periskop.id - Di sebuah sudut rumah, sebuah koper baru berdiri membisu. Koper itu seharusnya menjadi saksi perjalanan liburan Nur Ainia Eka Rahmadhyna (32), karyawati Kompas TV, yang berencana mengambil cuti pada bulan Juli mendatang untuk berkunjung ke Malang. Namun, koper itu kini tak akan pernah terbuka lantaran menjadi saksi bisu dari rencana perjalanan yang pupus dalam tragedi di Stasiun Bekasi Timur.
Senin malam (27/4) itu seharusnya menjadi perjalanan pulang biasa bagi Ainia. Pukul 20.20 WIB, ia masih sempat mengirim pesan singkat kepada adik laki-lakinya untuk menjemput di stasiun. Itulah komunikasi terakhir sang tulang punggung keluarga sebelum maut menjemput.
Hary Marwata, ayah Ainia, mengenang detik-detik mencekam saat keluarga pertama kali mendengar kabar kecelakaan tersebut. Sejak Senin malam hingga Selasa pagi (28/4), Hary harus bergelut dengan ketidakpastian karena nama putrinya tidak kunjung ditemukan dalam daftar korban luka.
"Senin malamnya kita langsung cari info sampai pagi Ainia nggak ada di data-data korban luka. Sampai Selasa siang baru kita menuju ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati, ternyata Ainia ada di sana. Ketemunya siang di Rumah Sakit Kramat Jati dengan kondisi TKMD (Tanda-Tanda Kematian Dini),” kata Hary usai pemakaman sang anak di Tambun Selatan, Rabu (29/4).
Kepedihan Hary sedikit terobati dengan banyaknya dukungan dari rekan kerja Ainia di Kompas TV. Baginya, dedikasi Ainia yang baik selama bekerja membuat banyak pihak merasa kehilangan, bahkan tokoh-tokoh penting di pemerintahan turut datang bertakziah.
"Alhamdulillah dari Kompas TV, teman-teman kerjanya banyak yang ngurus, karena mungkin Ainia dedikasinya baik di Kompas dan jadi orang baik. Sampai Bapak Gubernur, Bapak Bupati, Camat, semua bisa datang ke rumah juga,” tuturnya.
Di mata Hary, Ainia adalah putri yang sangat mandiri dan berbakti. Sejak Hary pensiun, Ainia praktis menjadi penopang ekonomi keluarga.
"Ya... sedikit banyak bisa dibilang tulang punggung. Karena ayahnya kebetulan sudah pensiun,” ujarnya.
Ainia dikenal sebagai pribadi yang "cerewet" demi kebaikan adik-adiknya, tetapi memiliki hati sangat penyayang. Tak hanya bagi keluarga, kasih sayang Ainia meluap hingga ke hewan-hewan.
Hary menceritakan Ainia sering memberi makan kucing-kucing liar di lingkungan rumah maupun di tempat kerjanya.
"Penyayang adik-adiknya dan sampai ke hewan peliharaan, banyak kucing yang dikasih makan. Sampai di kantor pun banyak ngasih makanan ke kucing. Di rumah sekarang ada tiga kucing yang masuk, kadang-kadang yang di luar juga dikasih,” kenangnya.
Hary paling mengenang sifat Ainia yang tidak pernah mau merepotkan orang tua. Bahkan, saat berangkat kerja yang biasanya dimulai pukul 09.00 atau 10.00 WIB, ia selalu pergi dengan tenang.
"Banyak kenangan nggak bisa disebut satu-satu. Dia anaknya nggak banyak ngerepotin. Kalau berangkat pagi nggak pernah bangunin orang tua, tahu-tahu sudah pamit berangkat jam 3 sore, ya sudah,” ungkapnya.
Bagi Hary, kenangan yang paling menyesakkan adalah rencana liburan keluarga yang tak pernah terwujud. Ainia sudah menyiapkan segalanya untuk berkunjung ke tempat sepupu dan adiknya di Malang.
"Ya dia sebetulnya mau ambil cuti, liburan, pengen jalan-jalan sama sepupunya, adiknya yang di Malang. Bahkan sudah nyiapin koper, sudah beli, belum sempat dipakai. Itu aja yang belum kesampaian,” ujarnya.
Sang tulang punggung kini telah beristirahat, meninggalkan koper yang masih terkunci rapat dan kenangan tentang anak yang baik, pekerja keras, serta penyayang bagi seluruh keluarganya.
Tinggalkan Komentar
Komentar