Periskop.id - Provinsi DKI Jakarta ternyata masih bisa memproduksi sebanyak 876,77 ton beras sepanjang Januari-Desember 2025. Namun, jika dibandingkan dengan produksi tahun 2024 silan, jumlah produksi beras sepanjang 2025 turun sebanyak 482,80 ton.
"Dari hasil konversi padi gabah ke beras, produksi beras tahun 2025 turun sekitar 35,51% bila dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 1.359,57 ton," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, Kadarmanto di Jakarta, Senin (2/2).
Produksi beras tertinggi pada 2025 terjadi pada bulan Agustus, yaitu sebanyak 308,93 ton. Sementara itu, pada bulan Februari dan Maret tidak ada produksi beras.
Walau begitu, BPS DKI memproyeksikan potensi produksi beras di Jakarta tahun ini bisa mencapai 206,37 ton atau meningkat sekitar 139,83 ton dibandingkan produksi beras pada Januari-Maret 2025 yang sebesar 66,54 ton.
Sementara itu, realisasi luas panen padi di DKI Jakarta sepanjang Januari hingga Desember 2025 tercatat sekitar 273,54 hektare (ha). Jumlah ini turun sebesar 224,77 hektare (45,11%) dibandingkan pada tahun 2024, yaitu sebesar 498,31 hektare.
Jika dilihat perkembangan luas panen selama dua tahun terakhir, puncak luas panen tertinggi terjadi di bulan Agustus tahun 2024, yaitu sebesar 168,06 hektare. "Sedangkan di bulan Agustus 2025 itu sebesar 98,25 hektare," kata Kadarmanto.
BPS DKI memprakirakan potensi luas panen padi pada Januari-Maret 2026 bisa mencapai 74,22 hektare atau naik sekitar 49,83 hektare (204,30%) dibandingkan luas panen padi pada Januari-Maret 2025, yakni sebesar 24,39 hektare.
Kadarmanto menyampaikan, luas baku sawah (LBS) di DKI Jakarta hanya seluas 360 hektare, merupakan yang paling sempit dibandingkan luasan pertanian di provinsi lain.
Namun, dia optimistis melalui berbagai program pembinaan oleh dinas terkait, potensi ekonomi sektor tanaman pangan dapat semakin tinggi dan mampu mensejahterakan masyarakat petani di wilayah DKI Jakarta.
LBS sendiri merupakan salah satu komponen penting dalam penghitungan produksi padi yang ditetapkan sejak tahun 2019. LBS yang ditetapkan sebagai dasar penghitungan luas panen padi, baru diperbarui pada tahun 2024 oleh Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR/ BPN).
Banjir di Rorotan
Untuk diketahui, Kelurahan Rorotan dan Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara menjadi daerah yang menyumbang produksi beras terbanyak di Jakarta. Sayangnya, belum lama ini dikabarkan, belasan hektare sawah di wilayah tersebut terendam banjir, hingga menyebabkan tanaman padi rusak dan petani terancam gagal panen.
Salah satu petani yang bernama Narsih mengatakan banjir telah merendam sawah setinggi 60 sentimeter (cm) hingga satu meter lebih.
"Ya, begini, banjir. Ini segini (menunjukkan ukuran banjir setinggi dada). Kelelep sawah terendam soalnya, satu meter lebih," kata Narsih di Jakarta Utara, Rabu (28/1).
Menurut dia, banjir tersebut membuat proses pengambilan padi jauh lebih sulit dibandingkan saat cuaca cerah atau musim kemarau, karena petani harus masuk ke dalam air untuk mengambil padi yang siap panen.
"Sulit sekali. Enakan lagi kering. Kalau sekarang banjir begini, ambil padinya harus masuk dulu ke dalam air," ujar Narsih.
Dia menambahkan sebagian besar padi mengalami kerusakan akibat terendam air dalam waktu lama, dan ini berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi petani. "Rusak. Keadaan petani sekarang lagi anjlok," ucap Narsih.
Dia menyebutkan hujan deras yang turun selama beberapa hari terakhir menjadi penyebab utama banjir. Meski terdapat saluran air atau irigasi di sekitar sawah, volume air hujan yang tinggi membuat sistem pembuangan tidak mampu menampung aliran air.
"Saluran air ada, tapi hujannya banyak dan deras dari darat, jadi pembuangannya nggak nampung," jelas Narsih.
Lebih lanjut, dia juga mengungkapkan area sawah yang terdampak banjir cukup luas. "Banyak yang terdampak, tanaman padi jadi pada rusak," ucap Narsih.
Dia pun mengharapkan perhatian dan penanganan dari pihak terkait untuk memperbaiki sistem drainase, agar banjir tidak terus berulang dan merugikan petani di kawasan tersebut.
"Airnya tidak cepat buang. Kalau hujan gede, salurannya kecil, jadi tersumbat," kata Sahali, petani lainnya.
Dia mengungkapkan sekitar dua hektare lahan sawah yang dia kelola tidak menghasilkan panen sama sekali pada tahun ini. Tanaman padi rusak akibat terendam air dalam waktu lama, terutama saat curah hujan tinggi.
Menurut dia, genangan air yang berlangsung lama itu membuat padi membusuk dan diserang hama keong. Kondisi ini menyebabkan hasil pertanian tidak dapat dijual ke pasaran.
Hasil panen padi juga menurun 50%, dari biasanya 12 ton menjadi hanya 6 ton akibat banjir yang menggenangi persawahan selama dua minggu, setelah diguyur curah hujan tinggi dan aliran kali irigasi yang tidak lancer.
Tinggalkan Komentar
Komentar