Periskop.id - Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mengingatkan masyarakat terkait fenomena El Nino ekstrem yang dapat menimbulkan dampak serius terhadap Kesehatan. Terutama bagi populasi rentan, seperti anak-anak dan lansia.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati mengatakan, El Nino ekstrem dapat menyebabkan kenaikan suhu signifikan yang meningkatkan risiko heatstroke, dehidrasi, serta memperberat penyakit kronis, seperti jantung dan paru.
“Pada saat yang sama, kualitas udara yang menurun, termasuk peningkatan partikulat halus, berkontribusi terhadap lonjakan kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut),” kata Ani dalam keterangan di Jakarta, Kamis (30/4).
Dia mengatakan, risiko kesehatan lain yang mungkin terjadi, salah satunya, yakni gangguan pernapasan. Kemarau panjang, kata dia, dapat menyebabkan polusi udara meningkat sehingga memperburuk kondisi pernapasan. Seperti munculnya asma dan penyakit saluran pernapasan lainnya, serta berisiko menimbulkan penyakit kulit.
Menurut Ani, suhu udara yang tinggi dan kelembaban yang rendah dapat menyebabkan kulit menjadi kering dan rentan terhadap iritasi. Untuk menghindari dampak negatifnya, warga Jakarta dapat melakukan beberapa hal, seperti minum air yang cukup untuk menghindari dehidrasi.
Kemudian, menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan untuk mengurangi paparan polusi udara. Kemudian usahakan untuk menghindari beraktivitas di luar ruangan saat suhu udara sangat tinggi, terutama antara pukul 11.00-15.00 WIB.
Selain itu, gunakan pelindung diri, seperti topi atau payung apabila berada di luar ruangan, serta menggunakan tabir surya dengan SPF yang tinggi untuk melindungi kulit dari paparan sinar UV.
“Pantau juga informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG (Badan Meteorologi dan Geofisika) untuk mengetahui kondisi cuaca terkini,” imbau Ani.
April – September
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengingatkan jajarannya, untuk bersiap mengantisipasi potensi dampak fenomena El Nino terhadap perekonomian ibu kota.
“Secara resmi BMKG sudah menyampaikan bahwa El Nino akan dimulai pertengahan April sampai dengan September. Artinya, ini cepat atau lambat pasti akan memengaruhi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta,” ujar Pramono di Balai Kota, Kamis.
Menurut dia, kondisi El Nino dapat memengaruhi berbagai sektor, mulai dari ketersediaan pangan hingga stabilitas harga di pasar. Selain dampak El Nino, Pramono juga mengingatkan jajaran untuk bersiap menghadapi tantangan di tengah tekanan global lainnya, seperti konflik geopolitik Amerika-Israel dan Iran yang berpotensi mengganggu rantai pasok dan harga energi.
Oleh karena itu, ia meminta Pemprov DKI Jakarta untuk menyiapkan langkah antisipasi, terutama dalam jangka pendek guna menjaga stabilitas ekonomi daerah. Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, Pramono tetap optimistis ekonomi Jakarta dapat dijaga.
“Pemerintah DKI Jakarta harus mengambil langkah-langkah untuk jangka pendek mengatasi itu,” ungkap Pramono.
Ia menyebut, sejumlah indikator makro saat ini masih menunjukkan tren positif. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi Jakarta tercatat mencapai 5,21% atau berada di atas rata-rata nasional.
Di sisi lain, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) mendorong pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta berada pada kisaran 6,3-7,4% pada tahun 2027, untuk dapat mewujudkan target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6,3-7,5%.
"Kami berharap DKI Jakarta bisa mendorong pertumbuhannya pada 2027 pada kisaran 6,3-7,4% yang disertai dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, penurunan kemiskinan dan juga pengangguran serta ketimpangan," kata Deputi Bidang Ekonomi dan Transformasi Digital Kementerian PPN Vivi Yulaswati.
Tinggalkan Komentar
Komentar