Periskop.id - Petani di Kelurahan Rorotan dan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara (Jakut), meminta agar pemerintah segera memperbaiki sistem drainase di wilayah mereka. Pasalnya, saluran air yang tidak memadai, membuat sawah terendam banjir hingga berbulan-bulan dan berujung pada gagal panen.

"Airnya tidak cepat buang. Kalau hujan gede, salurannya kecil, jadi tersumbat," kata salah satu petani yang bernama Sahali di Jakarta Utara, Rabu (28/1), seperti dilansir Antara.

Dia mengungkapkan, sekitar dua hektare lahan sawah yang dia kelola tidak menghasilkan panen sama sekali pada tahun ini. Tanaman padi rusak akibat terendam air dalam waktu lama, terutama saat curah hujan tinggi.

Menurut dia, genangan air yang berlangsung lama itu membuat padi membusuk dan diserang hama keong. Kondisi ini menyebabkan hasil pertanian tidak dapat dijual ke pasaran.

Hasil panen padi pun menurun 50% dari biasanya 12 ton menjadi hanya 6 ton akibat banjir yang menggenangi persawahan selama dua minggu, setelah diguyur curah hujan tinggi dan aliran kali irigasi yang tidak lancar

"Padinya lodoh, hancur. Jadi, ya, gagal panen, rugi," ucap Sahali.

Selain merugikan secara produksi, banjir juga berdampak terhadap pendapatan petani. Sahali menyebutkan harga gabah anjlok jauh dari harga normal.

"Biasanya, gabah dapat dijual Rp670 ribu-Rp680 ribu per kuintal, kini hanya dihargai sekitar Rp400 ribu per kuintal," ungkap Sahali.

Ia pun berharap pemerintah tidak hanya fokus pada penanganan banjir permukiman, tetapi juga memperhatikan lahan pertanian yang masih bertahan di wilayah Jakarta Utara.

Sahali menilai pembangunan jembatan atau pelebaran saluran air di sekitar sawah dapat menjadi solusi agar aliran air lebih lancar. "Yang penting airnya bisa jalan. Kalau dibikin jembatan atau saluran dibesarin, mungkin banjirnya tidak lama," ucap Sahali.

Ia juga mengharapkan sejumlah langkah konkret segera dilakukan agar kejadian serupa tidak kembali terulang dan aktivitas pertanian di kawasan pesisir Jakarta Utara dapat bertahan.

Susah Dipanen
Petani lainnya, Narsih, mengatakan, banjir telah merendam sawah yang dikelolanya setinggi 60 sentimeter (cm) hingga satu meter lebih. "Ya, begini, banjir. Ini segini (menunjukkan ukuran banjir setinggi dada). Kelelep sawah terendam soalnya, satu meter lebih," kata Narsih, Rabu (28/1).

Menurut dia, banjir tersebut membuat proses pengambilan padi jauh lebih sulit dibandingkan saat cuaca cerah atau musim kemarau. Pasalnya, petani harus masuk ke dalam air untuk mengambil padi yang siap panen.

"Sulit sekali. Enakan lagi kering. Kalau sekarang banjir begini, ambil padinya harus masuk dulu ke dalam air," ujar Narsih.

Dia menambahkan sebagian besar padi mengalami kerusakan akibat terendam air dalam waktu lama, dan ini berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi petani. "Rusak. Keadaan petani sekarang lagi anjlok," ucap Narsih.

Dia menyebutkan hujan deras yang turun selama beberapa hari terakhir menjadi penyebab utama banjir. Meski terdapat saluran air atau irigasi di sekitar sawah, volume air hujan yang tinggi membuat sistem pembuangan tidak mampu menampung aliran air.

"Saluran air ada, tapi hujannya banyak dan deras dari darat, jadi pembuangannya nggak nampung," jelas Narsih.

Lebih lanjut, dia juga mengungkapkan area sawah yang terdampak banjir cukup luas. "Banyak yang terdampak, tanaman padi jadi pada rusak," tuturnya. 

Dia pun mengharapkan perhatian dan penanganan dari pihak terkait untuk memperbaiki sistem drainase, agar banjir tidak terus berulang dan merugikan petani di kawasan tersebut.

Banjir Rob
Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengimbau, warga yang bermukim di kawasan pesisir Pantai Utara Jakarta agar waspada terhadap potensi banjir pesisir atau rob hingga 3 Februari 2026.

"Warga yang bermukim di kawasan pesisir pantai utara Jakarta diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir pesisir atau rob yang diperkirakan terjadi pada 27 Januari hingga 3 Februari 2026," kata Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Isnawa Adji di Jakarta, Rabu.

Peringatan tersebut dikeluarkan menyusul fenomena pasang maksimum air laut. Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Maritim Tanjung Priok, pasang maksimum air laut dipicu oleh fase bulan purnama yang bertepatan dengan kondisi perigee, yakni posisi bulan berada pada jarak terdekat dengan bumi.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tinggi muka air laut di wilayah pesisir dan menyebabkan banjir rob di sejumlah wilayah pesisir utara Jakarta. Isnawa menyebutkan puncak pasang maksimum itu diperkirakan terjadi pada pukul 05.00 hingga 11.00 WIB. 

"Fenomena pasang maksimum ini berpotensi memicu peningkatan tinggi muka air laut, sehingga masyarakat pesisir perlu meningkatkan kesiapsiagaan," ujar Isnawa.

Sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak banjir rob, antara lain meliputi Kamal Muara, Kapuk Muara, Penjaringan, Pluit, Ancol, Kamal, Marunda, Cilincing, Kalibaru, Muara Angke, Tanjung Priok, serta kawasan Kepulauan Seribu.

Isnawa menjelaskan, durasi pasang tinggi air laut diperkirakan dapat berlangsung selama beberapa hari berturut-turut. Oleh karena itu, BPBD DKI Jakarta mengimbau warga agar mewaspadai perubahan kondisi cuaca serta dinamika air laut yang dapat berubah dengan cepat.

Selain itu, Isnawa juga meminta masyarakat agar menghindari aktivitas di kawasan pesisir yang berisiko terdampak banjir rob, terutama saat puncak pasang. Warga juga harus memastikan sistem drainase di sekitar rumah tetap berfungsi dengan baik guna mencegah terjadinya genangan.

BPBD DKI Jakarta turut mengajak masyarakat untuk memantau informasi resmi melalui kanal digital pemerintah. Di antaranya laman Peringatan Dini Gelombang Pasang di bpbd.jakarta.go.id/gelombanglaut, aplikasi JAKI untuk pelaporan genangan, serta situs pantaubanjir.jakarta.go.id guna memperoleh pembaruan kondisi secara real-time.

"Layanan darurat gratis 112 juga telah disiapkan untuk merespons situasi darurat dan laporan masyarakat yang membutuhkan pertolongan," ungkap Isnawa.