periskop.id - Pernahkah Anda mendengar istilah Godzilla El Nino? Istilah ini merujuk pada cuaca ekstrem yang diprediksi akan mengintai Indonesia pada 2026. Kondisi ini diprediksi akan semakin parah karena berbarengan dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif, sebuah kombinasi yang secara efektif mengusir awan hujan dan memicu kemarau panjang. Dampak utamanya adalah ancaman krisis pangan akibat risiko gagal panen massal dan terganggunya siklus tanam nasional. 

Apa Itu Godzilla El Nino?

Secara teknis, El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Namun, ketika intensitasnya berada jauh di atas normal, bahkan menjadi salah satu yang terkuat sejak tahun 1950, ia mendapatkan julukan "Godzilla".

Profesor Riset dari Pusat Penelitian Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menjelaskan bahwa fenomena ini berpotensi meningkatkan suhu global sekitar 1,5 hingga 2 derajat Celsius. Meski kenaikannya terasa bertahap, tetapi dampaknya akan terasa seiring penguatan fenomena yang dimulai dari awal kemunculannya.

Mengapa Indonesia Terancam Kekeringan?

Saat Godzilla El Nino terjadi, awan-awan hujan yang seharusnya membasahi wilayah Indonesia justru tertarik dan berkumpul di Samudra Pasifik. Akibatnya, Indonesia kehilangan potensi curah hujan secara drastis.

Kondisi ini diprediksi akan semakin parah karena berbarengan dengan fenomena IOD positif. Jika El Nino memicu pemanasan suhu laut di Samudra Pasifik yang menarik awan menjauh, IOD positif justru menyebabkan suhu laut di sekitar Sumatra dan Jawa mendingin sehingga awan hujan sulit terbentuk.

Kombinasi keduanya menjadi duet maut yang mengusir hujan dari langit Indonesia. Dampaknya, musim kemarau akan tiba lebih awal, bertahan lebih lama, dan membawa suhu panas yang jauh lebih menyengat dari biasanya.

Prediksi Waktu dan Wilayah Terdampak

Berdasarkan data dari BRIN, sinyal kemunculan Godzilla El Nino diperkirakan mulai terlihat jelas pada April 2026. Meskipun pada akhir Maret hujan masih sering turun, intensitasnya akan berkurang tajam saat memasuki bulan April.

Namun, dampaknya tidak akan merata di seluruh nusantara:

  • Wilayah Selatan Ekuator (Jawa dan Sumatra): Akan mengalami fase kemarau kering yang ekstrem. Risiko kekeringan lahan, suhu udara panas, dan kebakaran hutan menjadi ancaman nyata di sini.
  • Wilayah Utara Ekuator (Sebagian Kalimantan dan Sumatra Utara): Uniknya, wilayah ini justru berpotensi mengalami hujan tinggi yang bisa memicu banjir.

Dampak terhadap Ketahanan Pangan dan Sektor Pertanian

Salah satu dampak yang paling mengkhawatirkan adalah ketahanan pangan. Kemarau yang lebih panjang dan kering otomatis mengganggu siklus tanam petani. Cadangan air di waduk akan menyusut, yang jika tidak dimitigasi sejak dini, dapat memicu gagal panen massal dan kenaikan harga bahan pokok.

Selain itu, suhu udara yang lebih panas dari biasanya tentu akan memengaruhi kesehatan masyarakat dan meningkatkan konsumsi energi listrik.