periskop.id - Tekanan jual dari investor asing yang mencapai sekitar Rp75 triliun secara year-to-date. Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman menjelaskan, hal itu menjadi salah satu pemicu utama pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir, dari level 6.200 ke kisaran 5.300.
Fanny mengungkapkan bahwa aksi net sell asing banyak terjadi pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar, seperti BBCA, BBRI, dan BMRI.
“Meski dalam beberapa hari terakhir saham sektor perbankan mulai menunjukkan penguatan dan ikut mendorong rebound IHSG, tekanan yang terjadi sebelumnya tergolong cukup dalam,” kata Fanny dalam keterangannya, Senin (15/6).
Mengacu pada data RTI per 10 Juni 2026, secara year-to-date saham BBCA telah turun sekitar 30%, BBRI melemah 21%, BMRI terkoreksi 16%, dan BBNI juga turun 21%.
BNI Sekuritas menilai bahwa pelemahan saham perbankan lebih dipengaruhi oleh faktor makroekonomi, terutama tekanan terhadap nilai tukar Rupiah, dibandingkan dengan kondisi fundamental industri perbankan.
Untuk menahan pelemahan Rupiah, pemerintah telah mengambil sejumlah langkah, termasuk menaikkan BI Rate secara kumulatif sebesar 75 basis poin, yakni 50 bps pada 20 Mei dan 25 bps pada 9 Juni 2026. Setelah kebijakan tersebut, Rupiah mulai menunjukkan penguatan dan kembali bergerak di bawah level Rp18.000 per dolar AS, yang turut memberikan sentimen positif bagi pasar saham.
“Dalam kondisi suku bunga tinggi saat ini, BNI Sekuritas melihat BBCA sebagai bank yang paling diuntungkan berdasarkan analisis sensitivitas, dengan target valuasi di kisaran Rp8.700,” ujar Fanny.
Jika penguatan Rupiah berlanjut, sektor perbankan dinilai berpotensi menjadi pilihan investasi yang menarik. Koreksi harga saham yang terjadi belakangan juga telah mendorong peningkatan 1-year forward dividend yield ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. BMRI, BBRI, dan BBNI menawarkan yield di kisaran 11–12%, sementara BBCA berada di sekitar 6,4%, yang semuanya berada di atas rata-rata historisnya.
Secara teknikal, IHSG akan berupaya kembali menembus level 6.000. Namun apabila gagal melampaui resistance kuat di level tersebut, IHSG masih berpeluang untuk kembali terkoreksi ke kisaran 5.400–5.750.
“Sebaliknya, apabila IHSG berhasil break di atas 6.000 dan ditopang oleh masuknya aliran dana asing (foreign inflow), terdapat peluang bagi IHSG untuk bergerak menuju level 6.250–6.600," tutup Fanny.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar