periskop.id - Bagi Nur Ainia Eka Rahmadhyna, gerbong khusus wanita adalah ruang privasi yang paling ia sukai saat menempuh perjalanan jauh dari kantornya di Jakarta menuju kediamannya di Bekasi. Pilihan atas rasa aman itu kini menyisakan ironi pedih bagi para sahabat yang mengenangnya.
"Dia (Ainia) lebih nyaman... memang kadang kita menyesali kenapa dia selalu di gerbong wanita, tapi memang menurut dia nyaman di sini," kata sahabat dekatnya, Irmawati Wulandari (35) atau akrab disapa Wulan, usai pemakaman Ainia di Tambun Selatan, Rabu (29/4).
Wulan masih ingat betul percakapan mereka saat naik kereta bersama. Ia sempat mengajak Ainia pindah ke gerbong tengah yang biasanya lebih longgar. Namun, Ainia menolak dengan alasan kenyamanan.
"Ayo ke tengah yuk kalau misal naik kereta bareng. Dia bilang, 'Enggak Mbak, enggak suka, nanti ada orang begini-begini, di sini aja, kayak aman lah'," kenang Wulan menirukan ucapan sahabatnya itu.
Kecemasan bermula pada Senin (27/4) malam. Wulan menyadari ada yang tidak beres saat pesan singkatnya hanya menunjukkan centang dua tanpa respons, sedangkan panggilan teleponnya terus berdering tanpa jawaban.
Karena tidak memiliki nomor telepon keluarga Ainia, Wulan berinisiatif menelusuri jejak digital. Ia mencari akun Facebook ibu Ainia yang kebetulan tidak diprivasi untuk mendapatkan kontak orang tua sahabatnya. Melalui sambungan telepon itulah, Wulan mendapati kenyataan bahwa keluarga pun tengah dilanda kegelisahan yang sama.
"Bapak di rumah sama ibu sama adik satu lagi. Adiknya, Ian, sudah ke stasiun," tutur Wulan.
Tanpa mempedulikan waktu, Wulan segera bergerak membantu pencarian. Sejak pukul 01.00 dini hari hingga menjelang subuh, ia menyisir rumah sakit dan berakhir di Posko Bekasi Timur. Sementara itu, Ian, adik Ainia, terus mencari kabar di RSUD Bekasi, RS Siloam, hingga RS Mitra.
Di tengah kepanikan, Wulan masih sempat mengingat detail terakhir penampilan sahabatnya: Ainia mengenakan baju berwarna ungu muda atau pink keunguan, celana jeans abu-abu, dan jilbab putih.
"Harapannya Ainia pingsan di rumah sakit mana yang tidak terdeteksi, kita masih berharap begitu," ungkapnya.
Titik terang yang menyedihkan muncul pada Selasa (28/4) siang. Pihak keluarga dan kantor diarahkan menuju Rumah Sakit Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi. Sekitar pukul 15.00 WIB, penantian panjang itu berakhir dengan rilis resmi dari Polri yang mengonfirmasi identitas Ainia sebagai salah satu korban jiwa.
“Sekitar jam 11 sampai jam... pokoknya diinterogasi, ditanya sampai jam 3 baru ada kabar. ‘Iya benar itu (Ainia dalam keadaan tak sadarkan diri)’, tapi tunggu rilis dari Polri. Sampai akhirnya rilis nama 10 itu,” ungkap Wulan.
Wulan dan Ainia bukan sekadar rekan kerja; mereka adalah kawan seperjuangan sejak masa kuliah di Universitas Multimedia Yogyakarta hingga meniti karier bersama di Jakarta pada 2015. Meski Wulan telah mengundurkan diri pada 2021, silaturahmi mereka tidak pernah putus melalui media sosial dan grup percakapan.
Ainia dikenal sebagai pribadi mandiri, tidak pernah mengeluh, dan mendedikasikan seluruh hasil kerja kerasnya untuk keluarga.
"Pokoknya niatnya dia itu kerja buat keluarganya," kenang Wulan.
Tragedi ini juga memutus janji temu yang seharusnya terjadi usai Lebaran. Ainia sempat berencana main ke rumah Wulan untuk menengok bayi sahabatnya, jika jadwal kerjanya sudah longgar. Bagi Ainia, perjalanan pulang-pergi selama empat jam setiap hari adalah perjuangan melelahkan, tetapi ia jalani demi bakti kepada orang tua.
Kini, Wulan hanya bisa mendoakan sahabatnya dari kejauhan.
“Kami sudah mengikhlaskan (Ainia), ini yang terbaik, yang penting ketemu, insyaallah syahid," tutup Wulan.
Tinggalkan Komentar
Komentar