Periskop.id - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta resmi meluncurkan logo peringatan lima abad Jakarta yang akan digunakan sebagai identitas, dalam rangkaian perayaan menuju 500 tahun Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengatakan, logo tersebut dipilih melalui proses seleksi dari sejumlah karya yang mengikuti sayembara.

“Dari 10 yang mengikuti lomba, kemudian menjadi lima dan akhirnya diputuskan satu yang menjadi keputusan,” kata Pramono di Balai Kota, Jakarta, Selasa (10/3). 

Kendati demikian, dia tidak menjelaskan alasan logo tersebut akhirnya terpilih di antara 10 logo yang mengikuti sayembara. Dia mengatakan logo tersebut segera disosialisasikan oleh seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), serta jajaran pejabat di lingkungan Pemprov DKI Jakarta.

“Saya juga sudah langsung meminta kepada seluruh OPD, kemudian BUMD, dan semua pejabat di lingkungan Pemerintah DKI Jakarta untuk membantu mensosialisasikan logo ini,” ujar Pramono.

Dia menegaskan penggunaan logo lima abad Jakarta itu, tidak akan menggantikan identitas atau slogan yang sudah ada sebelumnya di Jakarta. Logo tersebut hanya digunakan khusus untuk menyambut peringatan 500 tahun Jakarta yang puncaknya akan digelar pada 2027.

“Ini bukan seperti yang dulu-dulu, kemudian mengubah yang lain. Ini hanya memang logo khusus untuk menyambut lima abad Jakarta,” ungkap Pramono.

Seperti diketahui, puncak peringatan lima abad Jakarta dijadwalkan berlangsung pada 22 Juni 2027. Pemprov DKI Jakarta menyiapkan berbagai rangkaian kegiatan untuk menyambut momentum bersejarah tersebut. 

Titik Temu

Sebelumnya, Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta bekerjasama dengan berbagai pihak menyiapkan 500 lokasi untuk menyambut perayaan lima abad atau 500 tahun Kota Jakarta.

Budayawan Hilmar Farid mengatakan, kegiatan di 500 titik tersebar di 267 kelurahan di Jakarta, mengusung konsep "Titik Temu". Kegiatan ini melibatkan seluruh aspek masyarakat termasuk perkumpulan warga dan komunitas.

"Jadi yang dilibatkan teman-teman di akar rumput, komunitas, perkumpulan warga, RW, RT dan seterusnya, untuk mulai menggerakkan kegiatan-kegiatan menyambut 500 tahun di tahun 2027," katanya.

Kegiatan yang diadakan bukan hanya menampilkan kesenian, tetapi juga mengangkat isu-isu kebudayaan yang menyentuh kehidupan warga sehari-hari. Hal ini sejalan dengan karakter Jakarta sebagai kota plural yang menghadapi beragam persoalan, mulai dari utilitas, lingkungan hingga keamanan.

"Jakarta ini kan sangat plural, ada persoalan air bersih, sampah, keamanan dan seterusnya. Ini yang semua kami berusaha rangkum dan mencari tempat untuk bisa membicarakan semua," ujar Hilmar.

Dia berharap "Titik Temu" bukan hanya tentang kesenian tetapi kebudayaan secara umum. Melalui kegiatan seperti itu, rasa kepemilikan warga terhadap kegiatan peringatan 500 tahun Jakarta diharapkan akan semakin kuat.