsisten tumbuh dua digit.

‎"Dan alhamdulillah selama dua bulan ini investasi portfolio asing terus masuk, sudah ada net flow dan itu akan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dengan tetap tentu saja memastikan kecukupan likuiditas di dalam negeri sebagaimana tercermin pada pertumbuhan uang primer yang selalu double digit," Perry mengakhiri.