Periskop.id - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo meminta jajarannya, untuk menertibkan terminal-terminal bayangan di wilayah ibu kota.

“Untuk terminal-terminal bayangan yang lebih ramai, akan kami tertibkan,” kata Pramono di Glodok, Jakarta Barat, Selasa (3/3).

Pramono pun mengimbau kepada masyarakat yang akan mudik ke kampung halaman agar menggunakan terminal secara resmi. “Kecuali yang mendapatkan persetujuan atau izin dari Pemerintah DKI Jakarta. Seperti Monas begitu, itu bisa digunakan,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Terminal Bus Kalideres Nur Prasetyo juga mengimbau pemudik agar tidak menggunakan terminal bayangan sebagai titik awal keberangkatan. Menurutnya, naik bus dari terminal bayangan memiliki risiko tinggi, terutama terkait ketidakjelasan harga tiket yang berpotensi dimainkan oleh calo yang bermain harga tiket.

"Takutnya mereka (di terminal bayangan) itu dapat harga yang tidak sesuai. Karena kan kita tidak bisa memonitor berapa harga tiket yang dijual di luar," tuturnya. 

Selain pertimbangan harga, keselamatan dan keamanan penumpang juga tidak terjamin jika berangkat dari lokasi ilegal. Berbeda dengan di terminal resmi yang melakukan uji kelaikan bus atau ramp check dan pemeriksaan kesehatan sopir, bus yang berangkat dari terminal bayangan sering kali luput dari pengawasan.

Nur pun meminta masyarakat mematuhi peraturan perundang-undangan, dengan naik dan turun di terminal yang telah ditetapkan.

Sepi Penumpang
Sebelumnya, awak bus di Terminal Kalideres, Jakarta Barat mengeluhkan penurunan jumlah penumpang, beberapa waktu belakangan. Salah satu kru bus jurusan Palembang dan Surabaya, Joni, menyebut, sepinya penumpang di dalam terminal resmi disebabkan oleh adanya terminal bayangan dan agen bus ilegal yang beroperasi di sepanjang jalan arteri.

"Di terminal ini jauh, banyak kan agen-agen bayangan," ujar Joni.

Menurutnya, banyak penumpang yang diduga sengaja diarahkan oleh agen, untuk naik dari agen-agen tidak resmi di sepanjang Jalan Daan Mogot hingga Grogol. Keberadaan terminal bayangan, kata dia, sudah sangat meresahkan karena membuat agen resmi yang beroperasi di terminal menjadi sepi penumpang.

Namun, ia mempertanyakan masih minimnya penindakan dari pemerintah maupun Dinas Perhubungan DKI Jakarta. "Nah, dari sini terang aja ya, kenapa agen bayangan semua merajalela, mulai Daan Mogot ini sampai ke Grogol. Tapi enggak digubris sama orang pemerintah itu, Dishub itu gimana? Mau dibawa ke mana kita ini?," keluhnya.