Periskop.id - Kabar baik menyelimuti sektor pertanian Indonesia pada tahun 2025. Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mencatatkan performa produksi beras yang sangat impresif. 

Total produksi beras nasional sepanjang tahun 2025 berhasil menyentuh angka 34,69 juta ton.

Pencapaian ini menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 13,29% dibandingkan dengan total produksi tahun 2024 yang tercatat di angka 30,62 juta ton. 

Lonjakan ini mengindikasikan keberhasilan intensifikasi pertanian dan kondisi cuaca yang lebih mendukung bagi para petani di berbagai wilayah nusantara.

Puncak Panen dan Dominasi Wilayah Produksi

Siklus produksi beras di Indonesia mencapai titik tertingginya pada bulan Maret dan April 2025. Pada periode tersebut, produksi masing-masing bulan mencapai sekitar 5,23 juta ton, yang bertepatan dengan momentum puncak panen raya nasional.

Pulau Jawa masih menjadi tumpuan utama lumbung pangan nasional dengan menempatkan tiga provinsinya di urutan teratas. Berikut adalah lima provinsi dengan raihan produksi beras tertinggi pada tahun 2025:

  1. Jawa Timur: 6,03 juta ton
  2. Jawa Barat: 5,91 juta ton
  3. Jawa Tengah: 5,35 juta ton
  4. Sulawesi Selatan: 3,14 juta ton
  5. Sumatera Selatan: 2,08 juta ton

Sebaliknya, terdapat beberapa wilayah yang mencatatkan produksi beras sangat rendah, mayoritas berada di wilayah kepulauan dan daerah pemekaran baru di Papua. 

Daftar produksi terendah mencakup Papua Pegunungan (198 ton), Kepulauan Riau (394 ton), Papua Barat Daya (499 ton), DKI Jakarta (877 ton), serta Papua (1.061 ton).

Estimasi Konsumsi dan Analisis Surplus

Secara agregat nasional, Indonesia berada dalam posisi surplus beras. Dengan total produksi sebesar 34,69 juta ton dan estimasi konsumsi penduduk yang diprediksi mencapai 23,08 juta ton, terdapat cadangan beras yang cukup besar untuk menjaga stabilitas harga di pasar.

Estimasi konsumsi ini dihitung oleh Periskop menggunakan metodologi yang cukup komprehensif. Perhitungan didasarkan pada asumsi rata-rata konsumsi per kapita per minggu sebesar 1,56 kg (merujuk pada data konsumsi kabupaten/kota dari BPS). 

Angka tersebut kemudian dikalikan dengan estimasi jumlah penduduk di tiap provinsi tahun 2025, lalu diakumulasikan dalam hitungan 52 minggu untuk mendapatkan data tahunan.

Ketimpangan Pangan: Surplus vs Defisit Antar-Provinsi

Meskipun secara nasional mengalami surplus, terdapat ketimpangan yang nyata antara daerah produsen dan daerah konsumen. Berikut adalah wilayah yang mencatatkan persentase surplus tertinggi:

  • Papua Selatan: 364,04%
  • Sulawesi Selatan: 304,21%
  • Sumatera Selatan: 187,46%
  • Lampung: 141,95%
  • Sulawesi Tengah: 112,05%

Di sisi lain, beberapa provinsi mengalami defisit beras yang sangat tajam, yang berarti kebutuhan pangan mereka sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah. 

DKI Jakarta menempati posisi teratas wilayah dengan defisit tertinggi mencapai 99,90% karena keterbatasan lahan pertanian di wilayah ibu kota. Wilayah lain yang mengalami defisit tinggi adalah Papua Pegunungan (99,84%), Kepulauan Riau (99,78%), Papua Barat Daya (99,03%), dan Papua (98,78%).